Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perjalanan Floresiana Yasmin Merayakan Motherhood melalui Komik Ibu

Perjalanan Floresiana Yasmin Merayakan Motherhood melalui Komik Ibu
Floresiana Yasmin Indriasti, ilustrator dan founder Komik Ibu (dok. Floresiana Yasmin)
Intinya Sih
  • Floresiana Yasmin Indriasti meninggalkan dunia korporat dan menemukan jalannya sebagai ilustrator lewat akun Instagram @komik_ibu, yang lahir dari pengalaman personalnya menjalani fase motherhood.
  • Komik Ibu menjadi medium Yasmin untuk menyalurkan keresahan, refleksi, dan proses healing sebagai ibu, sekaligus mengingatkan bahwa para ibu tidak sendirian menghadapi tantangan peran mereka.
  • Dari proyek pribadi, Komik Ibu berkembang menjadi ruang berbagi inspiratif melalui kelas kreatif, kolaborasi dengan psikolog, hingga produk planner yang membantu ibu mengenal diri dan menghargai proses bertumbuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Dari sekian banyak peran dalam hidup, menjadi ibu merupakan pekerjaan mulia yang gak semua orang bisa lakukan. Perjalanan menjadi ibu bukan suatu hal yang mudah ditempuh. Transisi itu gak selalu manis dan rapi seperti apa yang tampak di media sosial.

Ada hal yang harus dikorbankan. Ada rasa lelah, kebingungan, bahkan tak jarang peran ini menjadikan seorang perempuan merasa ‘kehilangan’ dirinya sendiri. Sebagai ibu dua orang anak, Floresiana Yasmin Indriasti menemukan cara untuk merayakan sekaligus memaknai fase tersebut lewat ilustrasi komik.

Yasmin bukan sekadar ibu rumah tangga biasa. Berkat bakatnya dalam menggambar, perempuan yang disapa Yasmin ini, menjadi ilustrator dan kerap membagikan karyanya dalam bentuk komik kecil di Instagram dengan akun @komik_ibu. Apa yang dibagikannya dan mengapa ia mengangkat tema motherhood? Ini dia obrolan hangatnya dengan IDN Times.

1. Awal perjalanan Yasmin dari dunia korporat hingga menjadi ilustrator

Floresiana Yasmin Indriasti, ilustrator dan founder Komik Ibu (dok. Floresiana Yasmin)
Floresiana Yasmin Indriasti, ilustrator dan founder Komik Ibu (dok. Floresiana Yasmin)

Perjalanannya sebagai ilustrator baru dimulai tahun 2021. Sebelumnya, Yasmin adalah pekerja profesional di bidang marketing analyst, corporate planning, hingga social entreprise. Saat itu, ada kerinduannya supaya bisa memiliki jam kerja yang fleksibel supaya bisa benar-benar menyeimbangkan diri untuk mengurus keluarga dan pekerjaan.

Yasmin mengaku sulit mencari pekerjaan yang fleksibel, apalagi di era pandemik melanda. Namun, pandemik justru membukakan lahan baru untuknya berkarya sebagai ilustrator. Sebagaimana yang kerap dialami masyarakat saat itu, ia merasa stres terpaksa harus berdiam diri di rumah untuk mencegah tertularnya COVID-19.

“Aku bikin kegiatan sendiri. Setiap hari, aku akan menggambar minimal lima menit atau sepuluh menit. Terus, aku unggah di Instagram. Tapi bukan gambar komik, masih ilustrasi,” ceritanya kepada IDN Times pada Jumat (20/2/2026) secara daring.

Ia baru mendapatkan komisi sebagai ilustrator ketika diajak berkolaborasi dengan salah satu temannya untuk membuat pola atau motif kain baju anak-anak. Kegiatan inilah yang ia tekuni sampai sekarang. Yasmin masih membuka komisi atau pekerjaan yang gak berhubungan dengan ‘ibu’. 

“Karena kehidupanku dekat dengan kehidupan seorang ibu, pada suatu hari aku menggambar situasi sekelilingku. Tentang gimana ibu Work From Home (WFH), terus di sekitarnya ada anak-anak yang ngompol, anak-anak yang main, dalam bentuk poster, bukan komik,” katanya.

