Comscore Tracker

Hand Meet Hand: Mulai Lakukan dari Hati dan Tangan akan Mendukung

#Komunitas: Jangan gabut, gabung komunitas aja!

Di feature komunitas kali ini, saya tertarik untuk membahas salah satu komunitas asal Surabaya yang ahli dalam urusan workshop. Seperti feature komunitas yang sudah-sudah, ada banyak bidang yang tiap komunitas pilih. 

Mulai dari lukis, pendidikan, literasi, buku, sampai cosplay. Semuanya unik dan punya keunggulan masing-masing. Namun, berbeda dengan yang kali ini. Namanya Hand Meet Hand, sebuah perkumpulan anak muda bervisi yang menjadi penyedia workshop bagi siapa saja yang ingin menambah ilmunya. 

Di siang hari yang terik, saya bertemu dengan Azmi Latif, gadis 22 tahun si pengurus inti Hand Meet Hand yang juga merupakan mahasiswa tingkat akhir Universitas Airlangga jurusan Psikologi, dia membagikan ceritanya dalam berkomunitas pada IDN Times.

Silakan dijelaskan, apa sih Hand Meet Hand itu?

Hand Meet Hand itu platform workshop. kami sebenarnya bagian dari Surabaya Youth, organisasi non profit yang punya beberapa program di dalamnya. Nah, Hand Meet Hand ini salah satu program yang khusus mengurusi workshop-workshopnya. Kami bikin kelas untuk mereka yang mau menambah ilmu di bidang tertentu. Jadi kamu provide tempat dan pematerinya. Gampangnya, Hand Meet Hand ini yang memfasilitasi adanya workshop di Surabaya. 

Soal kelas yang kalian provide itu dari bidang mana saja? 

Ada lima; art, craft, music, fashion, lifestyle. Kami menyediakan workshop tentang kelima tema besar itu. Bikin kelas, nanti pematerinya kami cari yang memang sudah ahli di bidangnya masing-masing. 

Sudah jalan berapa lama Hand Meet Hand ini? 

Ini tahun ketiga kami. Hand Meet Hand mulai tahun 2015.

Hand Meet Hand: Mulai Lakukan dari Hati dan Tangan akan Mendukungdok. IDN Times

Kasih contoh salah satu tipe kelas yang pernah kalian bikin, dong?

Misalnya kami pernah membuat kelas soal video maping. Nah, di kelas tersebut itu bikin proyeksi di bidang-bidang 3D. Jadi kami datangkan mentor yang memang ahli dalam bidang itu, terus kami buka untuk umum siapa yang mau belajar soal video maping itu. 

Kelas yang kalian bikin itu berbayar atau gratis? 

Untuk menentukan kami bikin kelas yang berbayar atau tidak itu tergantung dari adanya sponsor atau tidak. Kalau ada sponsor, biasanya kami bisa gratiskan. Tapi kalau tidak, ya kelas itu berbayar. Nanti akan ada poster jelas yang memuat berapa HTM tiap kelas. 

Kalau berbayar, biaya pendaftaran workshopnya digunakan untuk apa saja?

Karena kami non profit, jadi biaya pendaftaran itu biaya yang kami gunakan untuk membayar mentornya. Jadi tinggal kami alokasikan langsung ke mentor, tools dan meals. Kami tidak ambil untung, jadi apa yang peserta bayar, itu adalah apa yang mereka dapatkan. 

Pengurus Hand Meet Hand sekarang ini ada berapa dan rentang usianya berapa? 

Saat ini pengurus ada total 15 orang. Masih muda-muda. Kelahiran 90an semua.

Hand Meet Hand: Mulai Lakukan dari Hati dan Tangan akan Mendukungdok. IDN Times

Apa sih alasan kamu mau gabung dengan Hand Meet Hand?

Kalau aku sih lebih karena suka hal-hal yang berbau craft gitu. Dan Hand Meet Hand kan bukan hanya mengajarkan aku untuk membuat craft itu aja tapi juga berorganisasi juga. Gimana caranya cari sponsor, dealing sama pemateri, ketemu sama orang-orang baru, semua alasan itu yang membuat aku akhirnya betah. 

Ada gak sih craft yang sudah pernah kalian hasilkan sebelumnya? 

Ada, waktu itu pernah bikin keramik, anyaman, banyak macam, sih. 

Misalnya aku mau gabung ke Hand Meet Hand, apa yang harus aku lakukan? Daftar ke mana? 

Jadi karena kami adalah salah satu program dari Surabaya Youth, jadi setiap tahun SY buka pendaftaran anggota gitu. Nah, tinggal apply lewat situ terus waktu sudah masuk tinggal pilih program Hand Meet Hand.  

Ada acara reguler gak sih Hand Meet Hand ini? 

Ada, setiap bulan satu kali, kami pasti bikin workshop. 

