ilustrasi refleksi dan penerimaan diri (pexels.com/ ArtHouse Studio)
Salah satu hal yang membuat takut gagal terasa berat adalah ketika sebuah kegagalan dianggap sebagai bukti bahwa diri sendiri gak cukup baik. Kritik terhadap pekerjaan bisa terasa seperti kritik terhadap pribadi, sementara target yang gak tercapai dianggap sebagai tanda bahwa kemampuan diri memang rendah. Cara berpikir seperti ini membuat setiap kesalahan terasa jauh lebih besar daripada kejadian sebenarnya.
Cobalah menggunakan bahasa yang lebih spesifik ketika sesuatu gak berjalan sesuai rencana. Alih-alih mengatakan, “Aku memang gak mampu,” kamu bisa melihatnya sebagai, “Cara yang aku pakai kali ini belum berhasil.” Perubahan cara melihat masalah memang sederhana, tetapi membantu memisahkan identitas diri dari satu kejadian sehingga kamu masih punya ruang untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan mencoba lagi.
Takut gagal sebenarnya bukan sesuatu yang harus selalu dilawan sampai hilang. Rasa khawatir bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang dianggap penting, sehingga wajar kalau keputusan tertentu terasa menegangkan. Yang perlu diperhatikan adalah ketika rasa takut tersebut mulai menentukan semua pilihan dan membuat seseorang terus berada di tempat yang sama.
Maju bukan berarti selalu yakin bahwa semuanya akan berjalan lancar. Kadang, keberanian justru terlihat ketika seseorang tetap mengambil langkah setelah mempertimbangkan risiko, meski belum punya kepastian tentang apa yang akan terjadi. Dari sana, pengalaman baru bisa memberi gambaran yang jauh lebih nyata daripada sekadar menebak-nebak kemungkinan buruk di dalam kepala.