Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Financial Anxiety Bikin Anak Muda Doom Spending

5 Alasan Financial Anxiety Bikin Anak Muda Doom Spending
ilustrasi financial anxiety (pexels.com/www.kaboompics.com)
Intinya Sih
  • Financial anxiety mendorong anak muda melakukan doom spending sebagai pelarian cepat dari stres, meski efek bahagianya hanya sementara dan berujung rasa bersalah.
  • Tekanan sosial dan ketakutan akan masa depan membuat generasi muda memilih menikmati hidup sesaat lewat belanja impulsif dibanding menabung untuk tujuan jangka panjang.
  • Kurangnya literasi keuangan memperparah kecemasan finansial, sehingga memahami pengelolaan uang sederhana jadi kunci mengurangi stres dan kebiasaan doom spending.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lagi cemas mikirin uang akhir bulan, tapi jempol malah asyik checkout keranjang belanjaan? Fenomena financial anxiety yang berujung pada kebiasaan doom spending ini ternyata makin sering dialami anak muda zaman sekarang, lho. Sensasi kepuasan sesaat pas tekan tombol beli memang bikin tenang seketika, tapi efeknya bikin dompet makin menjerit.

Kalau kebiasaan impulsif ini terus dibiarkan tanpa penanganan, kesehatan finansial kamu bisa benar-benar rapuh di masa depan. Rasa cemas yang terus ditutupi dengan belanja gila-gilaan cuma akan memicu siklus rasa bersalah yang gak ada habisnya. Itulah mengapa kamu perlu memahami kenapa financial anxiety bisa memicu doom spending dan bagaimana cara menghentikannya secara perlahan!


1. Rasa cemas bikin otak cari cara cepat buat merasa bahagia

ilustrasi cemas
ilustrasi cemas (pexels.com/Liza Summer)

Saat kamu merasa stres berat gara-gara beban finansial, otak secara alami akan mencari pelarian cepat untuk melepaskan hormon dopamin. Aktivitas belanja impulsif atau doom spending menjadi cara paling instan untuk menghadirkan rasa senang sementara di tengah tekanan hidup. Otak menganggap barang baru sebagai bentuk penghargaan instan yang bisa mengalihkan perhatian dari rasa cemas.

Sayangnya, rasa bahagia dari checkout barang itu cuma bertahan sebentar, lho. Setelah barang sampai rumah, rasa cemas tentang kondisi keuangan akan kembali datang, bahkan sering disertai rasa bersalah. Cobalah melatih diri untuk memberi jeda 24 jam sebelum membeli barang yang gak mendesak agar otakmu punya waktu untuk berpikir jernih.


2. Ingin kabur sejenak dari ketakutan akan masa depan

ilustrasi stres memilikirkan masa depan
ilustrasi stres memilikirkan masa depan (pexels.com/Ron Lach)

Melihat harga rumah yang makin melambung tinggi sering kali bikin anak muda merasa masa depan finansial mereka tampak suram dan gak terjangkau. Ketakutan serta financial anxiety ini akhirnya memicu pemikiran pasrah untuk menikmati hidup hari ini saja tanpa memikirkan hari esok. Kebiasaan doom spending pun jadi semacam pelarian logis dari rasa putus asa terhadap target finansial jangka panjang.

Akhirnya memilih membeli kopi kekinian, baju baru, atau gadget mahal ketimbang menabung untuk sesuatu yang terasa mustahil. Padahal, kepasrahan ini justru bikin kamu makin jauh dari kestabilan ekonomi yang sebenarnya sangat kamu butuhkan, lho. Cobalah mulai menyusun target finansial yang lebih kecil dan realistis agar kamu gak merasa tertekan oleh ekspektasi yang terlalu tinggi, ya.


3. Tekanan media sosial bikin standar hidup makin gak masuk akal

ilustrasi media sosial
ilustrasi media sosial (unsplash.com/Solen Feyissa)

Paparan konten gaya hidup mewah di media sosial secara gak langsung terus mengikis rasa percaya diri dan memicu kecemasan finansial. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) membuat kamu merasa harus selalu mengikuti tren agar gak dianggap ketinggalan zaman oleh lingkaran pertemanan. Kebiasaan membandingkan diri ini ujung-ujungnya mendorong tindakan doom spending demi mempertahankan citra diri di dunia maya, lho.

Gak jarang kamu membeli barang-barang mahal cuma buat diunggah ke Story demi validasi dari orang lain yang bahkan gak peduli. Keinginan terlihat mapan di media sosial ini jelas menguras tabungan yang sudah kamu kumpulkan susah payah, lho. Mulailah kurangi scrolling media sosial atau unfollow akun-akun yang sering bikin kamu merasa kurang dan tertekan secara finansial, ya.


4. Ilusi kontrol yang didapat saat berhasil menekan tombol beli

ilustrasi orang yang kalap belanja online
ilustrasi orang yang kalap belanja online (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Saat situasi keuangan terasa kacau dan di luar kendali, belanja memberikan ilusi seolah-olah kamu memegang kendali penuh atas hidupmu. Kamu merasa berkuasa menentukan barang apa yang ingin kamu miliki hanya dengan satu sentuhan layar ponsel. Efek psikologis dari kontrol semu inilah yang bikin kebiasaan doom spending terasa sangat adiktif bagi seseorang yang sedang cemas.

Padahal, kendali yang sebenarnya terjadi saat kamu mampu menguasai keinginan dan mengelola arus kas dengan bijak, bukan malah menghabiskannya. Menumpuk barang belanjaan gak akan menyelesaikan sumber masalah keuangan yang sedang kamu hadapi, lho. Jadi, cobalah alihkan keinginan mencari kendali itu ke hal lain, seperti merapikan kamar atau mencatat pengeluaran harian secara rinci, ya.


5. Kurangnya literasi keuangan bikin stres makin sulit diurai

ilustrasi mempelajari literasi keuangan
ilustrasi mempelajari literasi keuangan (pexels.com/RDNE Stock project)

Rasa cemas yang berlebihan bisa bersumber dari ketidaktahuan kamu tentang cara mengelola uang dengan benar. Ketika kamu gak tahu cara membuat anggaran yang pas, keuangan yang berantakan akan semakin memicu financial anxiety. Kebanyakan anak muda akhirnya memilih abai dan melupakan masalah tersebut lewat kebiasaan doom spending daripada harus berhadapan dengan angka-angka pengeluaran.

Padahal, belajar literasi keuangan dasar itu gak serumit yang dibayangkan dan gak butuh rumus matematika yang ribet. Kamu bisa mulai dari membagi pendapatan menggunakan rumus sederhana seperti 50/30/20 untuk kebutuhan, keinginan, dan tabungan. Makin kamu paham cara kerja uangmu, makin berkurang pula rasa cemas dan keinginan untuk belanja secara impulsif.

Menghadapi financial anxiety dan menghentikan kebiasaan doom spending memang butuh proses serta keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Ingat, gak apa-apa kalau progress kamu pelan-pelan, yang terpenting kamu terus berusaha memegang kendali atas keuanganmu hari ini, ya. Kamu pasti bisa melewati masa-masa sulit ini dan membangun masa depan finansial yang lebih tenang!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More