Perlahan, format ilustrasinya mulai berubah. Sebagai penggemar komik, Yasmin memilih format ilustrasi digital dan komik pendek. Semua cerita yang relevan dengan ibu atau pemikiran-pemikiran terhadap suatu hal, ia tuangkan lewat @komik_ibu.

2. Komik Ibu lahir dari keresahan personal

Floresiana Yasmin Indriasti, ilustrator dan founder Komik Ibu (dok. Floresiana Yasmin)
Floresiana Yasmin Indriasti, ilustrator dan founder Komik Ibu (dok. Floresiana Yasmin)

Komik Ibu gak lahir dari ide besar, melainkan hal-hal yang terasa absurd dan lucu. Sebagai perempuan yang dulunya bisa melakukan segala hal sendiri dan aktif berkegiatan, ia merasakan perubahan besar ketika menjadi ibu.

“Awalnya, aku merasa ini sesuatu yang lucu dan menarik untuk digambarkan. Aku yakin, pasti ada orang lain juga yang merasa seperti aku. Jadi, aku merasa menemukan diriku di situasi-situasi yang gak kebayang sebelumnya dan menurutku lucu,” kata Yasmin.

Lulusan magister asal Universitas Indonesia ini mencontohkan perubahan refleks dirinya sebagai ibu. “Dulu kan sebelum aku punya anak, aku jijik gitu melihat muntahan orang. Sekarang itu udah kayak secara reflektif (menangkap muntahan) supaya gak kena apa pun,” ujarnya sambil tertawa.

Hal-hal seperti itu, menurutnya menarik untuk digambarkan karena sangat relatable.

Bicara soal ibu, biasanya kebanyakan ibu pasti merasa capek karena harus mengurus anaknya dari pagi hingga malam. Belum lagi, jadwal tidur anak yang membuat orangtua harus begadang. Idealnya, anak tidur, orangtua bisa memanfaatkan waktu itu untuk istirahat juga.

“Tapi, yang aku rasain adalah aku gak mau tidur. Aku malah pengen nonton TV atau ngapain gitu. Suamiku juga heran, ‘Kamu tuh gimana sih? Katanya capek.’ Tapi, aku gak mau (tidur), aku mau nonton TV padahal yang aku tonton bukan sesuatu yang aku suka-suka amat,” tuturnya.

Ternyata, apa yang Yasmin rasakan adalah apa yang ia butuhkan. Setelah menjadi ibu, perempuan banyak kehilangan waktu untuk dirinya sendiri. Itulah mengapa, ia ingin melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Cerita-cerita seperti inilah yang coba Yasmin tuangkan lewat komik pendeknya. Sekarang, banyak ceritanya di Komik Ibu yang lebih emosional.

3. Ilustrasi sebagai mediumnya bercerita dan healing

Komik Strip dari Komik Ibu
Komik Strip dari Komik Ibu (instagram.com/komik_ibu)

Seiring dengan perkembangan anak, Komik Ibu membawa cerita-cerita yang berbeda. Yasmin merasa sekarang ia lebih banyak membahas sosok ibu itu sendiri. Bukan tentang dirinya sendiri, melainkan bagaimana karakter yang ia buat itu, menemukan dirinya kembali setelah menjadi ibu.

“Kadang-kadang, gimana ceritanya dia belajar dari anaknya, gak harus soal parenting. Tentang kehidupan, gimana caranya dia terus menempatkan diri di hidupnya. Soal energi juga tertuang dalam episode-episode Komik Ibu. Gimana sih seorang ibu dengan isu lingkungan yang kayaknya berat,” ujarnya.

Hal-hal yang mengganggu pikirannya juga ia tuangkan lewat Komik Ibu. Contohnya, ketika Yasmin tahu bahwa udara penuh polusi itu bisa menurunkan tingkat imunitas anak sehingga anak rentan mengalami alergi. 

Ini membuatnya sadar, “Aku melihat kok banyak anak-anak seusia anakku yang alergi, eksim Aku merasa memang sebetulnya ada hal-hal yang lebih besar dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Nah, Komik Ibu pengen membawa hal-hal yang terasa asing.”

