Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Bentuk Tekanan Sosial yang Bisa Dialami Pembaca di Komunitas Literasi
ilustrasi komunitas literasi (pexels.com/Guillermo Berlin)

Komunitas literasi dapat menjadi ruang yang menyenangkan untuk menemukan buku baru, bertukar rekomendasi, dan berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa. Berada di tengah pembaca lain juga bisa membuat seseorang lebih termotivasi untuk membaca dan memperluas wawasannya.

Namun, interaksi dalam komunitas juga dapat menghadirkan tekanan sosial tertentu. Ekspektasi yang awalnya dimaksudkan sebagai motivasi terkadang membuat seseorang merasa harus mengikuti standar tertentu agar dapat diterima. Jika tidak disadari, pengalaman membaca yang seharusnya menyenangkan justru bisa berubah menjadi aktivitas yang terasa penuh tuntutan.

1. Merasa harus membaca dalam jumlah tertentu

ilustrasi komunitas literasi (pexels.com/Andy Barbour)

Reading challenge dan target membaca dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk menjaga konsistensi. Namun, ketika melihat anggota komunitas lain berhasil menyelesaikan puluhan bahkan ratusan buku, sebagian pembaca bisa merasa tertinggal. Target pribadi yang awalnya dibuat untuk memotivasi akhirnya berubah menjadi angka yang harus dikejar agar tidak merasa kalah dibandingkan pembaca lain.

Padahal, jumlah buku yang mampu diselesaikan sangat dipengaruhi oleh waktu luang, kesibukan, jenis buku, dan kecepatan membaca masing-masing orang. Membaca lebih sedikit bukan berarti seseorang kurang menikmati buku atau memiliki pengalaman literasi yang lebih rendah. Target membaca seharusnya membantu seseorang membangun kebiasaan, bukan menjadi ukuran untuk menentukan siapa yang paling produktif.

2. Merasa harus membaca buku yang sedang populer

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Nam Phong Bùi)

Ketika sebuah buku ramai dibicarakan dalam komunitas, muncul dorongan untuk ikut membacanya agar tidak merasa tertinggal dari percakapan. Hal ini bisa semakin kuat ketika hampir setiap diskusi, unggahan, atau rekomendasi berkaitan dengan judul yang sama. Akhirnya, seseorang dapat merasa perlu membaca buku tertentu meskipun sebenarnya tidak terlalu tertarik.

Tekanan semacam ini dapat membuat kegiatan membaca terasa seperti mengikuti tren. Padahal, tidak semua buku yang populer akan sesuai dengan selera setiap pembaca. Melewatkan buku yang sedang ramai bukan berarti seseorang kurang mengikuti perkembangan literasi. Pembaca tetap dapat memilih bacaan berdasarkan ketertarikan pribadi tanpa harus membaca semua judul yang sedang menjadi pembicaraan.

3. Takut dianggap memiliki selera bacaan yang "rendah"

ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/Uriel Lu)

Dalam komunitas yang memiliki anggota dengan preferensi beragam, perbedaan selera sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, komentar tentang genre tertentu yang dianggap lebih "berkualitas" dapat membuat pembaca merasa perlu menyembunyikan buku yang mereka sukai. Pembaca romance, fantasi, komik, atau novel populer misalnya bisa merasa ragu untuk menyebutkan bacaannya ketika lingkungan sekitar cenderung mengutamakan karya sastra atau buku nonfiksi.

Perasaan tersebut dapat berkembang menjadi bookshaming, terutama jika seseorang pernah mendapatkan komentar yang meremehkan pilihan bukunya. Lama-kelamaan, pembaca mungkin memilih buku bukan berdasarkan apa yang ingin dibaca, melainkan berdasarkan apa yang aman untuk dibicarakan di lingkungan komunitas. Padahal, selera membaca merupakan bagian personal dari pengalaman seseorang dan tidak harus selalu sama dengan mayoritas.

4. Merasa harus memiliki pendapat yang "cerdas" tentang buku

ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/cottonbro studio)

Diskusi buku sering kali mendorong pembaca untuk melihat sebuah karya dari berbagai sudut pandang. Akan tetapi, hal tersebut dapat terasa menekan bagi orang yang belum terbiasa melakukan analisis mendalam. Ketika anggota lain mampu membahas simbolisme, konteks sejarah, teori sastra, atau berbagai interpretasi, seseorang bisa merasa bahwa pendapat sederhana seperti "aku suka karakternya" tidak cukup layak untuk disampaikan.

Tekanan tersebut dapat membuat pembaca memilih diam meskipun sebenarnya memiliki pengalaman menarik terhadap buku yang dibaca. Padahal, tidak semua orang membaca dengan tujuan menghasilkan analisis akademis. Respons emosional, pengalaman personal, atau kesan sederhana terhadap sebuah cerita juga dapat menjadi bagian dari percakapan. Diskusi yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi berbagai tingkat pengetahuan dan cara membaca.

5. Merasa harus menunjukkan bahwa dirinya adalah "pembaca yang baik"

ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/cottonbro studio)

Tekanan dari komunitas pada akhirnya dapat membuat seseorang merasa perlu membangun citra sebagai pembaca yang ideal. Hal ini bisa terlihat dari keinginan untuk selalu membaca buku yang dianggap berkualitas, mengikuti tantangan membaca, mengetahui karya-karya terkenal, atau memiliki pengetahuan luas tentang sastra. Membaca yang awalnya dilakukan karena kesenangan kemudian dapat terasa seperti sesuatu yang harus dibuktikan kepada orang lain.

Padahal, menjadi pembaca tidak harus memenuhi satu standar tertentu. Ada orang yang membaca setiap hari, ada yang hanya membaca sesekali, dan ada pula yang memiliki periode panjang ketika tidak menyentuh buku sama sekali. Pengalaman tersebut tetap merupakan bagian dari perjalanan masing-masing. Komunitas literasi seharusnya menjadi ruang untuk berbagi pengalaman dan menemukan bacaan, bukan tempat untuk terus-menerus membuktikan siapa yang paling layak disebut pembaca.

Berada di komunitas literasi tidak berarti seseorang harus mengikuti semua kebiasaan atau standar yang berlaku di dalamnya. Target membaca, tren buku, diskusi mendalam, dan rekomendasi bacaan dapat menjadi hal positif selama tidak berubah menjadi tuntutan. Membaca tetap merupakan pengalaman personal, sehingga setiap orang berhak menemukan ritme dan selera bacaannya sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article