Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Literasi Keuangan makin Penting pada Tahun 2026

ilustrasi mengelola keuangan
ilustrasi mengelola keuangan (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Pola penghasilan yang fleksibel membutuhkan pemahaman keuangan untuk mengatur arus masuk dan keluar uang secara realistis.
  • Kenaikan biaya hidup menuntut pemahaman tentang inflasi dan perencanaan anggaran yang terkendali.
  • Maraknya layanan keuangan digital memerlukan literasi keuangan untuk menggunakan fitur digital secara sadar dan menghindari keputusan impulsif.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tahun 2026 menjadi periode penting bagi banyak orang dalam konteks mengelola uang. Perubahan ekonomi global terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari harga kebutuhan hingga cara orang bertransaksi. Tanpa pemahaman dasar keuangan, keputusan kecil bisa berdampak panjang pada kondisi finansial pribadi.

Literasi keuangan tidak lagi hanya soal menabung atau mencatat pengeluaran. Cara orang mendapatkan penghasilan, berutang, dan berinvestasi kini jauh lebih beragam. Kondisi ini membuat kemampuan memahami keuangan menjadi kebutuhan praktis, bukan sekadar pengetahuan tambahan. Berikut lima alasan literasi keuangan makin penting pada tahun 2026.

1. Perubahan pola penghasilan yang semakin fleksibel

ilustrasi freelance
ilustrasi freelance (pexels.com/Vlada Karpovich)

Di tahun 2026, pola kerja tidak lagi harus terpaku dengan gaji bulanan tetap. Banyak orang mengandalkan proyek lepas, usaha digital, atau kombinasi beberapa sumber pendapatan. Tanpa literasi keuangan, penghasilan yang tidak stabil sering kali terasa besar di awal namun cepat habis tanpa perencanaan yang jelas serta kebiasaan belanja yang kurang terkontrol dari waktu ke waktu.

Pemahaman keuangan membantu kita untuk mengatur arus masuk dan keluar uang secara lebih realistis. Penting untuk mencacat secara detail setiap penghasilan yang kita dapatkan. Dengan dasar ini, pendapatan yang fleksibel justru bisa memberi rasa aman, bukan kecemasan dalam menghadapi kebutuhan mendadak maupun perubahan kondisi ekonomi.

2. Kenaikan biaya hidup yang semakin terasa

ilustrasi menghitung struk belanja
ilustrasi menghitung struk belanja (pexels.com/Kaboompics)

Kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi hal yang semakin sering dibicarakan. Biaya makan, tempat tinggal, dan transportasi terus bergerak naik seiring waktu. Tanpa pemahaman tentang inflasi, banyak orang merasa gaji naik tetapi kondisi keuangan tetap terasa sempit dalam jangka panjang meskipun pendapatan terlihat bertambah di atas kertas.

Literasi keuangan membantu kita untuk melihat gambaran besar dari perubahan harga tersebut. Perencanaan anggaran yang menyesuaikan kondisi nyata membuat pengeluaran lebih terkendali. Kesadaran ini juga mendorong kebiasaan belanja yang lebih bijak dan tidak impulsif saat menghadapi kebutuhan harian maupun pengeluaran tak terduga.

3. Maraknya layanan keuangan digital

ilustrasi dompet digital
ilustrasi dompet digital (unsplash.com/Christiann Koepke)

Layanan keuangan berbasis aplikasi semakin mendominasi aktivitas harian. Pembayaran cashless, pinjaman digital, dan investasi melalui fintech kini bisa diakses dalam hitungan menit. Kemudahan ini sering kali membuat orang mengambil keputusan tanpa benar-benar memahami risikonya. Proses yang cepat dapat membuat pertimbangan menjadi tidak rasional dan memengaruhi kondisi finansial ke depan.

Dengan literasi keuangan, setiap fitur digital bisa digunakan secara lebih sadar. Pemahaman bunga, biaya layanan, dan konsekuensi jangka panjang menjadi kunci penting. Teknologi akhirnya berfungsi sebagai alat bantu, bukan sumber masalah baru yang memicu beban keuangan akibat keputusan tergesa tanpa perhitungan matang.

4. Risiko penipuan dan keputusan impulsif

ilustrasi pria yang sedang stres
ilustrasi pria yang sedang stres (freepik.com/tonodiaz)

Semakin berkembang dunia keuangan, semakin beragam pula bentuk penipuan. Modus yang digunakan sering dibungkus dengan cerita meyakinkan dan janji keuntungan cepat. Tanpa literasi keuangan, banyak orang sulit membedakan peluang nyata dan scam yang dirancang secara halus untuk menekan emosi dan rasa takut kehilangan.

Pemahaman dasar keuangan melatih pola pikir yang lebih kritis dan tenang. Kebiasaan mengecek logika penawaran dan memahami risiko membantu menghindari keputusan yang merugikan. Dengan literasi yang baik, kewaspadaan menjadi bagian alami dalam setiap keputusan finansial tanpa harus dilandasi rasa curiga berlebihan atau kecemasan.

5. Tekanan gaya hidup dan konsumsi digital

ilustrasi belanja online
ilustrasi belanja online (pexels.com/AS Photography)

Tekanan gaya hidup semakin kuat di era media sosial, terutama dari konten sosial media yang menampilkan standar hidup serba ideal. Tren belanja, liburan, dan barang populer terus bermunculan dan mudah memicu pengeluaran impulsif tanpa perencanaan matang. Tanpa literasi keuangan, kebutuhan sering bercampur dengan keinginan yang tidak benar benar penting.

Literasi keuangan membantu membangun kesadaran tentang prioritas hidup dan tujuan jangka panjang. Setiap pengeluaran dilihat sebagai pilihan, bukan kewajiban sosial yang harus diikuti. Dengan pemahaman ini, kontrol keuangan menjadi lebih kuat meskipun tekanan konsumsi terus meningkat.

Perubahan ekonomi, teknologi, dan gaya hidup membuat pengelolaan uang menjadi keterampilan dasar yang perlu dimiliki semua orang. Tanpa pemahaman yang cukup, risiko kesalahan finansial semakin besar. Sebaliknya, literasi keuangan makin penting pada tahun 2026 karena akan memberi arah serta kejelasan dalam mengambil keputusan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Business

See More

4 Tips Mengurangi Potongan Biaya Admin di Rekening Debit

02 Jan 2026, 00:28 WIBBusiness