Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gak Harus Ribet, Sustainable Living Bisa Dimulai dari Hal Kecil
Talk Session: Collective for Sustainable Movement di Melting Pop, M Bloc Space, Jakarta, pada Sabtu (31/10/2026) (IDN Times/Maura Thirza)
  • Sesi Collective for Sustainable Movement di Jakarta menekankan bahwa gaya hidup berkelanjutan dapat dimulai dari tanggung jawab individu atas sampah yang dihasilkan.
  • Konsep Seven Second Action mengajak masyarakat membilas dan mengeringkan kemasan sebelum dibuang, sehingga proses pengolahan ulang menjadi lebih mudah dan mengurangi tahapan tambahan.
  • Gerakan kolektif melibatkan komunitas dan bisnis, termasuk kedai kopi di M Bloc Space, untuk mendukung pengelolaan sampah melalui fasilitas pembilasan, pengumpulan puntung rokok, dan pengolahan material.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menjalani gaya hidup berkelanjutan sering kali terdengar seperti sebuah perubahan besar yang membutuhkan usaha yang besar. Mulai dari mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, hingga memilih produk ramah lingkungan. Namun, bagaimana jika langkah kecil untuk menjaga lingkungan ternyata bisa dimulai dengan mudah dan cepat? 

Hal ini dibahas dalam Talk Session: Collective for Sustainable Movement di Melting Pop, M Bloc Space, Jakarta pada Sabtu (31/10/2026). Melalui sesi tersebut, beberapa panelis membagikan pandangan tentang pentingnya tanggung jawab individu dan gerakan kolektif dalam membangun kebiasaan berkelanjutan. Ternyata, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa mulai diterapkan tanpa harus mengubah seluruh rutinitas sehari-hari.

1. Mulai dari bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan sendiri

Robert Wanasida, Founder Kopi Nako dan CEO Daur Baur Micro Factory menjelaskan bahwa sustainability juga berkaitan dengan kesadaran individu (IDN Times/Maura Thirza)

Setelah menghabiskan minuman atau makanan, kita biasanya langsung membuang kemasannya ke tempat sampah tanpa memikirkan proses selanjutnya. Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya ada tanggung jawab yang belum selesai setelah seseorang menggunakan sebuah produk. Robert Wanasida, Founder Kopi Nako dan CEO Daur Baur Micro Factory, menjelaskan bahwa sustainability tidak melulu berkaitan dengan penggunaan material ramah lingkungan atau proses daur ulang. Kesadaran individu untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan, justru menjadi titik awal perubahan.

“Mungkin ini jadi kayak pengennya kita membawa sustainability menjadi satu hal yang inklusif, gak lagi menjadi sesuatu yang eksklusif. Kita pengennya tuh sustainability bisa dilakukan, dinikmati oleh semua kalangan, semua orang. Karena sebenarnya, sustainability itu mudah asal kita melakukannya. Banyak yang mengira bahwa sustainability itu hanya material, pengolahan material, recycle. Sedangkan individu itu menjadi salah satu titik awal dari sustainability sendiri. Being responsible itu menjadi satu awalan dari semua hal besar yang kami ataupun kita lakukan selama ini,” ungkap Robert.

2. Luangkan tujuh detik untuk membersihkan kemasan sebelum dibuang

Salah satu hasil konsumsi Kopi Nako yang diolah menjadi elemen infrastruktur (IDN Times/Maura Thirza)

Setelah menghabiskan minuman dalam kemasan, kebanyakan orang mungkin langsung meremas atau membuangnya begitu saja. Padahal, menyisakan sedikit waktu untuk membersihkan kemasan bisa membantu proses pengolahan sampah berikutnya. Dalam sesi ini, Rony Rahardian, COO Daur Baur Micro Factory memperkenalkan konsep Seven Second Action, yakni kebiasaan sederhana yang hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh detik. 

Salah satu contohnya adalah membilas kemasan minuman sebelum dibuang agar lebih mudah diolah kembali. Ia mencontohkan kemasan susu karton yang perlu dibersihkan karena sisa susu dapat membusuk ketika terpapar udara. Langkah sederhana tersebut ternyata bisa mengurangi tahapan pengolahan di fasilitas daur ulang.

“Langkah kecil dengan membersihkan kemasan itu penting. Susu itu dalam waktu 6 jam ketika terpapar sebuah udara, pasti basi. Nah, ketika akan diolah, itu akan ada extra treatment. Itu kan langkah simpel ya. Membersihkan susu kemasan menjadi bersih dan kering, itu sangat membantu ketika teman-teman membuat sebuah produk. Dia menghilangkan beberapa step dibanding kita asal buang,” jelas Rony.

3. Bangun kebiasaan berkelanjutan bersama orang lain

Rony Rahardian, COO Daur Baur Micro Factory menyampaikan bahwa praktik sustainability lebih mudah jika dilakukan secara kolektif (IDN Times/Maura Thirza)

Perubahan bisa dimulai dari diri sendiri, namun bukan berarti seseorang harus melakukan semuanya sendirian. Justru, keterlibatan komunitas, pelaku bisnis, dan masyarakat bisa membuat gerakan keberlanjutan berjalan lebih luas. Hal ini juga yang mendasari terbentuknya Daur Baur Kolektif. Rony Rahardian, COO Daur Baur Micro Factory, menyampaikan bahwa gerakan tersebut melibatkan berbagai pihak untuk saling mendukung dalam mengembangkan praktik sustainability. 

Salah satu contohnya adalah kolaborasi dengan sejumlah kedai kopi di sekitar M Bloc Space melalui penyediaan mesin pembilas gelas dan tempat pengumpulan puntung rokok. Menurutnya, tanggung jawab terhadap sampah juga perlu diterapkan dalam operasional bisnis. Bahkan, Daur Baur Micro Factory kini turut mengelola material hasil konsumsi Kopi Nako untuk diolah kembali menjadi produk dan elemen infrastruktur.

“Intinya setelah di-research, ternyata sustainability itu akan lebih mudah ataupun akan lebih baik jalannya ketika kita kolektif. Saling mengisi kekurangannya dan kita bisa mentransfer apa yang kita tahu. Harapannya apa yang kita bisa, bisa ditularkan kepada teman-teman dengan industri sejenis. Harapannya semua bisa melakukan hal yang mungkin akan lebih baik jika diolah mandiri kalau bisa. Kalau gak bisa, apa yang kami kerjakan bisa menjadi katalis buat teman-teman,” ungkap Rony.

Untuk menjalani gaya hidup berkelanjutan ternyata gak harus menunggu sampai punya akses ke produk ramah lingkungan atau terlibat dalam gerakan besar dulu. Ada hal-hal sederhana yang bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari, termasuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah sendiri. Gak harus dengan gerakan yang besar, seseorang yang melakukannya dengan konsisten juga bisa membawa perubahan yang berkelanjutan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article