Hand Meet Hand: Mulai Lakukan dari Hati dan Tangan akan Mendukungdok. IDN Times

Apa saja kendala yang pernah kamu rasakan waktu kelola Hand Meet Hand ini? 

Soal kelas, sih. Biasanya kalau kami bikin kelas kalau gratis itu peminatnya banyak. Tapi waktu berbayar, itu jadi berkurang peminatnya, sedikit yang daftar. 

Berapa kuota paling sedikit dan paling banyak waktu Hand Meet Hand bikin kelas? 

Pernah ada paling sedikit itu 4 orang dan paling banyak itu kelasnya full. Biasanya tiap workshop itu beda-beda maksimal kuotanya. Tergantung dari mentornya sanggup handle berapa anak. Sejauh ini sih paling banyak per kelasnya 20 orang.

Berapa lama rata-rata durasi tiap kelasnya?

Karena ini seperti les privat, durasinya paling lama 4 jam. 

Kalau soal HTM, paling tinggi berapa Hand Meet Hand pernah pasang tarif? 

Kami dari gratis sampai pernah Rp350 ribu. Waktu itu untuk workshop weaving yang mentornya kami datangkan langsung dari Jakarta. 

Pernah gak sih merasa sebal atau sedih waktu mengurus Hand Meet Hand ini? 

Sedihnya itu, soal peserta lagi. Jadi dulu kami gak pernah pakai sistem deposit. Semisal kelas gratis, itu kuota kan langsung penuh 20 orang, tapi tiba-tiba waktu hari H yang hadir cuma 8 orang. Itu mereka bisa banget segampang itu membatalkan dan bilang 'maaf kak gak jadi,'  

Padahal kami sudah berusaha memfasilitasi supaya mereka bisa belajar suatu keahlian secara gratis, tapi masih saja ada yang mengentengkan dan dengan gampang membatalkan datang.

Baca Juga: Komunitas Cosura: Penyaluran Hobi yang Bisa Jadi Lahan Pekerjaan

Hand Meet Hand: Mulai Lakukan dari Hati dan Tangan akan Mendukungdok. IDN Times

Lalu sistem depositnya sendiri seperti apa?

Nah, kami sekarang pakai sistem deposit. Jadi kalau kami bikin kelas gratis, peserta harus deposit uangnya ke kami Rp. 50.000 yang nanti uang itu bisa diambil lagi waktu mereka hadir di hari H. Kalau mereka gak hadir, ya sudah itu sebagai ganti rugi karena mereka melalaikan pendaftaran itu. 

Kalau yang bikin kamu senang mengurusi semua hal ini apa? 

Banyak. Teman-temannya menyenangkan, bisa dapat kenalan dan pengetahuan baru dari mereka, terus belajar banyak hal baru, ketemu mentor yang keren-keren, belajar ini itu. Yang paling menantang itu, cari mentornya siapa sama mau bikin workshop apa bulan depan. Pokoknya kalau mau dihitung lebih banyak senangnya daripada sedihnya.

Hand Meet Hand: Mulai Lakukan dari Hati dan Tangan akan Mendukungdok. IDN Times

Harapan kamu buat Hand Meet Hand?

Aku harap Hand Meet Hand bisa punya umur yang panjang. Bisa ada dan berjalan terus walaupun non profit. 

Ada tagline khusus? 

Let start making with your heart and hands will complete all the rest. Lakukan semuanya pakai hati, karena kalau sudah begitu, semua tubuh termasuk tangan, akan mendukung apa yang hati kita inginkan. 

Harapan kamu buat anak muda lain di Surabaya? 

Semoga mereka aware sama apa yang ada di lingkungan mereka. Kami juga membantu mereka untuk menemukan passion mereka juga. Nanti kalau sudah ketemu passionnya, dikejar sampai dapat.

Hand Meet Hand: Mulai Lakukan dari Hati dan Tangan akan Mendukungdok. IDN Times

Hand Meet Hand adalah sebuah wadah bagi kamu anak muda Surabaya yang memiliki passion dan mau berkembang dalam bidang kreatif. Jika kamu tertarik untuk melihat kegiatan inspiratif yang sudah HMH lakukan, silakan langsung berhubungan dengan mereka melalui akun instagram @handmeethand.

Hand Meet Hand: Mulai Lakukan dari Hati dan Tangan akan Mendukungdok. IDN Times

Nah, buat kamu yang juga memiliki komunitas dan berpikir bahwa komunitasmu layak dikenal oleh masyarakat luas dan mampu menginspirasi, IDN Times dengan senang hati akan me-review komunitasmu. Mudah saja, kamu bisa langsung email ke alamat stella.azasya@idntimes.com, ya! Sampai bertemu di komunitas selanjutnya!

Baca Juga: Komunitas FitriArt: Melukis Bukan Cuma Untuk Karya tapi Ketenangan

Topic:

  • Erina Wardoyo

Berita Terkini Lainnya