Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Strategi Downgrade Kelas Menengah saat Daya Beli Melemah

4 min read
7 Strategi Downgrade Kelas Menengah saat Daya Beli Melemah
ilustrasi berbelanja (pexels.com/Helena Lopes)
  • Kenaikan harga kebutuhan, penurunan penghasilan, PHK, dan penjualan usaha yang sepi mendorong kelas menengah mengetatkan pengeluaran tanpa mengandalkan bantuan pemerintah atau menguras tabungan.
  • Penghematan dilakukan lewat kendaraan dan transportasi lebih murah, take over KPR atau mengontrak, serta memilih membeli barang bekas atau menyewa dibanding membeli produk baru.
  • Kelas menengah juga mengubah pola belanja: memindahkan anak dari sekolah swasta ke negeri, membeli kebutuhan setelah habis, dan mengganti merek mahal dengan produk lebih terjangkau berizin BPOM.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Cerita tentang kondisi masyarakat kelas menengah yang terpaksa downgrade di tengah kelesuan ekonomi marak di media sosial. Fenomena ini tentu gak cuma ramai di medsos. Kenyataannya memang saat ini banyak orang harus mengetatkan ikat pinggang.

Pekerjaan mereka baik-baik saja pun, kenaikan harga berbagai barang kebutuhan bikin ketar-ketir. Apalagi masyarakat yang terkena pemutusan hubungan kerja. Banyak pula pelaku usaha yang merasa akhir-akhir ini jualan makin sepi.

Masyarakat kelas menengah yang tidak pernah memperoleh bantuan dari pemerintah menanggung akibat yang sangat besar. Mereka harus mati-matian menekan pengeluaran supaya penghasilan tetap cukup. Sebisa mungkin mereka tidak makan tabungan karena lama-kelamaan bakal habis juga. Apakah kamu sampai harus melakukan tujuh strategi downgrade kelas menengah saat daya beli melemah berikut ini?

  1. 1. Ganti mobil yang lebih murah atau sekalian sepeda motor

    menjual mobil
    ilustrasi menjual mobil (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Masyarakat kelas menengah ke atas yang sebelumnya menggunakan mobil mahal dan baru mulai berpikir secara lebih rasional. Biaya pajaknya jelas lebih tinggi. Bahan bakarnya pun tidak bisa yang murah. Kalau harga bahan bakar dan kebutuhan lain makin tinggi, mending ganti kendaraan.

    Misalnya, tadinya mereka menggunakan mobil seharga lebih dari 400 juta rupiah. Kini mobil diganti dengan kendaraan seharga 200 juta rupiah atau malah mobil bekas di bawah 100 juta rupiah. Bahkan beberapa orang secara drastis beralih ke sepeda motor. Sisa hasil penjualan diamankan sebagai tabungan atau aset yang nilainya terus bertumbuh.

  2. 2. Beralih dari ojol ke angkutan massal

    KRL
    ilustrasi KRL (pexels.com/Faisal | @Photobapak)

    Bukan cuma pengguna kendaraan pribadi yang perlu memutar otak menghadapi situasi ekonomi yang tidak bergairah. Masyarakat yang sehari-harinya memakai kendaraan umum pun sama. Mereka mesti mencari alternatif transportasi yang lebih ramah di kantong.

    Sebenarnya tarif ojek online biasanya sudah lebih murah daripada ojek pengkolan. Namun, itu masih lebih tinggi daripada alat transportasi massal seperti angkot dan bus. Apalagi jika alat transportasi massal telah terintegrasi dan penumpang hanya perlu membayar satu kali meski berpindah kendaraan.

  3. 3. Take over KPR

    rumah dijual
    ilustrasi rumah dijual (pexels.com/Thirdman)

    Beban kredit rumah juga kerap menjadi masalah bagi masyarakat kelas menengah ketika perekonomian nasional memburuk atau pekerjaan bermasalah. Terlebih setelah bunga KPR floating. Pilihan yang paling masuk akal ketika mereka mulai tak sanggup membayar cicilan adalah take over KPR.

