Kisah Personal Trainer Mengajar di Gym Saat Puasa, Jadwal Makin Padat

#RamadanMasaKini Jangan jadikan puasa sebagai halangan

Sebagian orang menjadikan puasa sebagai alasan untuk mengurangi produktivitasnya, terutama aktivitas-aktivitas berat. Padahal, seharusnya puasa jadi trigger positif untuk tetap melakukan banyak hal seperti hari biasanya.

Sama seperti olahraga. Banyak orang menghindarinya karena takut puasanya batal akibat tidak kuat menahan haus dan lapar. Namun, ini tak berlaku bagi Abdul Rohman, seorang personal trainer atau gym trainer di Atlas Sport Club Surabaya. 

Pria kelahiran Lamongan, 24 November 1990, itu berprinsip tak ada perubahan aktivitas selama bulan puasa. Bukannya mengurangi jam mengajar gym atau latihannya selama puasa, jadwalnya justru semakin padat. 

"Kalau saya masih bisa, saya iya-in. Selama saya belum sakit, berarti masih bisa," kata Rohman, sapaan akrabnya, kepada IDN Times, Jumat (3/5).

Banyak cerita unik Rohman selama mengajar gym saat bulan puasa. Yuk, simak kisahnya di bawah ini!

1. Puasa bukan halangan untuk beraktivitas normal

Kisah Personal Trainer Mengajar di Gym Saat Puasa, Jadwal Makin PadatIDN Times/Doel

Selama ini, Rohman mengajar kelas TRX Suspension Training (Total Body Resistance Excercise), RPM Spinning (Rapid Power Motion), dan personal trainer di Atlas. Dalam sehari, ia bisa mengajar dua kelas sekaligus, pada pagi dan sore hari. Belum lagi masih harus training Body Pump dan kelas lainnya.

Fyi, TRX merupakan olahraga yang mengandalkan kekuatan tangan dan kaki sebagai tumpuan, serta tali elastis sebagai alat bantunya. Sedangkan, RPM dilakukan dengan mengayuh sepeda statis, biasanya dalam waktu 45-60 menit. Kedua olahraga tersebut termasuk olahraga berat, karena membakar kalori sangat banyak dalam tiap sesinya. 

Menurut Rohman, tak ada perbedaan antara puasa dan tidak, apalagi untuk level profesional. "Yang jadi masalah adalah soal nutrisinya," kata dia. "Yang pasti kualitas makannya harus lebih diperhatikan."

2. Apa saja sih tantangan terbesarnya?

Kisah Personal Trainer Mengajar di Gym Saat Puasa, Jadwal Makin PadatIDN Times/Doel

Alumni Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Negeri Surabaya itu menceritakan tantangan terbesarnya adalah menjaga kondisi tubuh tetap prima dan performa yang optimal. "Kita dituntut harus benar-benar profesional, meyakinkan member bahwa gak ada bedanya performa saat puasa atau tidak," ujar Rohman. "Itu yang sedikit berat."

Rohman berprinsip para member datang jauh-jauh dan meluangkan waktu di tengah kesibukannya untuk mendapatkan kelas workout yang optimal. "Jadi saya harus memberikan yang terbaik buat mereka. Masak mereka sudah bela-belain, tapi kita justru gak all out, kalau posisinya dibalik gimana?"

Meski demikian, dia tak pernah kepikiran untuk membatalkan puasanya di tengah jalan. Hanya saja, kalau kelas terlalu padat, dia merasa badan cepat lemas. Apalagi kelas pagi biasanya membutuhkan kardiovaskular yang membuat keringat keluar lebih banyak dan cepat haus. 

"Otomatis tingkat dehidrasinya juga tinggi. Kadang-kadang, bawaannya pengin tidur, lemas," katanya. Kalau sudah begini, Rohman biasanya memilih istirahat dan menyimpan energi untuk kelas berikutnya. 

3. Kebanyakan member justru menghormati dengan tidak minum di kelas

Kisah Personal Trainer Mengajar di Gym Saat Puasa, Jadwal Makin PadatIDN Times/Doel

Dengan tuntutan harus mengajar dalam performa yang prima saat puasa, Rohman tak menjadikannya sebagai beban. Apalagi kebanyakan member-nya tidak berpuasa dan bisa minum kapan saja ketika haus. 

"Kadang member justru menghormati saya. Mereka sekelas ikutan gak minum, apalagi di depan saya. Ini yang unik, hehehe," tutur alumni SMA 1 Karangbinangun, Lamongan, tersebut.

Padahal ia tak mempermasalahkan orang yang minum atau makan, sekali pun di depannya.  

4. Kadang berat, kadang jenuh, tapi ini soal passion!

Kisah Personal Trainer Mengajar di Gym Saat Puasa, Jadwal Makin PadatIDN Times/Doel

Meski tantangannya besar, Rohman menjalankannya dengan suka cita. Sebab, olahraga menjadi salah satu passion terbesarnya. Dulu saat kuliah, dia ingin menjadi guru olahraga. Namun, karena persaingan semakin tinggi, ia memutuskan untuk beralih dan mencoba fitness.

