6 Resolusi Keuangan 2026, Gak Muluk-Muluk tapi Menyehatkan Dompet

- Nabung 10 persen lebih banyak daripada biasanya
- Mengurangi frekuensi belanja offline dan online
- Nyicil utang semampumu daripada tidak sama sekali
Apa saja resolusi yang sudah dibuat olehmu untuk menyambut tahun baru? Dari sekian banyak daftarnya, apakah kamu telah memasukkan target-target keuangan? Bukan sembarang target finansial, melainkan resolusinya mesti realistis.
Sebab jika resolusi keuangan yang dibikin ketinggian pasti gak bakal terlaksana. Padahal, mengatur dan membangun fondasi keuangan yang kokoh butuh konsistensi. Gak bisa jika dirimu mudah capek dalam merealisasikan resolusi finansial yang terlalu berat buat keadaanmu sekarang.
Poin-poinnya tidak dapat disamakan dengan resolusi keuangan orang lain. Lebih baik resolusi yang cukup sederhana, tapi terlaksana daripada muluk-muluk dan cuma ditulis. Kalau resolusimu seperti di bawah ini kayaknya cukup gampang diwujudkan. Bahkan sejak Januari!
1. Nabung 10 persen lebih banyak daripada biasanya

Kalau kamu ingin menambah tabungan di tahun yang baru, berhitunglah dengan cermat. Tentu dirimu suka bila saldo cepat bertambah. Akan tetapi, jika target setoran per bulan menjadi dua kali lipat atau lebih pasti memberatkan.
Kamu tetap punya banyak kebutuhan yang mesti dibiayai. Bahkan menambah pos saving 50 persen dari biasanya saja barangkali dirimu hanya tahan 1 atau 2 bulan. Mending ekstra uang yang hendak disimpan gak terlalu banyak, tapi bisa konsisten.
Misal, dirimu biasanya menabung 100 ribu rupiah. Mulai Januari tambah 10 persennya menjadi 110 ribu rupiah. Tambahannya memang gak gede. Akan tetapi, kamu dapat dengan mudah terus melakukannya sepanjang tahun. Dirimu gak merasa lagi berhemat sekali.
2. Mengurangi frekuensi belanja offline dan online

Tenang, kamu gak dilarang berbelanja kok. Bahkan bukan cuma belanja kebutuhan pokok yang mau tidak mau memang harus tetap dibeli. Dirimu hendak membeli beberapa barang keinginan juga boleh.
Namun, frekuensi belanja dalam sebulan dikurangi, ya. Misal, kamu bisa tanpa sadar belanja nyaris setiap hari. Ada saja ini itu yang tiap hari dibawa pulang. Meski kelihatannya tak terlalu mahal tetap saja signifikan menambah pengeluaran di akhir bulan.
Turunkan frekuensi belanja. Contoh, tadinya kamu setiap hari pasti mampir minimarket. Sekarang cukup 2 hari sekali. Jajanan buat besok dibeli sekalian. Tanpa terasa nanti kamu lebih hemat.
Bila setiap hari belanja, selalu ada produk yang gak dibutuhkan atau diinginkan tetap masuk keranjang. Belanja online pun sama. Cukup sekali sebulan di tanggal kembar atau tambah satu kali lagi saat ada promo gajian. Bukan tiap buka aplikasi harus ada yang di-checkout.
3. Nyicil utang semampumu daripada tidak sama sekali

Untukmu yang masih punya utang, resolusi juga harus mencakup hal ini. Meski dari segi keuangan belum memungkinkan buatmu melunasinya, cicilan harus tetap jalan. Sekalipun pinjamannya ke saudara atau teman dan tanpa bunga.
Bahkan gak ada kesepakatan soal waktu pelunasannya. Utang begini sangat sering diremehkan. Itu yang akan membuat utangmu gak lunas-lunas atau kamu melupakannya. Di tahun baru dirimu mesti tertib mencicilnya semampumu.
Jika pemberi pinjaman gak tega menerima cicilanmu yang kecil-kecil, cicil di rumah. Kamu bisa memakai celengan khusus untuk mengumpulkan uang cicilan. Setelah jumlahnya lumayan baru diberikan ke pemberi utang.
4. Sebaliknya, perlu juga lebih hati-hati dan tegas dalam meminjamkan uang

Resolusi keuangan bukan hanya buat orang yang berutang. Kalau kamu di posisi yang kerap kasih pinjaman juga tetap perlu punya target finansial. Kebiasaan terlalu gampang meminjamkan uang malah mengancam kesehatan finansialmu.
Daripada tahun depan keuanganmu makin berantakan, ayo beranikan diri buat lebih tegas. Ketika ada orang mau pinjam duit, bilang saja seandainya kamu lagi gak bisa kasih utang. Kalaupun dirimu hendak memberi pinjaman mungkin gak sebesar permintaannya.
Ini buat mengantisipasi peminjam kurang bertanggung jawab dalam membayarnya. Jangan lupa untuk tetap memberi batas waktu pembayaran. Supaya dia gak berbuat semaunya sendiri serta memprioritaskan pembayaran pinjaman.
5. Rutin sedekah seikhlasmu

Gak apa-apa kalau belakangan kamu sadar punya masalah soal sedekah. Dirimu merasa berat sekali untuk mengeluarkan sejumlah uang buat kegiatan sosial. Bahkan ketika kamu melihat orang susah, ada perasaan hidupmu juga belum kaya.
Biar saja derita ditanggung masing-masing orang. Atau, dirimu berpikir pasti ada orang lain yang nanti membantunya. Dirimu tidak perlu turun tangan. Padahal, bersedekah bukan tentang ada orang lain yang melakukannya atau gak.
Ini terkait kewajibanmu selama kamu memiliki kemampuan. Orang lain bersedekah juga atau tidak gak usah diurusi. Kamu bisa melatih keikhlasan sekaligus kedermawanan dengan berbagi semampumu. Nanti setelah dirimu merasakan nikmatnya berbagi pasti bakal ketagihan.
6. Bersikap di pertengahan soal uang

Bersikap di pertengahan soal uang maksudnya menghindari pandangan ekstrem yang membuat keputusan keuanganmu gak bijak. Contoh, pandangan mumpung masih muda, gaji dihabiskan untuk bersenang-senang juga gak masalah. Masa muda harus dipakai buat mencari pengalaman.
Keluar biaya itu biasa. Sekuat apa pun pendapat ini di lingkungan pergaulanmu, kamu tak perlu mengikutinya. Demikian pula pandangan ekstrem kebalikannya. Hampir semua uang mesti ditabung.
Lupakan kesenangan daripada kamu menderita di masa depan. Jangan lagi bimbang seakan-akan dirimu harus mengikuti salah satunya. Bersikaplah tenang dan teguh dalam pendirian buat hidup secukupnya saja. Kamu tetap menikmati hasil kerja kerasmu, tapi tidak boros apalagi sampai habis-habisan.
Resolusi tidak untuk memberatkanmu dalam melaksanakannya. Apalagi terkait keuangan. Bagaimanapun juga, setiap hari dirimu membutuhkan uang buat berbagai keperluan. Jika resolusi finansial begitu muluk pasti gak bakal terlaksana.


















