ilustrasi kedua wanita berbincang (pexels.com/brettsayles)
Jika merasa terjebak sebagai crisis friend, kamu gak perlu langsung menjauhi teman yang sering curhat. Jonathan Goelz menegaskan bahwa menetapkan batasan bukan berarti memutus hubungan, melainkan menjaga keseimbangan agar kamu tetap bisa peduli tanpa mengorbankan kebutuhan sendiri.
Selain menetapkan batasan, Judy Serfaty menyarankan agar kamu membantu teman mencari solusi tanpa harus mengambil alih masalahnya. Kamu bisa menanyakan langkah yang ingin mereka ambil atau menyarankan dukungan profesional jika diperlukan. Davis juga menyarankan perubahan pola pikir agar kamu gak terus merasa bertanggung jawab menyelamatkan orang lain.
“Saya menyarankan untuk mengganti pertanyaan ‘Bagaimana cara saya menyelesaikan masalah ini?’ dengan ‘Bagaimana saya bisa tetap hadir dan mendampingi mereka sementara mereka mencari jalan keluar dari masalah ini?’” ujar Davis.
Lalu, bagaimana jika teman menjauh setelah kamu mulai berani mengatakan tidak? Serfaty mengingatkan bahwa kamu gak seharusnya terus menjadi penyelamat hanya demi mempertahankan hubungan. Meski begitu, jika teman menghadapi ancaman bahaya yang mendesak, Goelz menyarankan untuk menghubungkannya dengan layanan darurat atau tenaga profesional.
Menjadi teman yang baik bukan berarti kamu harus selalu siap menampung semua masalah orang lain hingga lupa pada diri sendiri. Ingat, kamu juga berhak didengarkan dan dihargai, bukan hanya dicari saat orang lain sedang butuh bantuan.