Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
The Unfinished Room Theory, Pengingat bahwa Kita Masih Bertumbuh
ilustrasi renovasi ruangan utama (pexels.com/Blue Bird)
  • The Unfinished Room Theory menggambarkan diri sebagai ruang yang terus dibangun melalui pengalaman, kesalahan, dan perubahan, sehingga tidak semua jawaban tentang masa depan harus ditemukan sekarang.
  • Membandingkan pencapaian dengan unggahan media sosial dapat membuat seseorang mengabaikan progres pribadinya; setiap orang memiliki perjalanan berbeda dan media sosial tidak menampilkan seluruh cerita.
  • Ketidaksempurnaan serta kesalahan berulang adalah bagian wajar dari hidup; seseorang tetap layak dihargai sambil belajar memperbaiki diri, mengelola emosi, dan membangun hubungan lebih sehat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Malam itu, kamu sedang duduk di tempat tidur sambil scrolling media sosial. Awalnya kamu hanya ingin melihat kabar teman-teman lama, namun setelah beberapa menit, kamu menemukan foto seorang teman yang baru saja mendapatkan pekerjaan impiannya, disusul teman lain yang mengumumkan rencana pernikahan. Ada juga seseorang yang dulu sering bercerita tentang kebingungannya menentukan masa depan, tetapi sekarang terlihat begitu yakin dengan jalan hidupnya.

Kamu ikut senang melihat mereka bahagia, meski entah kenapa, setelah menutup aplikasi, kamu justru memikirkan hidupmu sendiri. Kamu mulai menghitung hal-hal yang belum tercapai, keputusan yang masih membuatmu ragu, hingga rencana yang berkali-kali berubah.

Rasanya seperti orang lain sudah berhasil menata rumah mereka, sementara kamu masih berdiri di sebuah ruangan kosong dengan dinding yang belum dicat atau The Unfinished Room Theory. Kamu melihat diri sendiri sebagai ruang yang terus dibangun, tempat pengalaman, kesalahan, dan perubahan menjadi bagian dari proses pertumbuhan.

1. Gak semua hal harus kamu pahami sekarang

ilustrasi memahami diri sendiri (unsplash.com/giulia_bartelli)

Ada pertanyaan yang belakangan terus berputar di kepalamu, “Sebenarnya, kamu mau menjadi apa?” Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana ketika muncul dalam percakapan keluarga atau saat bertemu teman lama. Namun ketika kamu sendiri belum menemukan jawabannya, obrolan singkat tersebut bisa terbawa sampai berjam-jam setelahnya.

Kamu pernah punya rencana yang terasa begitu meyakinkan. Kamu sudah membayangkan pekerjaan yang ingin ditekuni, kota tempat ingin tinggal, bahkan kehidupan seperti apa yang ingin dibangun beberapa tahun mendatang. Namun semakin banyak pengalaman yang kamu temui, semakin banyak pula hal yang mulai kamu pertanyakan. 

Dalam laman Psychology Today, Nancy Colier, seorang psikoterapis, menjelaskan ketika seseorang memberi diri sendiri izin untuk tidak mengetahui segalanya, ia membiarkan hidup mengungkapkan apa yang memang perlu terungkap, pada waktunya sendiri, tanpa memaksakannya. 

Mungkin kamu memang belum tahu akan menjadi siapa beberapa tahun lagi. Namun, kamu tidak harus memiliki seluruh jawabannya sekarang. Terkadang, membiarkan satu ruangan tetap kosong adalah bagian dari proses menemukan apa yang benar-benar ingin kamu tempatkan di sana.

2. Berhenti mengukur hidupmu dengan kemajuan orang lain

ilustrasi membandingkan diri dengan orang lain (pexels.com/cottonbro studio)

Awalnya kamu membuka media sosial hanya untuk melihat kabar temanmu. Akan tetapi, akhirnya kamu malah jadi merenungi kehidupanmu sendiri yang dirasa tidak mengalami kemajuan. Satu unggahan membawa kamu ke unggahan lain, sampai tanpa sadar kamu membandingkan pekerjaan, hubungan, pencapaian, bahkan cara orang lain menikmati hidup.

Menurut Keith Payne, Ph.D, profesor psikologi dan ilmu saraf di University of North Carolina, “Membandingkan diri sebenarnya tidak selalu merugikan, tetapi dalam konteks tertentu, kebiasaan itu justru lebih banyak membawa dampak buruk daripada manfaat,” dikutip dari Prevention.

Kamu tahu bahwa setiap orang punya perjalanan masing-masing. Kamu juga tahu bahwa media sosial tidak menampilkan seluruh cerita seseorang. Meski begitu, kamu tetap bertanya-tanya mengapa orang lain tampaknya sudah sampai di tempat yang kamu inginkan, sementara kamu masih berusaha mencari arah.

Barangkali masalahnya bukan karena kamu tidak berkembang. Kamu hanya terlalu sibuk memperhatikan ruangan orang lain sampai lupa melihat perubahan yang sudah terjadi di ruanganmu sendiri.

3. Kamu tetap berharga meski masih banyak yang perlu diperbaiki

ilustrasi melihat dirimu berharga (pexels.com/Hassan OUAJBIR)

Ada hari-hari ketika kamu merasa sudah berkembang cukup jauh. Namun, ada juga hari dimana kamu mendapati dirimu melakukan kesalahan yang sama. Saat itu terjadi, semua kemajuan yang pernah kamu banggakan seolah-olah tidak ada artinya. Kamu mulai mempertanyakan apakah dirimu benar-benar berubah atau hanya berjalan di tempat. 

Menurut Kristin Neff, Associate professor di Departemen Psikologi Pendidikan, Universitas Texas di Austin, “Mengingat bahwa ketidaksempurnaan merupakan bagian dari pengalaman hidup yang kita alami bersama sebagai manusia. Sebagai manusia, kita tidak sempurna, begitu pula kehidupan kita. Akan ada hal-hal yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita, dan itu adalah sesuatu yang wajar. Kita justru bisa merasa terhubung dengan orang lain melalui ketidaksempurnaan tersebut, alih-alih merasa berbeda dan terasing dari mereka,” dikutip dari Greater Good Magazine.

Menerima diri bukan berarti membiarkan semua kebiasaan buruk terus bertahan. Kamu tetap bisa belajar mengelola emosi, membangun hubungan yang lebih sehat, dan memperbaiki cara memperlakukan diri sendiri. Bedanya, kamu tidak harus menunggu sampai berhasil melakukan semuanya untuk mengakui bahwa dirimu juga layak dihargai.

Sebab, ruangan yang belum selesai tetap bisa menjadi tempat untuk beristirahat. Kamu tidak harus menunggu seluruh dinding dicat atau semua furnitur tertata sebelum merasa nyaman berada di dalamnya. Begitu pula dengan kehidupanmu.

Malam itu kamu masih belum tahu kapan semua yang sedang diusahakan akan menemukan hasilnya. Beberapa pertanyaan masih belum terjawab, rencana masih bisa berubah, dan ada bagian dari dirimu yang belum sepenuhnya kamu pahami. Namun sebelum kembali membuka Instagram dan menghitung pencapaian orang lain, cobalah melihat ruanganmu sendiri sekali lagi.

Mungkin memang masih ada dinding yang belum selesai, tetapi bukan berarti tidak ada progres lain yang sudah kamu bangun. Kamu masih bertumbuh dan itu sudah menjadi bagian penting dari ceritamu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article