"Saya jadi yang pertama dari jurusan saya yang beralih ke tempat fitness,"  ucapnya. Selanjutnya dia memilih program TRX karena sesuai dengan passion-nya di bidang exercise.

Soal jenuh dan bosan, Rohman tak memungkiri pernah mengalaminya. Dia mengatasinya dengan cara melampiaskan kembali ke olahraga atau berwisata alam.

Memiliki banyak target juga membantunya mengatasi kebosanan dan membuatnya lebih refresh. Sesekali dia keluar ikut perlombaan olahraga, seperti maraton. "Jadi liburan sembari olahraga juga."

Kisah Personal Trainer Mengajar di Gym Saat Puasa, Jadwal Makin PadatIDN Times/Doel

Saat ditanya pernah kepikiran untuk menjadi binaragawan, Rohman mengiyakan. Dia pernah mengikuti beberapa body contest.

Hanya saja, dia kesulitan mengikuti kontes binaraga kelas berat, karena badannya susah gemuk. Alhasil, ia lebih memilih body contest dalam kelas-kelas kecil. "Yang penting saya sudah pengalaman ikut lomba dan pernah megang piala juga," katanya.

Selain itu, dia juga pernah masuk dalam tim Persatuan Sepak Bola Lamongan (Persela). Sempat terpikirkan untuk kembali masuk sebagai punggawa lapangan bola.  Rohman berkata, "Tapi kehidupan sepak bola masih jauh dari kata makmur. Buat mata pencaharian masih susah."

Kehidupan di gym memberikan banyak pelajaran berharga baginya. Ia harus selalu update dan meningkatkan skill-nya. Kalau tidak, ia akan ditinggalkan banyak orang. Ini bukan soal tuntutan perusahaan, kata dia, tapi lebih ke kemauan diri sendiri untuk terus update dan upgrade.

Di sisi lain, pekerjaannya ini membuatnya tak bisa menjalani Ramadan bersama keluarga. Saat ditanya soal rutinitas buka bersama dengan keluarga yang kerap ditunggu-tunggu sebagai momen spesial saat bulan puasa, ia menjawab, " Hampir gak pernah, ini sudah lima tahun lebih. Kadang cuma bisa teleponan sama ibu."

Bukan berarti tak merindukan momen Ramadan bersama keluarga, ia justru kerap teringat keluarga di kota kelahirannya. Menikmati momen Ramadan bersama teman-teman dekat dan beraktivitas lebih produktif menjadikan puasanya lebih bermakna.

Sebagai gantinya, pria yang hobi traveling itu meminta cuti agak panjang saat Lebaran untuk membayar lunas rindunya pada keluarga.

5. Jenis workout yang bisa dilakukan selama berpuasa

Kisah Personal Trainer Mengajar di Gym Saat Puasa, Jadwal Makin PadatIDN Times/Doel

Selama puasa, kamu tetap bisa melakukan olahraga favoritmu, hanya saja harus lebih memerhatikan waktunya. Ketika sebelum buka, sebaiknya memilih olahraga anaerobik, seperti latihan beban yang berfokus pada pembakaran kalori melalui pembentukan otot. 

Olahraga aerobik atau berfokus pada kardio tak begitu disarankan dijalankan sebelum buka puasa, apalagi untuk pemula. Sebab, puasa menyebabkan kita dehidrasi dan aerobik membuat keringat keluar lebih banyak. Sehingga berpotensi menyebabkan overdehidrasi. 

Bagi yang tidak suka nge-gym, kamu bisa memilih berjalan santai, bersepeda, naik-turun tangga, atau yoga. Durasinya sekitar 30-45 menit, sesuaikan dengan kondisi masing-masing. "Yang penting badannya gerak, jangan malah dibuat tidur terus," kata Rohman.

Selanjutnya setelah buka puasa, kita bisa lebih bebas memilih jenis workout, baik yang aerobik maupun anaerobik. Kata Rohman, "Mau kita bikin ngos-ngosan gak masalah, paling gak, nutrisi kita sudah cukup masuk."

Baca Juga: Sederet Keuntungan Jasmani dan Rohani ketika Kamu Rutin Melakukan Yoga

6. Tidur setelah olahraga, boleh gak?

Kisah Personal Trainer Mengajar di Gym Saat Puasa, Jadwal Makin PadatIDN Times/Doel

Biasanya, tubuh merasa lelah sesaat setelah olahraga. Namun, kita tak dianjurkan untuk langsung tidur.

Rohman menjelaskan jantung akan bekerja lebih keras ketika kita berolahraga, apalagi kalau jenisnya aerobik. Nah, kalau langsung tidur, badan masih dalam kondisi panas dan heart rate masih tinggi.

