Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Kesalahan dalam Mengelola Keuangan saat Menerapkan Frugal Living

ilustrasi menabung
ilustrasi menabung (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)
Intinya sih...
  • Terlalu banyak mengorbankan kualitas hidup.
  • Fokus pada penghematan kecil tapi lupa pengeluaran besar.
  • Tidak memiliki tujuan keuangan yang jelas.
  • Menganggap frugal living sama dengan menahan diri berlebihan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Frugal living sering dianggap sebagai cara efektif untuk bisa menekan pengeluaran, namun banyak orang justru terjebak pada pola yang tidak sehat. Alih-alih membuat keuangan lebih stabil, justru kesalahan dalam menerapkan gaya hidup hemat bisa memicu stress, keputusan impulsif, hingga pengelolaan keuangan yang tidak terarah.

Pendekatan frugal yang tepat semestinya bisa membantu seseorang untuk mencapai tujuan finansial tanpa harus mengorbankan kualitas hidup. Oleh sebab itu, pahamilah beberapa kesalahan berikut ini dalam mengelola keuangan saat menerapkan frugal living yang harus diwaspadai.

1. Terlalu banyak mengorbankan kualitas hingga mengganggu kenyamanan

ilustrasi berbelanja
ilustrasi berbelanja (Pexels/Laura James)

Banyak orang yang baru menerapkan frugal living pada akhirnya mengurangi pengeluaran secara ekstrem hingga menurunkan kualitas hidup mereka. Contohnya adalah membeli barang murah berkualitas rendah atau bahkan membatasi kebutuhan pokok yang berdampak terhadap kesehatan dan produktivitas.

Tindakan seperti ini akan membuat frugal living tersebut menjadi tidak berkelanjutan akibat cepat mengalami kelelahan dan kembali ke kebiasaan yang boros. Selain itu, pengorbanan berlebihan juga akan menyebabkan lebih banyak pengeluaran jangka panjang, seperti misalnya membeli barang berkualitas rendah akan lebih cepat rusak dan memerlukan penggantian.

2. Fokus pada penghematan kecil tapi lupa pengeluaran besar

ilustrasi uang
ilustrasi uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Kesalahan umum lainnya adalah terlalu sibuk memotong pengeluaran kecil, namun justru mengabaikan pengeluaran yang lebih besar. Seseorang mungkin menghemat dengan tidak membeli kopi harian, namun tetap memiliki cicilan mahal atau biaya langganan yang tidak terpakai.

Ketidakseimbangan ini akan membuat konsep frugal living terasa lebih ketat, namun tidak memberikan dampak signifikan. Pada saat perhatian hanya tertuju pada detail kecil, maka seseorang akan kehilangan kesempatan untuk melakukan optimalisasi yang lebih penting, seperti negosiasi biaya rutin, perencanaan belanja yang besar, atau peninjauan ulang terkait gaya hidup.

3. Tidak memiliki tujuan keuangan yang jelas

ilustrasi mengatur uang
ilustrasi mengatur uang (pexels.com/Jonathan Borba)

Sebagian orang mungkin menerapkan frugal living hanya karena tren atau keinginan untuk menghemat uang tanpa memiliki tujuan yang jelas. Tanpa arah yang jelas, maka keputusan penghematan pun akan dilakukan secara acak dan tidak terukur.

Akibat dari tindakan tersebut akan membuat seseorang merasa tertekan karena pengorbanannya tidak terlihat memberikan hasil yang berarti. Memiliki tujuan spesifik, seperti misalnya untuk liburan, dana darurat, atau investasi akan membantumu untuk mengatur strategi penghematan yang lebih terfokus.

4. Menganggap frugal living sama dengan menahan diri berlebihan

ilustrasi menghitung uang
ilustrasi menghitung uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Kesalahan besar lainnya adalah salah mengartikan fruga living sebagai gaya hidup yang penuh dengan larangan atau bahkan batasan. Banyak orang kerap menahan diri dari segala bentuk kesenangan atau pembelian kecil, sehingga memicu rasa frustrasi.

Kondisi ini akan membuat seseorang mengeluarkan uang secara impulsif setelah merasa terlalu lama menahan diri. Frugal living yang benar semestinya menciptakan keseimbangan antara penghematan dan apresiasi diri melalui hal-hal yang masih dinilai wajar.

Mengelola keuangan saat menerapkan fruga living memerlukan pemahaman yang seimbang. Dengan menghindari beberapa kesalahan utama, maka frugal living bisa menjadi strategi finansial yang cerdas dan menyenangkan. Pendekatan yang tepat akan membuat siapa pun bisa mencapai tujuan keuangan dengan cara yang lebih terukur dan berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Business

See More

Pertamina: 5.888 UMKM Naik Kelas Lewat Sertifikasi Sepanjang 2025

08 Jan 2026, 01:07 WIBBusiness