Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Selalu Jadi Tempat Curhat saat Teman Krisis? Bisa Jadi Kamu Crisis Friend
ilustrasi kedua wanita berbincang (pexels.com/brettsayles)
  • Crisis friend adalah sosok yang terutama dicari saat teman menghadapi krisis, tetapi jarang dihubungi ketika keadaan mereka baik, sehingga relasi berisiko menjadi tidak seimbang.
  • Tandanya meliputi mengetahui semua masalah teman tanpa mengenal keseharian mereka, merasa wajib merespons, mengorbankan rencana pribadi, serta mengabaikan kebutuhan sendiri.
  • Menetapkan batasan tidak berarti memutus pertemanan; tetap dampingi teman mencari solusi, tanpa mengambil alih masalah atau merasa harus selalu menjadi penyelamat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak kamu selalu jadi tempat curhat teman saat mereka menghadapi masalah, mulai dari putus cinta hingga konflik keluarga? Kamu sigap mendengarkan dan memberi saran, tetapi mereka kembali menghilang setelah masalahnya selesai. Jika situasi ini familier, bisa jadi kamu adalah crisis friend, sosok yang selalu dicari saat orang lain berada dalam masa sulit.

Menjadi teman yang suportif memang baik, tetapi bagaimana jika kamu hanya dicari saat dibutuhkan? Yuk, kenali tanda-tanda crisis friend, alasan di baliknya, dan cara menetapkan batasan tanpa kehilangan kepedulian terhadap orang lain.

1. Apa itu crisis friend?

ilustrasi menyapa teman (pexels.com/amina-filkins)

Secara sederhana, crisis friend adalah sosok yang selalu diandalkan saat orang lain menghadapi masalah, mulai dari mencari tempat bercerita hingga meminta saran dan solusi. Menurut Jonathan Goelz, pekerja sosial klinis berlisensi, dikutip dari HuffPost, mereka biasanya dicari saat seseorang mengalami kehilangan besar atau krisis, tetapi jarang dihubungi ketika hidup orang yang mencari sedang baik-baik saja.

“Pada dasarnya, ‘teman krisis’ adalah seseorang yang biasanya didatangi orang lain ketika mereka mengalami kehilangan yang sangat berat atau keadaan hidup yang kacau, tetapi biasanya tidak dihubungi ketika segala sesuatunya berjalan baik,” jelas Goelz.

Pola ini terlihat ketika teman hanya menghubungi saat menghadapi masalah, lalu menghilang setelah keadaan membaik. Menjadi tempat curhat bukanlah hal buruk, tetapi menurut Goelz, persahabatan menjadi tidak sehat ketika satu pihak terus membutuhkan pertolongan, sementara pihak lain selalu berperan sebagai penyelamat.

2. Tanda seseorang menjadi crisis friend

ilustrasi bercengkrama dengan teman (pexels.com/yaroslav-shuraev)

Salah satu tanda crisis friend adalah kamu mengetahui hampir semua masalah teman, tetapi gak banyak tahu tentang kehidupan mereka di luar masalah tersebut. Dikutip dari HuffPost, Giulia P. Davis, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, menjelaskan bahwa pola ini bisa menunjukkan persahabatan yang mulai gak seimbang.

“Salah satu indikatornya adalah hal-hal yang justru tidak ada dalam hubungan itu. Kamu mengetahui masalah keluarga mereka, masalah pekerjaan mereka, kisah putus cinta mereka, dan sebagainya. Kamu telah menyaksikan mereka melewati setiap krisis tersebut. Namun, kamu bahkan tidak bisa mengingat bagaimana mereka menghabiskan waktu akhir pekan lalu hanya untuk bersenang-senang,” kata Davis.

Tanda lainnya adalah merasa bertanggung jawab atas emosi teman, mengorbankan rencana pribadi, dan bersalah saat menolak permintaannya. Mengutip HuffPost, Judy Serfaty, Direktur Klinis The Freedom Center, menjelaskan bahwa kondisi ini juga bisa membuatmu terus memikirkan percakapan yang telah berlalu, kesal saat ponsel berbunyi, hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri demi orang lain.

“Kamu bahkan mungkin merasa kesal setiap kali ponselmu berdering dan merasa bersalah ketika kamu tidak menjawabnya. Kamu mungkin menghabiskan waktu berjam-jam untuk memikirkan kembali percakapanmu dengan teman-teman, bahkan lama setelah percakapan itu berakhir, lalu menyadari bahwa kamu terus-menerus menunda pemenuhan kebutuhanmu sendiri,” jelas Serfaty.

