Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi perempuan belanja
ilustrasi perempuan belanja (freepik.com/freepik)

Intinya sih...

  • Menolak ajakan sosial secara berlebihan

  • Merasa superior dalam pengeluaran uang

  • Mengorbankan kenyamanan demi penghematan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Gaya hidup frugal living belakangan ini makin sering dipuja sebagai jalan menuju kebebasan finansial. Banyak orang berlomba memangkas pengeluaran, menahan diri dari hal-hal yang dianggap tidak perlu. Di satu sisi, prinsip ini memang bisa membantu kamu lebih sadar finansial. Namun, ketika dijalani secara ekstrem, frugal living justru bisa diam-diam menggerus kualitas hidup.

Masalahnya bukan pada sikap hemat itu sendiri, melainkan ketika hemat berubah jadi identitas dan standar moral. Kamu mulai menilai diri dan orang lain dari seberapa sedikit uang yang dikeluarkan. Hubungan sosial ikut terdampak karena semua diukur dengan angka. Ketahui lima sisi gelap frugal living yang sering tidak disadari, tapi pelan-pelan bikin kamu merasa terasing secara sosial.

1. Terlalu sering menolak ajakan sosial

ilustrasi mengobrol dengan teman (freepik.com/prostooleh)

Kamu mulai sering bilang “gak dulu” setiap ada ajakan makan bareng atau nongkrong setelah kerja. Alasannya selalu sama, ingin hemat dan tidak mau buang uang. Lama-lama, ajakan itu berhenti datang tanpa kamu sadari. Bukan karena dibenci, tapi karena kamu selalu absen.

Padahal, momen sederhana seperti makan siang bareng atau kopi sore sering jadi ruang membangun kedekatan. Ketika semua ditolak demi frugal living, kamu kehilangan koneksi sosial yang penting. Hemat memang perlu, tapi manusia juga butuh interaksi. Kalau terus begini, kamu bisa merasa sendirian di tengah keramaian.

2. Merasa paling benar soal uang

ilustrasi orang mengobrol (freepik.com/freepik)

Salah satu dampak negatif frugal living yang berlebihan adalah munculnya rasa superior. Kamu mulai mengomentari cara orang lain membelanjakan uangnya. Liburan dianggap boros, beli kopi kekinian dinilai pemborosan. Tanpa sadar, obrolanmu terdengar menghakimi.

Sikap ini bikin jarak emosional dengan orang sekitar makin lebar. Orang jadi enggan cerita karena takut dihakimi. Frugal living yang sehat seharusnya tidak membuatmu merasa lebih pintar dari orang lain. Hemat bijak justru menghargai pilihan hidup yang berbeda.

3. Mengorbankan kenyamanan demi penghematan

ilustrasi laki-laki naik transportasi umum (freepik.com/freepik)

Kamu memilih transportasi yang paling murah meski harus berdiri lama dan kelelahan. Kamu menunda ganti sepatu kerja yang sudah rusak karena masih “bisa dipakai”. Semua demi menekan pengeluaran seminimal mungkin. Tubuh dan pikiran dipaksa menyesuaikan.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa menguras energi dan mood. Kualitas hidup menurun karena kamu terus berkompromi dengan kenyamanan dasar. Gaya hidup minimalis seharusnya membuat hidup lebih ringan, bukan lebih melelahkan. Hemat tidak seharusnya menyiksa diri.

4. Menjauh dari pengalaman yang memberi makna

ilustrasi perempuan sedih (freepik.com/freepik)

Frugal living ekstrem sering membuat kamu melewatkan pengalaman berharga. Menolak ikut liburan keluarga, tidak datang ke acara penting teman, atau absen dari kegiatan yang sebenarnya kamu sukai. Semua dianggap tidak esensial karena mengeluarkan biaya.

Padahal, pengalaman hidup tidak selalu bisa diulang. Kenangan dan relasi sering kali lebih bernilai daripada angka di rekening. Dampak negatif frugal living terasa saat kamu sadar kehilangan momen penting. Uang bisa dicari lagi, tapi waktu dan hubungan tidak selalu menunggu.

5. Hidup terasa kaku dan penuh perhitungan

ilustrasi membuat rencana keuangan (freepik.com/wayhomestudio)

Setiap keputusan selalu diawali dengan kalkulasi berlebihan. Mau beli hadiah pun dihitung sampai detail terkecil. Spontanitas perlahan hilang dari hidupmu. Semua terasa kaku dan terencana secara ekstrem.

Kondisi ini bisa membuat kamu cepat lelah secara mental. Hidup jadi terasa seperti proyek penghematan tanpa akhir. Padahal, hemat bijak memberi ruang untuk fleksibilitas dan kebahagiaan kecil. Gaya hidup minimalis seharusnya membebaskan, bukan membatasi.

Walau gaya hidup ini bagus, namun kamu perlu juga mengetahui sisi gelap frugal living. Hal ini dikarenakan lifestyle tersebut bukanlah musuh, tapi cara menjalaninya perlu disadari dengan jujur. Jika gaya hidup hemat mulai membuatmu menjauh dari orang-orang terdekat, mungkin ada yang perlu dievaluasi. Kamu berhak hidup hemat sekaligus menikmati relasi dan pengalaman bermakna. Yuk, mulai praktikkan hemat bijak agar hidup tetap seimbang dan manusiawi!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team