Di tahun 2014, Yasmin pernah ikut suatu komunitas. Ia sering mencari jawaban atas pertanyaannya sebagai ibu di forum-forum luar negeri. Akhirnya, ia tahu bahwa yang mengalami kebingungan ini bukan dirinya sendiri. Ribuan ibu-ibu lain juga merasakan hal yang sama.

Perasaan menemukan “teman tak terlihat” itu sangat menenangkan. “Itu somehow reassuring banget sih. Jadi kayak rasanya, oh aku tuh gak ada jalan yang salah nih,” kisahnya.

Yasmin juga menuturkan, “Aku seneng banget kalau ada orang ngerasa dia relate karena perasaan itu yang membantuku banget, sehingga aku gak ngerasa sendirian. Gak ngerasa bahwa aku nih gagal jadi ibu karena aku lihat orang lain juga ngalamin kok, bukan cuman aku aja.”

Menurutnya, wajar kalau ibu merasa kesulitan dan capek. Fase motherhood memang sulit dilewati sendirian. Lewat Komik Ibu, Yasmin ingin banyak ibu-ibu lain sadar bahwa mereka gak sendirian. Banyak orang lain juga merasakan hal yang sama.

“Fase ini akan berlalu juga. Nanti akan ada momennya, mungkin gak balik ke hidupmu yang dulu, tetapi aku mulai bisa punya waktu untuk diriku sendiri. Bisa mulai mengerjakan hal-hal yang lain buat diriku sendiri. Itu sesuatu yang sangat reassuring banget,” ucapnya sambil tersenyum lega.

4. Tantangan sebagai ilustrator yang juga seorang ibu

Floresiana Yasmin Indriasti, ilustrator dan founder Komik Ibu (dok. Floresiana Yasmin)
Floresiana Yasmin Indriasti, ilustrator dan founder Komik Ibu (dok. Floresiana Yasmin)

Sebagai ilustrator sekaligus ibu rumah tangga, tentu Yasmin mendapati beberapa tantangan. Terkadang, ada kegelisahannya untuk membagikan ilustrasi dengan cerita-cerita yang sensitif. Ia takut karyanya justru menimbulkan kesalahpahaman.

“Aku berusaha banget menjaga supaya cerita ini tuh gak jadi oversharing kehidupan pribadi. Jadi, aku bikin supaya dia memang fiksi. Aku terinspirasi dari cerita sendiri,” katanya.

Di Komik Ibu, karakter yang ia buat bukanlah dirinya lagi. Sebagian besar memang terinspirasi dari dirinya sendiri dan emosi yang juga dia rasakan, tetapi ia mengemasnya dengan cara yang berbeda dan lebih umum.

“Misalnya, aku terinspirasi menemukan kejadian ketika anakku bertanya, ‘Kenapa sih ibu harus ada rasa sedih?’. Terus aku tuliskan itu dalam komik, tapi tidak dalam kejadian yang sebenarnya. Pertanyaan itu cuma inspirasi, setelahnya aku bikin plot yang bisa membungkus inspirasi itu menjadi cerita yang lebih mudah diterima orang lain,” ungkapnya.

Meski begitu, kedua anaknya yang berusia 12 tahun dan 8 tahun merasa komik yang dibuat ibunya menceritakan tentang mereka. Jika sebuah cerita terasa terlalu sensitif, ia akan mengganti tokoh atau sudut pandang. Baginya, yang penting adalah pesannya sampai tanpa melukai pihak lain.

5. Komik Ibu sebagai ruang amannya melalui fase motherhood yang menantang

Agenda Ibu karya Floresiana Yasmin Indriasti
Agenda Ibu karya Floresiana Yasmin Indriasti (dok. Floresiana Yasmin)

Bukan sekadar platform untuk menggunggah semua karyanya, Komik Ibu merupakan bentuk perjalanan hidupnya selama masa motherhood yang tidak mudah. Ini jadi ruang amannya untuk menceritakan banyak hal tentang keresahan, kegelisahan, bahkan pikiran-pikiran simpel terlintas di otak para ibu.

