Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Hal yang Perlu Dipikirkan agar Kemasan Produk Beauty Tak Jadi Sampah

3 min read
3 Hal yang Perlu Dipikirkan agar Kemasan Produk Beauty Tak Jadi Sampah
Talkshow “Reimagining Circularity: Can Beauty Keep the Loop Going?” dalam acara Beauty in Sustainability ParagonCorp di Paragon Community Hub pada Rabu (30/9/2026) (IDN Times/Maura Thirza)
  • Penerapan circularity pada kemasan beauty dimulai dari mengurangi material, lalu mempertimbangkan penggunaan ulang dan daur ulang, sambil memilih bahan yang dapat diproses kembali.
  • Refill dan reuse perlu dirancang sejak awal dengan mempertimbangkan siklus hidup, efisiensi material, fungsi, serta estetika kemasan, terutama untuk produk kosmetik berwarna yang kompleks.
  • Daur ulang kemasan membutuhkan kolaborasi industri, sistem take-back, reverse logistics, dan infrastruktur pengumpulan agar material kompleks seperti sachet dapat dipilah serta diolah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Keberadaan produk kecantikan tidak berhenti ketika isinya habis saja. Setelah skincare, sampo, makeup, atau sabun digunakan, kemasannya masih meninggalkan pertanyaan. Apakah akan digunakan kembali, didaur ulang, atau justru berakhir sebagai sampah? Pertanyaan ini terjawab dalam pembahasan dalam Talkshow “Reimagining Circularity: Can Beauty Keep the Loop Going?” di acara Beauty in Sustainability ParagonCorp pada Rabu (30/9/2026) di Paragon Community Hub.

Dalam talkshow tersebut, para pelaku industri membahas bagaimana konsep circularity bisa diterapkan dalam produk kecantikan, mulai dari pemilihan material hingga sistem pengumpulan kembali kemasan. Para panelis membahas tantangan tersebut dari berbagai sudut pandang. Apa saja yang perlu diperhatikan agar kemasan beauty product bisa terus berkelanjutan?

  1. 1. Mulai dari mengurangi dan memilih material kemasan yang tepat

    Contoh kemasan produk berdesain solid yang menggunakan bahan biodegradable sebagai alternatif ramah lingkungan.
    Kemasan yang solid dengan kemasan yang misalnya biodegradable (IDN Times/Maura Thirza)

    Menurut Tiza Mafira, Co-Founder Dietplastik Indonesia, penerapan circularity sebaiknya dimulai dari hierarki reduce, reuse, dan recycle. Produsen perlu memikirkan lebih dulu bagaimana mengurangi penggunaan material, kemudian mempertimbangkan penggunaan kembali, sebelum akhirnya mendaur ulang kemasan.

    “Jadi, kita pikirkan adakah cara-cara untuk mengurangi. Adakah produk-produk yang bisa kita tawarkan dalam kemasan yang solid dengan kemasan yang misalnya bukan plastik sekali pakai? Bisa jadi biodegradable, misalnya kertas, yang bisa didaur ulang, dan sebagainya,” jelas Tiza.

    Pilihan material juga perlu mempertimbangkan apakah kemasan tersebut nantinya mudah diproses kembali. Tiza menilai anggapan bahwa semua produk harus meninggalkan plastik, juga tidak selalu tepat. Yang gak kalah penting justru memastikan infrastruktur untuk mengumpulkan dan mengolah material tersebut, tersedia.

  2. 2. Refill dan reuse perlu dirancang sejak awal

    Lorong instalasi yang tersusun dari kumpulan kain perca milik Purana, dikumpulkan selama 17 tahun.
    Lorong dari kumpulan kain perca yang dikumpulkan oleh Purana selama 17 tahun (IDN Times/Maura Thirza)

    Konsep refill atau isi ulang memang mulai banyak ditemukan dalam produk kecantikan. Namun, kemasan isi ulang pun perlu dilihat dari material dan siklus hidupnya, bukan sekadar karena diberi label sustainable.

    Ritchie Ned Hansel, Head of Sustainability and Corporate Communication Dynapack Asia, menjelaskan bahwa desain kemasan perlu mempertimbangkan efisiensi material sekaligus kemungkinan produk untuk digunakan dalam beberapa siklus.

    “Banyak inovasi-inovasi yang dilakukan oleh kami untuk membuat sebuah packaging yang memiliki multiple cycle. Contohnya, ada sabun batangan dari Dove. Kita mencoba mengeksplor pembuatan sabunnya dan packaging-nya ini pakai material compostable,” ungkap Ritchie.

    Menurut Ritchie, tantangan masih terasa pada produk color cosmetics seperti lipstik dan blush-on karena produk ini sering membutuhkan banyak jenis material. Karena itu, desain refill menjadi salah satu solusi yang terus dikembangkan, termasuk bagaimana tetap mempertahankan unsur estetika yang penting bagi konsumen beauty.

  3. 3. Butuh infrastruktur dan kolaborasi agar kemasan mudah didaur ulang

    Ernest C. Layman, CEO dan Co-Founder Rekosistem, berbicara tentang pengaruh kompleksitas material pada daur ulang kemasan.
    Ernest C. Layman, CEO dan Co-Founder Rekosistem, menjelaskan bahwa kompleksitas material sangat memengaruhi proses daur ulang pada kemasan (IDN Times/Maura Thirza)

    Kemasan yang dirancang agar dapat didaur ulang tidak akan mudah direalisasikan jika tidak ada sistem untuk mengumpulkan dan memprosesnya. Ernest C. Layman, CEO dan Co-Founder Rekosistem, menjelaskan bahwa kompleksitas material sangat memengaruhi proses daur ulang pada kemasan.

    “Semakin kompleks komposisi materialnya, semakin sulit nanti untuk dikembalikan, dipisah-pisah, dan didistribusikan ke tempat-tempat yang bisa mendapat daur ulang. Seperti contoh tadi, multilayer plastic atau sachet. Itu karena kombinasinya itu banyak, ketika kita mau distribusikan ke tempat daur ulang, spesifikasi untuk kita memilahnya itu makin kompleks,” ujar Ernest.

    Karena itu, industri kecantikan membutuhkan kolaborasi untuk membangun sistem take-back dan reverse logistics. Ernest mencontohkan industri air minum dalam kemasan yang mampu mengumpulkan lebih dari 2 miliar botol dalam setahun karena memiliki kesepakatan material dan sistem pengumpulan yang sama pada kemasan air minum tersebut.

    Jadi, circular beauty bukan hanya soal mengganti material kemasan dari produk kecantikan saja. Desain, kebiasaan penggunaan, sistem take-back, hingga infrastruktur daur ulang perlu dirancang sebagai satu kesatuan agar kemasan benar-benar bisa kembali ke dalam siklus yang bisa berkelanjutan.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More