"Aku ngelihat ada orang-orang yang mereka tuh tulus buat ngebantuin masyarakat di sana. Pada saat itu karena aku juga lagi mode survive, aku gak bisa yang langsung terjun langsung. Jadi aku inisiasi sama teman-teman buat menggalang dana."
Sesilia Agnes: Perjalanan Menemukan Nilai Diri Lewat Aksi Sosial

Jakarta, IDN Times - Banyak perempuan tumbuh dengan pertanyaan yang sama, meski tidak selalu diucapkan, yaitu 'aku punya nilai apa, ya?' Pertanyaan itu bisa muncul kapan saja, saat melamar pekerjaan atau saat ingin mencoba hal baru. Ada rasa ragu yang menahan, semacam bisikan kecil yang mempertanyakan apakah diri ini cukup layak untuk melangkah. Apakah pengalaman yang dimiliki sudah cukup. Apakah kehadiran seseorang benar-benar akan membuat perbedaan.
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, ia adalah tanda bahwa seseorang peduli. Peduli pada dampak yang ingin ditinggalkan, pada orang-orang yang ingin dibantu. Lalu di saat yang sama, masih berusaha berdamai dengan gambaran dirinya sendiri. Sesilia Agnes tahu betul rasanya. Sebelum ia menginjakkan kaki di lapangan dan menjadi social volunteer yang terjun langsung ke lokasi bencana dan pelosok negeri, ia pernah berdiri di titik yang sama. Mempertanyakan dirinya sendiri, merasa belum yakin apakah ia punya sesuatu yang cukup berharga untuk dibagikan kepada orang lain.
Namun perjalanannya justru membuktikan sesuatu yang sederhana tapi dalam. Bahwa nilai diri itu tak selalu ditemukan dari pencapaian yang terlihat atau pengakuan yang datang dari luar. Kadang, ia ditemukan justru saat seseorang memilih untuk hadir, tulus, dan memberi tanpa mengharapkan apa pun sebagai gantinya. Itulah yang Agnes temukan hingga akhirnya membersamai perjalanannya sampai saat ini, dan ia sampaikan secara langsung kepada IDN Times pada Rabu (11/3/2026) di Lippo Mall Nusantara, Jakarta Selatan. Yuk, selami kisah dan perjalanan Agnes lebih dalam!
1. Titik berangkat Agnes bermula dari suatu postingan

Pada 2020 silam, pandemi membuat kehidupan banyak orang di ambang ketidakpastian. Tentunya, semua orang tengah sibuk bertahan hidup. Di sisi lain, Agnes justru menemukan sesuatu yang menggerakkannya. Sebuah unggahan dari akun Instagram organisasi kemanusiaan Cakra Abhipraya tentang banjir bandang di Masamba, Sulawesi, membuatnya berhenti sejenak di tengah scroll-nya. . Di sana, ia melihat orang-orang yang dengan tulus turun membantu masyarakat terdampak, tanpa peduli dunia sedang dalam mode panik.
Agnes sadar ia belum bisa terjun langsung saat itu. Tapi diam pun terasa bukan pilihan. Bersama teman-temannya, ia menginisiasi penggalangan dana secara online untuk disalurkan ke masyarakat Masamba. Langkah kecil itu, yang mungkin terlihat sederhana, ternyata menjadi titik awal dari perjalanan panjang yang belum ia bayangkan sebelumnya.
Dari satu postingan yang mungkin terlewat begitu saja oleh kebanyakan orang, Agnes memilih untuk berhenti dan melakukan sesuatu. Terkadang, kepedulian memang dimulai dari hal sesederhana itu.
2. Dari layar ke lapangan

Setelah penggalangan dana tersebut, Agnes tak berhenti di situ. Ia memutuskan untuk bergabung resmi sebagai anggota Cakra Abhipraya, organisasi yang pertama kali menarik perhatiannya lewat satu postingan di tengah pandemi. Dari sana, perjalanannya ke lapangan dimulai secara bertahap. Mulai dari pembagian sembako di Pulau Seribu, lalu turun ke lokasi gempa Cianjur, hingga akhirnya mendapat kesempatan menjadi volunteer di Papua.
Setiap langkah membawanya lebih jauh, bukan hanya secara geografis, tapi juga secara personal. Bersama Cakra Abhipraya, Agnes ikut terlibat dalam pembangunan sekolah alam di Papua, sebuah proyek yang kini sudah berdiri dan berjalan. Perjalanan yang dimulai dari layar ponsel itu pelan-pelan berubah menjadi pengalaman nyata yang meninggalkan jejak dalam dirinya.
"Aku daftar dulu jadi anggota di organisasi itu. Kebetulan ada kegiatan-kegiatan yang kita lakuin kayak pembagian sembako di Pulau Seribu. Jadi gak yang langsung ke bencana alam. Nah, setelah itu baru dapat kesempatan ke bencana alam waktu ada gempa di Cianjur."
Hal menarik dari perjalanan Agnes adalah bagaimana ia memilih untuk tidak terburu-buru. Ia memulai dari yang kecil, konsisten, dan membiarkan setiap pengalaman membawanya ke langkah berikutnya secara alami.
3. Sebelum menjadi social volunteer, ada berbagai pertarungan batin yang terjadi

