Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tanda Kamu Memiliki Kebiasaan Snobbery saat Menilai Buku

3 min read
5 Tanda Kamu Memiliki Kebiasaan Snobbery saat Menilai Buku
ilustrasi berdiskusi dengan teman (magnific.com/stockking)
  • Book snobbery muncul saat seseorang menganggap buku populer atau genre tertentu lebih rendah, lalu mengabaikan manfaat dan pengalaman berbeda yang dirasakan pembacanya.
  • Sikap elitis terlihat ketika karya klasik dijadikan ukuran kecerdasan, buku self-help diremehkan, atau rekomendasi pribadi dipaksakan kepada pembaca lain.
  • Membaca demi pengakuan sosial dan menyembunyikan bacaan ringan juga menjadi tanda snobbery; kritik tetap boleh disampaikan tanpa merendahkan orang yang menikmati buku tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Punya banyak buku di rak atau rutin membaca karya sastra klasik memang menyenangkan. Namun, kebiasaan membaca bisa terasa kurang nyaman ketika kamu mulai menganggap pilihan bacaan orang lain lebih rendah daripada koleksimu sendiri. Tanpa sadar, kamu bisa terjebak dalam book snobbery, yaitu kebiasaan merasa bacaanmu lebih bagus daripada pilihan buku orang lain.

Setiap pembaca punya alasan berbeda saat memilih buku, mulai dari mencari hiburan hingga memahami persoalan hidup. Sayangnya, sikap elitis membaca terkadang muncul ketika selera pribadi dijadikan ukuran kecerdasan atau kualitas seseorang. Kenali lima tanda kamu memiliki kebiasaan snobbery saat menilai buku agar komunitas membaca terasa lebih inklusif.

  1. 1. Menganggap buku populer kurang berkualitas

    ilustrasi berdiskusi dengan komunitas membaca
    ilustrasi berdiskusi dengan komunitas membaca (magnific.com/magnific)

    Temanmu baru saja menyelesaikan novel romantis yang sedang ramai dibicarakan. Alih-alih ikut mendengarkan ceritanya, kamu langsung menyebut buku tersebut terlalu ringan dan gak layak dibaca. Bagimu, buku dengan pembahasan kompleks terasa lebih pantas mendapat perhatian.

    Selera bacaan memang berbeda, tetapi popularitas gak otomatis menentukan kualitas sebuah buku. Novel populer bisa membantu pembaca menikmati cerita, memahami emosi, atau menemukan perspektif baru. Ketika kamu meremehkan genre tertentu, kamu berisiko menutup kesempatan untuk memahami pengalaman membaca orang lain.

  2. 2. Menjadikan buku klasik sebagai ukuran kecerdasan

    ilustrasi berdiskusi dengan teman
    ilustrasi berdiskusi dengan teman (magnific.com/stockking)

    Membaca karya sastra klasik bisa memperluas wawasan dan memperkenalkanmu pada pemikiran dari zaman berbeda. Masalah muncul ketika kamu mulai menganggap orang yang belum membaca Dostoyevsky atau Virginia Woolf kurang berpengetahuan. Pilihan bacaan pun berubah menjadi alat untuk membandingkan siapa yang lebih pintar.

    Padahal, setiap orang punya waktu dan kebutuhan membaca yang berbeda. Ada yang baru mulai membaca setelah bertahun-tahun merasa buku itu membosankan. Menghargai proses tersebut membuatmu lebih terbuka terhadap pembaca baru tanpa harus mengurangi kecintaanmu pada sastra klasik.

  3. 3. Meremehkan pembaca buku self-help

    ilustrasi komunitas membaca
    ilustrasi komunitas membaca (magnific.com/magnific)

    Ketika teman bercerita bahwa buku self-help membantunya mengatur keuangan atau menghadapi perubahan hidup, kamu malah menganggapnya terlalu dangkal. Kamu merasa persoalan manusia lebih layak dibahas melalui filsafat atau karya sastra serius. Akibatnya, percakapan tentang buku berubah menjadi ajang untuk menunjukkan selera pribadi.

    Buku pengembangan diri memang punya kualitas yang beragam dan gak semuanya menawarkan gagasan mendalam. Namun, kebutuhan pembaca juga gak selalu sama dengan kebutuhanmu. Daripada buru-buru merendahkan, kamu bisa membahas bagian yang menarik sekaligus mengkritisi isinya secara spesifik.

  4. 4. Sering mengoreksi pilihan bacaan orang lain

    ilustrasi komunitas membaca
    ilustrasi komunitas membaca (magnific.com/magnific)

    Temanmu sedang menikmati novel fantasi, tetapi kamu terus menyarankan buku yang menurutmu lebih berbobot. Kamu bahkan menganggap rekomendasimu sebagai bantuan agar selera mereka berkembang. Padahal, mereka mungkin hanya ingin menikmati cerita tanpa merasa sedang mengikuti ujian literasi.

    Rekomendasi akan terasa menyenangkan ketika diberikan tanpa merendahkan pilihan sebelumnya. Kamu tetap boleh berbagi buku favorit, tetapi beri ruang bagi teman untuk menentukan minatnya sendiri. Dalam komunitas membaca, percakapan yang terbuka jauh lebih menarik daripada perlombaan membuktikan siapa yang paling berwawasan.

  5. 5. Membaca demi pengakuan, bukan kesenangan

    ilustrasi komunitas membaca
    ilustrasi komunitas membaca (magnific.com/magnific)

    Terakhir, tanda kamu memiliki kebiasaan snobbery saat menilai buku adalah dirimu membaca demi pengakuan, bukan kesenangan. Kamu sengaja memamerkan daftar bacaan yang dianggap bergengsi agar terlihat berwawasan di media sosial. Sebaliknya, buku ringan yang sebenarnya kamu nikmati justru disembunyikan karena takut dinilai kurang intelektual. Tanpa sadar, pengakuan orang lain mulai memengaruhi caramu menikmati kegiatan membaca.

    Keinginan berbagi bacaan tentu wajar, tetapi kamu perlu mengenali alasan di baliknya. Membaca gak harus selalu menjadi bukti kecerdasan atau identitas sosial. Saat kamu berani menikmati buku tanpa sibuk memikirkan penilaian orang, pengalaman membaca terasa lebih jujur dan menyenangkan.

    Menghargai genre buku bukan berarti kamu harus menyukai semua bacaan yang ditemui. Kamu tetap boleh mengkritik isi buku tanpa merendahkan orang yang menikmatinya. Komunitas membaca akan terasa lebih hidup ketika setiap orang bebas berbagi cerita tanpa takut seleranya dijadikan ukuran harga diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More