3. Kenapa seseorang bisa terjebak menjadi crisis friend?

ilustrasi dua wanita berbincang (pexels.com/divinetechygirl)

Seseorang bisa menjadi crisis friend karena memiliki empati tinggi, bisa diandalkan, dan mampu menenangkan orang lain saat menghadapi masalah. Namun, menurut Jonathan Goelz, kebiasaan ini juga bisa muncul karena seseorang belajar bahwa menjadi sosok yang berguna adalah cara mempertahankan kedekatan dalam hubungan.

“Hal ini bisa berkembang dari empati alami dan sifat dapat diandalkan yang kamu miliki. Namun, sebagian orang mungkin mengembangkan kecenderungan ini karena mereka belajar bahwa menjadi orang yang berguna adalah cara untuk mempertahankan kedekatan dengan orang lain,” jelas Goelz.

Akibatnya, seseorang bisa merasa harus selalu membantu agar tetap dianggap penting. Bahkan, ketika orang lain sudah mandiri dan gak lagi membutuhkan bantuannya, ia mungkin merasa kehilangan peran atau khawatir hubungan mereka akan merenggang.

4. Dampak menjadi crisis friend

ilustrasi menghibur teman yang sedih (pexels.com/karolinagrabowska)

Awalnya, menjadi tempat curhat bisa membuatmu merasa dipercaya dan dibutuhkan. Namun, jika terus-menerus mengutamakan masalah orang lain, kamu bisa kelelahan secara emosional hingga mengabaikan kebutuhan sendiri. Menurut Giulia P. Davis, salah satu tandanya adalah merasa gentar saat teman tertentu menghubungimu, bukan sekadar khawatir terhadap keadaannya.

“Jika kamu secara rutin membatalkan rencanamu sendiri, kehilangan waktu tidur, mengabaikan hubunganmu yang lain, atau merasa bersalah ketika tidak segera merespons, kemungkinan besar peran tersebut sudah menuntut terlalu banyak darimu,” jelas Davis.

Judy Serfaty juga menjelaskan bahwa peran sebagai crisis friend bisa membuat persahabatan menjadi gak seimbang. Kamu selalu hadir saat teman menghadapi masalah, tetapi belum tentu mendapat kesempatan yang sama untuk bercerita atau mencari dukungan.

“Seiring berjalannya waktu, kebutuhan untuk selalu hadir dan memberikan solusi atas masalah orang lain, bisa menjadi sesuatu yang tidak lagi dapat dibedakan dari perasaan dihargai,” kata Serfaty.

Dampaknya gak hanya terasa secara emosional, tetapi juga fisik. Serfaty menjelaskan bahwa panggilan atau pesan dari teman bisa memicu ketegangan karena kamu mengantisipasi munculnya masalah baru. Sementara itu, Davis mengingatkan bahwa percakapan yang intens belum tentu menandakan kedekatan yang sehat.

5. Cara menetapkan batasan tanpa harus memutus pertemanan

ilustrasi kedua wanita berbincang (pexels.com/brettsayles)

Jika merasa terjebak sebagai crisis friend, kamu gak perlu langsung menjauhi teman yang sering curhat. Jonathan Goelz menegaskan bahwa menetapkan batasan bukan berarti memutus hubungan, melainkan menjaga keseimbangan agar kamu tetap bisa peduli tanpa mengorbankan kebutuhan sendiri.

Selain menetapkan batasan, Judy Serfaty menyarankan agar kamu membantu teman mencari solusi tanpa harus mengambil alih masalahnya. Kamu bisa menanyakan langkah yang ingin mereka ambil atau menyarankan dukungan profesional jika diperlukan. Davis juga menyarankan perubahan pola pikir agar kamu gak terus merasa bertanggung jawab menyelamatkan orang lain.

“Saya menyarankan untuk mengganti pertanyaan ‘Bagaimana cara saya menyelesaikan masalah ini?’ dengan ‘Bagaimana saya bisa tetap hadir dan mendampingi mereka sementara mereka mencari jalan keluar dari masalah ini?’” ujar Davis.

Lalu, bagaimana jika teman menjauh setelah kamu mulai berani mengatakan tidak? Serfaty mengingatkan bahwa kamu gak seharusnya terus menjadi penyelamat hanya demi mempertahankan hubungan. Meski begitu, jika teman menghadapi ancaman bahaya yang mendesak, Goelz menyarankan untuk menghubungkannya dengan layanan darurat atau tenaga profesional.

Menjadi teman yang baik bukan berarti kamu harus selalu siap menampung semua masalah orang lain hingga lupa pada diri sendiri. Ingat, kamu juga berhak didengarkan dan dihargai, bukan hanya dicari saat orang lain sedang butuh bantuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article