Sebelum akhirnya berkecimpung lebih dalam menjadi social volunteer, ada satu pertarungan yang Agnes hadapi sendirian, pertarungan dengan dirinya sendiri. Keinginan untuk terjun ke dunia sosial ada, tapi di sisi lain muncul keraguan yang gak mudah untuk diredam. Ia mempertanyakan apakah dirinya layak, apakah ia punya sesuatu yang berarti untuk dibagikan kepada orang lain.
Pertanyaan-pertanyaan itu familiar bagi banyak perempuan. Rasa tak cukup yang muncul justru saat ingin melakukan sesuatu yang baik. Namun bagi Agnes, jawabannya datang bukan dari luar, bukan juga dari validasi atau pengakuan orang lain. Melainkan dari proses itu sendiri. Semakin ia terlibat, semakin ia menyadari bahwa nilai itu memang sudah ada dalam dirinya sejak awal.
Ia mengatakan, "Sempatlah insecure-insecure kayak daftar jadi anggota salah satu volunteer mereka bisa gak ya, kayak emang apa keunggulan aku? Emang aku punya nilai apa yang bisa aku share? Ternyata selama ini aku gak sadar aja bahwa ya sebenarnya ada."
4. Papua dan momen yang tak akan terjadi dua kali

Di distrik Walaik, Papua, Agnes mengajar hal-hal yang selama ini ia anggap biasa. Cara berhitung, urutan memakai seragam sekolah, hingga kebiasaan mencuci tangan dan menjaga kebersihan diri. Hal-hal yang terasa begitu sederhana di kota ternyata adalah pengalaman baru bagi anak-anak di sana. Momen-momen kecil itu menjadi suatu hal yang berharga dan bermakna bagi Agnes.
Tapi momen yang paling membekas bukan di dalam kelas. Suatu hari, Agnes duduk bersama mama-mama setempat dan merangkai buket bunga bersama mereka. Para mama itu menyambutnya dengan hangat, memperkenalkan budaya mereka, bahkan memakaikan Agnes baju khas daerah bernama Sali. Di tengah kesederhanaan itu, Agnes merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, sebuah kehadiran yang tulus, dari dan untuk satu sama lain.
"Aku ngerasa kayak, wah, ini momen mahal sih. Momen mahal yang akan aku ceritain ke anak-anakku nanti. Kayak gak akan terjadi dua kali mungkin. Kalau aku ceritain itu masih merinding, karena emang benar-benar aku ngerasa memberi itu adalah suatu kehadiran," ujar Agnes.
5. Memberi bukan tentang seberapa besar, namun seberapa tulus

Dari semua pengalaman yang Agnes lalui, ada satu pelajaran yang ia bawa pulang dan terus ia pegang sampai sekarang. Bahwa memberi gak harus selalu dalam skala besar. Gak harus berupa materi yang melimpah atau pencapaian yang bisa dipamerkan. Hal yang jauh lebih penting adalah niat di baliknya dan kesediaan untuk benar-benar hadir, bukan sekadar secara fisik, tapi juga secara emosional.
Agnes juga menegaskan bahwa ia gak pernah ingin menempatkan dirinya sebagai 'penyelamat' dalam setiap kegiatan sosial yang ia ikuti. Baginya, peran yang paling bermakna adalah menjadi seperti keluarga bagi mereka yang ia temui, seseorang yang mau mendengarkan dan memahami apa yang benar-benar mereka butuhkan.
"Memberi itu gak melulu harus besar, hal-hal yang menurut kita kecil itu, selagi kita tulus dan hadir untuk memberi, makna memberinya jadi lebih berarti. Ketulusan sama kehadiran sih yang aku pelajarin terbesar. Bahwa ketika kita memberi kita harus tulus dan hadir. Ketika kita benar-benar tulus dan hadir mau jadi saudaranya mereka, mendengarkan apa yang mereka mau, itu menjadi suatu pelajaran besar buat aku," katanya.
6. Tumbuh menjadi perempuan yang memilih dirinya sendiri

Perjalanan Agnes di dunia aksi sosial pada akhirnya bukan hanya tentang membantu orang lain. Namun juga menjadi cermin bagi Agnes untuk lebih memahami dirinya sendiri sebagai perempuan. Di tengah berbagai ekspektasi dan standar yang kerap dilekatkan pada perempuan, Agnes percaya bahwa setiap perempuan berhak menentukan arah hidupnya sendiri, bukan berdasarkan apa yang orang lain inginkan atau harapkan.
Baginya, menjadi perempuan berdaya bukan tentang memenuhi definisi tertentu. Ini tentang keberanian untuk mengenali nilai diri dan memberi ruang untuk bertumbuh. Proses itu gak selalu mudah dan Agnes pun mengakui bahwa ia masih terus belajar. Tapi justru di situlah kekuatannya, pada keberanian untuk tetap melangkah meski belum sepenuhnya yakin.
"Perempuan tuh gak melulu harus jadi apa yang orang mau. Kita harus bisa memilih akan kehidupan kita sendiri mau seperti apa. Karena kalau kita gak bisa menjadi apa adanya kita, mencintai diri kita, kita jadi kehilangan arah," pungkasnya.
Bagi Agnes, perjalanan menemukan nilai diri bukan tentang pencapaian yang bisa dilihat orang lain. Ia menemukannya justru di tempat-tempat yang jauh dan di antara orang-orang yang mengajarkannya bahwa ketulusan serta kehadiran adalah bentuk pemberian yang paling berharga.