Oleh karena itu, kita harus menurunkan heart rate secara perlahan sampai dalam kondisi netral. Caranya bisa melakukan aktivitas ringan, seperti berjalan kaki atau berinteraksi dengan orang. 

Selain itu, kita bisa mempercepat recovery dan rileksasi tubuh dengan sauna, whirpool (kolam air dingin), atau jacuzzi (kolam air hangat). Tujuannya untuk memaksimalkan keringat keluar lebih banyak dan menutup pori-pori lebih cepat.

7. Makanan-makanan yang bisa bikin lebih sehat ketika puasa

Kisah Personal Trainer Mengajar di Gym Saat Puasa, Jadwal Makin PadatIDN Times/Doel

Banyak orang langsung berbuka dengan makan makanan berat, karena merasa sudah cukup lapar setelah puasa seharian. Sebenarnya hal ini sangat tidak disarankan.

Pasalnya, sistem pencernaan bekerja sangat lambat selama kita puasa. Nah, langsung makan berat saat berbuka akan menyebabkan lambung kaget dan dituntut bekerja lebih keras secara instan.

Hal tersebut bisa mengakibatkan asam lambung meningkat, begah, muntah, dan sebagainya. Rohman menyarankan kita berbuka dengan air mineral, isotonik, dan tiga buah kurma.

Kata dia, kurma terbukti secara ilmiah memiliki kadar gula dan kalori yang cukup tinggi. Sehingga hanya dengan tiga buah saja sudah bisa mengganti energi kita yang hilang karena puasa. Bisa juga menggantinya dengan buah anggur.

Setelah itu, kita bisa memberi jeda sekitar 1-2 jam untuk makan makanan berat. Kalau mau lebih sehat, dia menyarankan makanan-makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, seperti kentang dan nasi merah. "Tinggal gimana komposisi dan jumlah makanannya, tergantung aktivitas kita," tutur Rohman.

Adapun makanan pelengkap lainnya bisa dikonsumsi dua jam sebelum tidur. Bisa sayur rebus, bisa buah. 

Untuk sahur, sebenarnya tak ada perbedaan menu yang cukup signifikan. Dia menyarankan karbohidrat kompleks, sayur, dan buah supaya bisa kenyang lebih lama.

Sedangkan untuk kebutuhan cairan, kita bisa minum air mineral paling sedikit dua liter (selama buka sampai sahur) dan tambahan minuman isotonik. Minuman isotonik berfungsi mengikat cairan dalam tubuh, sehingga gak gampang dehidrasi.

8. Sebaiknya makan sebelum atau sesudah olahraga?

Kisah Personal Trainer Mengajar di Gym Saat Puasa, Jadwal Makin PadatIDN Times/Doel

Kadang kita dilema, sebaiknya makan sebelum atau sesudah olahraga? Kalau sebelum, takutnya merasa sakit ketika olahraga. Kalau sesudah, kita keburu kelaparan. Jadi bagaimana seharusnya?

Menurut Rohman, makan sebelum olahraga tetap dianjurkan. Waktunya sekitar satu jam sebelum olahraga. Bukan makan berat seperti nasi, tapi makanan-makanan yang mudah diserap tubuh, seperti buah, sayur, atau smoothies tanpa gula. 

Pun halnya dengan setelah olahraga, kita dianjurkan untuk makan makanan bernutrisi tinggi. Misalnya buah, sayur, dan protein untuk fungsi recovery. Rentang waktunya minimal satu jam setelah olahraga.

"Sayur dan buah sebenarnya sifatnya sudah seperti karbohidrat. Jadi nutrisi dapat, karbo juga dapat," ujarnya. 

9. Puasa bisa bikin kurus, benarkah?

Kisah Personal Trainer Mengajar di Gym Saat Puasa, Jadwal Makin PadatIDN Times/Doel

Banyak orang yang mengeluh berat badannya naik setelah puasa. Padahal seharusnya turun, ya gak?

Rohman menjelaskan ada tiga aspek yang harus diperhatikan ketika workout, terutama saat puasa. Di antaranya sistem latihan, pola makan, dan istirahat. "Salah satu gak jalan, dua lainnya juga gak akan jalan," ujarnya. 

Dia mencontohkan seseorang yang latihan tiga jam non-stop. Hal ini akan memengaruhi sistem istirahatnya, ibarat mesin yang dipaksa bekerja terus. "Pasti ada error-nya."

Sama halnya ketika kita membatasi makan dan istirahat cukup, tapi tidak ada aktivitas, berat badan juga bisa naik. "Jadi ketiganya ini berkaitan."

Nah, itulah cerita inspirasi dari Rohman yang bisa membakar semangat kita untuk tetap aktif dan produktif saat berpuasa. Karena puasa bukan halangan untuk melakukan banyak hal, ya gak? Selamat berpuasa!

https://www.youtube.com/embed/AkroY8vGrJA

Baca Juga: [LINIMASA] Fakta dan Data Arus Mudik Lebaran 2019

Topic:

  • Dewi Suci R.

Just For You