Menurut Yasmin, motherhood adalah fase penuh tantangan. Ia tertawa saat mengingat ekspektasinya dulu sebelum menjadi ibu. Ternyata, realita dari apa yang ia bayangkan, jauh lebih sulit untuk dilalui.

“Dulu, pas aku hamil dan masuk usia kandungan sembilan bulan, aku bilang ke mamaku, ‘Aku gak sabar nih, aku pengen ketemu.’ Mamaku bilang, ’Gak apa-apa, gak usah buru-buru. Kamu kerjain aja dulu yang kamu bisa kerjain sekarang sebelum punya anak karena nanti kamu akan sibuk banget.’ Aku gak paham ketika dia bilang sibuk. Sibuk apa sih?” kenangnya.

Nyatanya, realitanya jauh berbeda. Begitu anak lahir, ia merasa hidupnya berulang tanpa jeda. Dulu, ia masih berusaha memenuhi segala ekspektasi diri. Berharap berat badan turun dan bisa kembali kerja, Yasmin ingin membuktikan bahwa ia masih bisa melakukan apa pun meskipun punya anak.

Ia baru menyadari bahwa dirinya stres ketika hendak memiliki anak kedua. Dengan bantuan pengasuh, beban terasa lebih ringan dan ia melihat perbedaan signifikan. Menurutnya, banyak ibu merasa kehilangan diri. Namun, ia melihatnya sebagai transformasi. 

“Mungkin bukan kehilangan diri ya, cuman kita kayak bertransformasi. Tapi, memang bertransformasinya tuh susah banget,” tambahnya.

Kini, ia memahami bahwa fase terberat akan berlalu. Akan ada saatnya ibu kembali menemukan ritmenya sendiri, meski tak lagi sama seperti sebelum punya anak.

Motherhood menantang banget. Aku yakin para ibu yang baru punya anak mungkin gak kebayang seperti apa. Tapi di sisi lain, aku juga gak kebayang kalau aku gak punya dua anak-anakku ini. Mereka itu salah satu anchor-ku. Aku baru tahu ternyata, kita bisa sayang sama orang segitunya setelah punya anak,” sambungnya.

6. Proses kreatif di balik setiap komik

Yasmin merupakan ilustrator dengan gaya ilustrasi Chibi. Gaya menggambar ini menonjolkan proporsi tubuh yang mini dengan ukuran kepala yang besar. Model ilustrasi yang ekspresif ini, membuatnya ingin terus mengeksplorasi ilustrasi-ilustrasi lain.

“Apa pun yang kita gambar itu, kan sebenarnya pasti kita meniru sesuatu gitu, baik kita secara sengaja ataupun gak. Mungkin, kita tiru komik-komik asal kita baca atau yang pernah kita lihat. Jadi menurutku, gak ada masalah sih untuk kita lihat atau melihat panduan yang ada di internet dan berusaha awalnya kita tiru. Tapi, nanti lama-lama tuh pasti kita akan akan keluar style-nya sendiri,” terangnya.

Komik Ibu menjadi mediumnya untuk healing dari perannya sebagai ibu. Ia menegaskan bahwa tokoh ibu dalam komiknya bukan sosok yang menggurui.

“Bukan sebagai orang yang ngajarin. Memang si ibu ini tugasnya jadi temannya aja,” kata Yasmin.

Setiap kali mendapatkan inspirasi. Yasmin akan menuliskannya dalam bentuk 1-2 kalimat. Ketika waktunya menggambar tiba, ia akan melihat mana cerita yang bisa diangkat.

“Dari inspirasi, aku bikin plot-nya dulu. Misalnya, aku ceritakan akan seperti apa, lalu masuk ke bagian ilustrasi. Kadang-kadang dari inspirasi, aku sudah langsung kebayang (gambarnya akan seperti apa. Aku juga mikirin gimana supaya inspirasi atau pesannya ini sampai (ke pembaca),” ujarnya.

Namun, tak jarang ia mengalami kebuntuan. “Kadang-kadang, pas kita dapet inspirasi, tuh kayak ada 'tring' gitu. Terus, pas kita mau bikin tuh kayak, 'Waktu itu kenapa ya aku tulis ini?' Aku juga bingung.”