    Kebutuhan akan tempat tinggal dipenuhi dengan cara lain. Mereka dapat mengambil rumah yang jauh lebih sederhana atau mengontrak saja jika perhitungan biayanya menjadi lebih ekonomis. Bila mereka mempertahankan KPR yang sedang berjalan padahal cicilannya telah melampaui 30 persen total pendapatan tentu pos pengeluaran lain akan terganggu.

  4. 4. Beli bekas atau sewa daripada baru

    berbelanja
    ilustrasi berbelanja (pexels.com/Andrey Matveev)

    Masyarakat kelas menengah juga rela mengorbankan keinginan untuk memiliki sesuatu, apalagi barang baru yang mahal. Sebuah produk tetap dibutuhkan, tetapi mereka tidak lagi merasa harus membelinya. Selagi produk masih dapat disewa, kenapa gak?

    Contohnya, mereka menyewa smartphone dengan kamera yang lebih baik saat ada acara yang memerlukan banyak dokumentasi. Andai pun mereka masih lebih suka membeli perangkatnya, pilihan jatuh pada barang bekas. Mereka belajar untuk lebih fokus pada fungsinya plus kesesuaian harga dengan kemampuan kocek.

  5. 5. Anak pindah dari sekolah swasta ke negeri

    anak sekolah
    ilustrasi anak sekolah (pexels.com/Nasirun Khan)

    Ini tentu menjadi pilihan terakhir orangtua. Rasanya sangat berat karena tidak sesuai dengan semangat dan harapan mereka di awal untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak. Bukan berarti sekolah negeri buruk, tapi fasilitas di sekolah swasta kerap kali lebih lengkap dan modern.

    Akan tetapi, opsi ini mau tak mau harus diambil apabila orangtua sudah merasa berat dengan biaya sekolah swasta. Yang terpenting, anak tidak putus sekolah. Ini juga berat bagi anak sebab mesti kembali melakukan adaptasi dengan sekolah barunya.

  6. 6. Dulu menstok barang kebutuhan, sekarang baru beli setelah habis

    berbelanja
    ilustrasi berbelanja (pexels.com/Edward)

    Mungkin kamu juga mulai merasakan. Dulu enteng saja buatmu memasukkan banyak belanjaan ke keranjang setiap belanja bulanan. Pikirmu, daripada dirimu bolak-balik ke supermarket, mending sekalian menstok barang-barang yang pasti terpakai.

    Belanja banyak sekalian kadang juga membuatmu memperoleh potongan. Masalahnya, sekarang nilai uang yang sama gak bisa lagi buat membeli produk sebanyak itu. Atau, jumlah penghasilan sedang menurun.

    Masyarakat kelas menengah tidak lagi bisa mengamankan stok kebutuhan di rumah. Mereka baru kembali berbelanja setelah barang di rumah benar-benar habis. Ini memudahkan mereka mengatur pengeluaran saat kas terbatas.

  7. 7. Ubah merek mahal ke merek yang lebih murah

    berbelanja
    ilustrasi berbelanja (pexels.com/Tianwang Xiao)

    Terkait produk perawatan wajah dan tubuh, misalnya. Sebagian masyarakat bisa jadi telah mengalami beberapa kali downgrade. Awalnya mereka memakai produk dengan harga per kemasan saja mencapai ratusan ribu rupiah.

    Lantaran daya belinya menurun, mereka beralih ke produk dengan harga puluhan ribu rupiah. Ketika itu tak lagi efektif karena penurunan daya beli terus terjadi, mereka kembali banting setir ke produk seharga belasan ribu rupiah. Terpenting, produk sama-sama memiliki izin BPOM.

    Masyarakat kelas menengah bertarung sangat keras menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan dan penurunan penghasilan. Sebagian dari mereka bahkan bisa terjun ke kelompok miskin apabila perekonomian tak kunjung membaik. Selain tujuh strategi downgrade kelas menengah saat daya beli melemah di atas, apa saja yang sudah dilakukan olehmu sebagai upaya bertahan di tengah situasi ekonomi yang mencekik?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More