Siapa Saja yang Rentan Mengalami Doom Spending? Mungkin Kamu Termasuk

Doom spending atau membelanjakan uang bukan karena benar-benar butuh sesuatu bisa terjadi pada banyak orang. Tidak cuma mereka yang memang hobi berbelanja. Sama seperti doom scrolling yang akhirnya dapat menjadi kebiasaan siapa saja.
Tidak terbatas pada orang-orang yang memiliki banyak waktu luang. Malah kesukaan menggulir layar yang mencuri waktu produktif mereka. Begitu pula doom spending bisa tiba-tiba dialami oleh orang yang biasanya ketat sekali dalam mengatur keuangannya.
Doom spending terasa seperti ledakan di tengah perjalanan seseorang dalam menggapai tujuan keuangannya. Kamu pun mesti berhati-hati. Kalau dirimu termasuk dalam salah satu poin di bawah ini berarti cukup rawan terjebak perilaku berbelanja tanpa urgensi. Bukan cuma sesekali, tetapi seperti gak bisa berhenti.
1. Orang yang gampang stres dan tidak mampu mengatasinya dengan baik

Doom spending sering kali hanya respons orang atas rasa stres yang sedang menekannya. Setiap orang tentu pernah mengalami tekanan psikis akibat berbagai masalah. Akan tetapi, tak semuanya lari ke kegiatan belanja barang-barang yang cukup terjangkau.
Individu yang dapat mengidentifikasi penyebab stresnya dengan baik lalu fokus ke solusi tak sempat melakukan doom spending. Kebiasaan berbelanja itu hanya semacam pelarian atas beban mentalnya. Dia mungkin tidak pernah membicarakan persoalannya dengan siapa pun.
Atau, ia masih bercerita tetapi gak lanjut ke usaha untuk menyelesaikannya sampai tuntas. Mengeluarkan uang untuk membeli ini itu awalnya dirasa sebagai hiburan buat mengurangi stresnya. Akan tetapi, ini malah terus berlanjut selagi masalah-masalahnya tetap tak tertangani.
2. Orang yang punya cukup uang untuk dibelanjakan meski gak kaya raya

Bagaimanapun juga, doom spending ialah aktivitas yang harus memakai sejumlah uang. Tidak ada uang sama sekali bikin seseorang tak dapat membeli apa pun. Walau dia bukan orang yang kaya raya, minimal ia masih memiliki harta buat dibelanjakan.
Uangnya mungkin memang tak cukup untuk membeli kendaraan baru atau rumah. Namun, ia masih bisa memakai sebagian tabungannya buat membeli tiket konser, pernak-pernik lucu, fesyen, dan sebagainya. Inilah yang bisa pelan-pelan menggerogoti kekayaan seseorang.
Meski belanjanya gak banyak, seringnya itu dilakukan bakal tetap mengurangi tabungan. Tujuan finansial yang dikejar tambah jauh. Bahkan tingkat kesejahteraan hidupnya dapat menurun.
3. Orang yang berpikir ngutang demi kesenangan kecil gak apa-apa

Tindakan manusia banyak digerakkan oleh caranya berpikir. Sikap permisif seseorang terkait keuangan dan utang bisa menjerumuskannya dalam perilaku doom spending. Dia tidak memenuhi poin 2, yaitu punya cukup uang buat dibelanjakan.
Namun, fakta itu tak membuatnya mengurungkan niat. Malah dia makin kreatif mencari cara supaya bisa tetap menghibur diri dengan berbelanja kecil-kecilan. Utang menjadi solusinya.
Lantaran barang-barang yang dibeli tak berharga selangit, kemungkinan besar orang justru mengajukan pinjol. Bahkan pinjol ilegal yang berujung bunga lebih besar daripada pokok pinjamannya. Maka dari itu, berhati-hatilah dalam dirimu memutuskan kapan boleh berutang serta pemakaian uangnya.
4. Orang yang sedang putus asa mengejar target keuangan

Seperti disebutkan di awal, doom spending cuma pelarian dari stres akibat berbagai masalah. Salah satu sumber stres terbesar adalah ketika seseorang tak kunjung dapat mencapai tujuan finansialnya. Contoh, dia ingin punya 100 juta pertamanya sebelum usia 30 tahun.
Ketika umurnya genap 30 tahun dan tabungannya mentok di angka 50 juta rupiah, rasa stres pun muncul. Ia merasa perjuangannya sia-sia. Lantas dia mulai memakai uangnya buat belanja kecil-kecilan.
Sampai saldonya merosot ke 20 atau 10 juta. Ia tidak berpikir bahwa sekalipun gak sesuai target, punya 50 juta tetap lebih baik daripada tinggal 20 atau 10 juta di rekening. Demikian pula ketika orang putus asa menginginkan rumah yang tak kunjung terbeli dan sebagainya.
5. Orang yang meletakkan kebahagiaannya pada benda-benda

Letak kebahagiaan setiap orang berlainan. Ada orang yang bahagianya sesimpel bisa bermain bersama kucing kesayangannya. Ada juga orang yang merasa seluruh beban psikisnya menguap ketika berkebun, berolahraga yang cukup berat, ikut kegiatan sosial, dan sebagainya.
Orang-orang seperti di atas cukup aman dari kemungkinan terjebak doom spending. Lain halnya dengan pribadi yang menggantungkan kebahagiaannya pada benda-benda. Ini tampak dari rasa bangganya setiap kali berhasil membeli sesuatu.
Dia tidak menerapkan gaya hidup minimalis. Ia sudah terbiasa selalu membeli sesuatu ketika bepergian. Dia malah merasa aneh kalau pulang dari mana pun tanpa menenteng belanjaan atau beberapa hari saja gak ada kurir paket ke rumah. Keyakinannya adalah kian banyak benda yang dimiliki kian menunjukkan hidupnya baik-baik saja.
6. Orang yang berpikir uang selalu bisa dicari lagi

Sikap optimis yang tidak terkontrol terkait uang juga bisa mengantarkan orang pada doom spending. Ia senantiasa berpikir uang dapat dicari lagi. Jangan terlalu khawatir kegemaran membeli benda-benda yang tak seberapa mahal akan membuat jatuh miskin.
Dia mengibaratkan ember yang penuh oleh air malah tidak bakal bisa menampung air lagi. Sekalipun air terus mengucur tepat di atasnya. Ketika ember dikosongkan sebagian baru air dari keran dapat tertampung.
Jika kamu juga punya pandangan uang bisa dicari kembali, imbangi dengan beberapa batasan. Seperti itu tidak berarti uang yang ada boleh dibelanjakan sesuka hati. Dirimu tak tahu mana yang akan terlebih dahulu datang. Rezeki berupa uang pengganti atau ujian yang butuh biaya.
Agar terhindar dari doom spending, kamu harus punya kontrol diri yang baik. Juga kemampuan mengelola stres yang mustahil bisa selalu dihindari. Jangan pula merasa toh, dirimu masih punya uang. Sebab jika kamu sudah terjebak doom spending, uang dapat menguap lebih cepat daripada air.




















![[QUIZ] Career Check: Kamu Lagi Burnout, Bosan, atau Memang Sudah Saatnya Resign?](https://image.idntimes.com/post/20250731/pexels-mart-production-7605197_dc361a96-710c-45c2-8241-59436766b720.jpg)

