Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Social Smoker Cuma Merokok Saat Nongkrong, Benarkah Aman?

Social Smoker Cuma Merokok Saat Nongkrong, Benarkah Aman?
ilustrasi orang sedang merokok (pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya Sih
  • Social smoker adalah orang yang hanya merokok saat bersosialisasi, namun tetap berisiko karena paparan zat berbahaya dari rokok tidak berkurang meski frekuensinya jarang.
  • Merokok sesekali tetap dapat memicu penyakit jantung, stroke, gangguan pernapasan, hingga masalah kesuburan akibat kandungan lebih dari 250 zat kimia beracun dalam asap rokok.
  • Agar bisa berhenti jadi social smoker, seseorang disarankan menolak rokok dengan santai dan percaya diri, menggantinya dengan camilan ringan, serta memilih lingkungan pertemanan yang mendukung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

31 Mei diperingati sebagai Hari Tembakau Sedunia. Momen ini pas untuk kita merefleksikan lagi kebiasaan sehari-hari, salah satunya ketika sedang kumpul. Nongkrong dengan teman rasanya seperti ritual wajib untuk melepas penat bagi banyak orang, ya. Bertemu dengan teman, memesan kopi, chit-chat tentang apa pun jadi hal yang menyenangkan. Namun, untuk para social smoker hal-hal itu gak lengkap tanpa adanya rokok.

Social smoker adalah istilah yang untuk orang-orang yang hanya akan merokok saat kumpul dengan teman-temannya. Ini berarti, selama gak kumpul, mereka gak akan merokok. Sekilas terdengar aman, ya. Namun, apakah memang demikian? Supaya kamu lebih memahami apa itu social smoker dan bagaimana cara menolak rokok tanpa dikira cupu, simak deh ulasan berikut!

1. Social smoker tidak lebih aman

ilustrasi orang sedang merokok
ilustrasi orang sedang merokok (pexels.com/Israel Torres)

Di pikiranmu barangkali social smoker gak kecanduan dengan merokok karena mereka hanya merokok sesekali atau tergantung pada intensitas kumpul. Kalau jarang kumpul, berarti mereka jarang merokok, dong. Jika demikian, apakah social smoker itu lebih sehat? Dilansir laman Klikdokter, menurut psikolog  Ikhsan Bella Persada, M. Psi., social smoker bisa saja hanya mengisap satu atau dua batang saat bersosialisasi dengan teman-temannya. Hal ini dilakukan mereka untuk mengurangi ketegangan ketika bergaul atau pada saat bertemu rekan kerja. Selain itu, merokok juga bisa membuat mereka lebih percaya diri. Dengan begitu, mereka bisa lebih mudah masuk dan diterima di lingkungan sosial tertentu.

Namun, mengisap satu atau dua batang bukan berarti kesehatan seseorang akan tetap baik, ya. Kenyataannya, beberapa batang rokok saja sudah cukup memengaruhi kesehatan. Menurut Russell V. Luepker, MD, profesor kardiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Minnesota di Minneapolis, Amerika Serikat, social smoker tidak lebih aman. Social smoker akan tetap terpapar dengan kandungan rokok dan asapnya.

2. Risiko kesehatan yang mengintai social smoker

ilustrasi kebersamaan (pexels.com/fauxels)
ilustrasi kebersamaan (pexels.com/fauxels)

Dari poin sebelumnya, kita lantas memahami bahwa social smoker itu gak lebih baik dan gak lebih aman. Ada dampak negatif yang mengintai perokok sosial. Dilansir laman Klikdokter, dr. Arina Heidiyana mengatakan bahwa dampak merokok bagi kesehatan adalah risiko penyakit jantung dan stroke. Ketika seseorang mengambil isapan rokok pertama, metabolismenya akan berubah. Jantung akan berdetak lebih cepat. Selain itu, nikotin yang ada dalam rokok membuat trombosit menempel di dinding pembuluh darah. Kalau hal ini dibiasakan, pembuluh darah akan menyempit yang memicu serangan jantung atau stroke.

Tahu gak bahwa asap rokok juga gudang bagi banyak senyawa racun. Menurut penelitian, ada lebih dari 250 zat kimia beracun di dalam asap rokok, 70 di antaranya adalah pemicu utama kanker yang siap mengintai tubuh. Mengerikan, bukan. Sejumlah masalah kesehatan lainnya yang berisiko dialami perokok ringan seperti social smoker adalah infeksi saluran pernapasan, masalah kesuburan baik pria maupun wanita, dan aneurisma aorta.

3. Cara menolak batang rokok tanpa dikira cupu

ilustrasi kebersamaan (pexels.com/Diva Plavalaguna)
ilustrasi kebersamaan (pexels.com/Diva Plavalaguna)

Nah, sekarang tahu kan bahwa label social smoker itu gak bisa menyelamatkan tubuh kamu dari ancaman medis. Meskipun kamu hanya merokok ketika kumpul dan hal itu jarang dilakukan, itu gak berarti kamu terhindar dari dampak negatif yang bisa ditimbulkan. Lantas, bagaimana caranya berhenti jadi social smoker? Menolak sodoran rokok di meja tongkrongan itu ada seninya. Kamu bisa menolaknya tanpa terlihat canggung dan tetap dianggap solider. Cara pertama adalah berbicara terus terang bahwa kamu nyaman dalam kondisi tidak merokok (setelah memahami dampak buruknya), tolaklah dengan nada santai, percaya diri, dan tenang.

Kemudian, kamu juga bisa menolaknya dengan menyediakan senjata lain. Alih-alih menyesap rokok untuk mengurangi ketegangan, kamu bisa siapkan permen karet, permen mint, atau kuaci. Ketika ditawarkan untuk merokok, kamu tinggal memamerkan camilan yang kamu bawa sekaligus menawarkannya pada mereka. Taktik ini ampuh lho membuat mulutmu tetap sibuk mengunyah.

Langsung berhenti merokok memang gak semudah yang diucapkan. Untuk itu, memilih kelompok sosial tertentu juga penting saat nongkrong. Carilah sirkel pertemanan yang gak akan menghakimi dan memaksamu saat kamu memilih untuk gak merokok. Yuk, jadikan tongkronganmu tetap asyik tanpa harus merokok!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More