Formatnya biasanya maksimal 10 slide, meski kini Instagram memungkinkan hingga 20. Ia memilih tetap ringkas karena khawatir pembaca tidak menuntaskan cerita jika terlalu panjang.

7. Dari personal project menjadi lebih besar dan berdampak

Komik Strip Kolaborasi Komik Ibu dan Psikolog Audrey T. Susanto

Selain membuat komik, Yasmin juga berbagi prosesnya lewat kelas comic strip bersama platform Berkreartsi serta meluncurkan planner dan jurnal kolaborasi dengan psikolog. Semua tetap berakar pada satu hal, yakni membantu ibu menyelami diri mereka sendiri.

Di kelasnya, Yasmin membagikan proses kreatifnya secara menyeluruh. Bukan soal teknis menggambar saja, melainkan peserta diajak memahami cara mendesain karakter, menyusun plot, menentukan arah konten, atau alur kerja sebagai ilustrator. 

Tak berhenti pada kelas, Yasmin juga pernah mengembangkan Komik Ibu ke dalam bentuk produk fisik berupa planner. Di dalamnya, terdapat ruang untuk menuliskan target tahunan, rencana bulanan, hingga agenda harian. Ia melengkapinya dengan kolom seperti happy tracker dan halaman kosong untuk catatan pribadi.

Menariknya, di sela-sela halaman planner tersebut, Yasmin menyelipkan beberapa komik yang sebelumnya sudah terbit. Format ini membuat planner tersebut bukan sekadar alat perencanaan, tetapi juga teman refleksi yang ditemani cerita-cerita yang dekat dengan keseharian ibu.

Ia juga berkolaborasi dengan psikolog Audrey T. Susanto dalam membuat konten bersama bertema parenting dan jurnal. Dalam jurnal ini, selain fungsi agenda, terdapat pula prompt atau pertanyaan reflektif yang membantu pembaca menyelami pengalaman dan emosinya sendiri.

8. Tentang insecure, proses bertumbuh, dan nilai diri

Floresiana Yasmin Indriasti, ilustrator dan founder Komik Ibu (dok. Floresiana Yasmin)
Floresiana Yasmin Indriasti, ilustrator dan founder Komik Ibu (dok. Floresiana Yasmin)

Namanya manusia, Yasmin kerap merasa insecure dengan karya-karyanya. Meski sudah berusaha konsisten, ia juga tetap harus belajar dan mencari tahu banyak hal. Namun, perasaan itu gak mengurangi nilainya sebagai perempuan.

Bagi Yasmin, makna “berdaya” tidak selalu berkaitan dengan penghasilan atau status pekerjaan. Ia melihatnya sebagai sesuatu yang jauh lebih personal dan mendasar. 

“Menurut aku, berdaya itu kan bisa macem-macem. Berdaya itu gak harus dia punya penghasilan atau dia kerja, tapi dia perlu merasa mungkin bangga atau bisa respect dengan dirinya sendiri mau apa pun itu. Mau dia sebagai ibu rumah tangga, mau dia sebagai freelancer atau dia sebagai ibu kerja, tapi dia bisa mem-value dirinya sebagai sesuatu yang bernilai,” kata Yasmin. 

Ketika seseorang punya fondasi yang kuat terhadap dirinya sendiri, maka proses bertumbuhnya akan terasa lebih ringan. Yasmin juga menyoroti kebiasaan banyak orang yang baru mau mengapresiasi diri setelah ada bukti konkret. Seolah-olah harus menunggu pembuktian, baru bisa mengapresiasi diri sendiri. Padahal, itu adalah hal yang melelahkan.

Karena itu, ia percaya bahwa rasa bernilai tidak harus menunggu garis akhir. Baginya, ini bukan soal hasil yang sempurna, melainkan menghargai proses bertumbuh sebagai perempuan, ibu, atau peran-peran lainnya.

Pada akhirnya, merasa cukup dan utuh adalah bentuk keberdayaan diri yang paling kuat dan sederhana. Semoga kisah Floresiana Yasmin ini juga bisa membantu para ibu lainnya dalam memaknai fase motherhood melalui apa pun itu, ya!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us

Latest in Life

See More