Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Respons Keliru pada Sikap Defensif Pasangan, Bikin Tambah Runyam!
ilustrasi pasangan (pexels.com/Timur Weber)
  • Membalas sikap defensif pasangan dengan menyerang karakternya hanya memperuncing konflik; ambil jeda lalu sampaikan keresahan tanpa kritik personal.
  • Memaksa pasangan memahami kesalahannya saat sedang marah dapat memperlebar miskomunikasi; beri waktu agar emosi diproses sebelum berdiskusi kembali.
  • Jangan memikul kemarahan pasangan atau memohon maaf berulang demi validasi; setiap orang bertanggung jawab atas emosinya dan perlu menjaga batasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menghadapi konflik dengan pasangan bisa memimpin pada sikap defensif dan rasa marah. Kamu inginnya menghadapi dengan tenang, tapi pasangan kerap meledak-ledak bahkan enggan berkomunikasi dengan terbuka. Banyak sikap atau perkataan yang menyakitkan hati keluar dari mulut doi.

Ingatlah bahwa, saat amarah dan sikap defensif muncul pada pasangan, ia sebenarnya tidak benar-benar melihatmu. Ia hanya menjadi cermin yang memproyeksikan self-critic, kebencian, rasa malu terhadap dirinya sendiri kepadamu.

Amarah demikian jangan malah diresponi dengan semakin banyak amarah. Berikut lima sikap keliru kala hadapi pasangan defensif yang bikin suasana makin runyam.

1. Balas menyerang karakter pasangan demi melindungi diri

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)

Kesalahan yang sering dilakukan banyak orang ialah, membalas kemarahan pasangan dengan menyerang karakternya. Ibarat api diberi api, malah semakin panas dan membuat runyam keadaan. Bukannya lega, kamu dan pasangan malah akan sibuk menyerang satu sama lain dengan berbagai macam kritikan.

Sadari bahwa sikap tersebut gak menyelesaikan masalah. Alih-alih balas menyerang, coba ambil jeda dari percakapan. Beri space untukmu dan pasangan agar bisa sama-sama memproses emosi satu sama lain. Nanti, bicarakan kembali dengan kepala dingin. Ungkapkan apa yang menjadi keresahan hatimu tanpa menyerang karakternya.

2. Mencoba untuk mengubah pasangan

ilustrasi pasangan berselisih (pexels.com/RDNE Stock project)

Mungkin kelihatannya baik, kamu ingin pasangan untuk mengerti bahwa apa yang ia lakukan dan katakan adalah salah. Kamu berusaha menjelaskan panjang-lebar. Tapi sadarkah kamu, hal demikian bukannya menyelesaikan masalah, malah semakin membuat miskomunikasi melebar di antara kalian?

Ketika seseorang marah dan defensif, ia gak bisa berpikir jernih. Yang ia pikirkan hanya cara untuk melindungi diri sendiri.

Berusaha untuk menjelaskan dan mengubah paradigmanya malah akan membuatmu capek sendiri. Sebaliknya, coba beri waktu pada doi untuk memproses perasaannya. Gak semua hal harus diselesaikan hari dan saat itu juga.

3. Bertanggung jawab atas rasa marah pasangan

ilustrasi pasangan ngobrol serius (pexels.com/David Crypto)

Kesalahan ketiga, kamu mencoba untuk menyelesaikan kemarahan pasangan karena berpikir itu adalah tanggung jawabmu. Ingatlah bahwa setiap orang bertanggung jawab untuk diri dan perasaan mereka—termasuk kamu dan pasangan.

Seseorang yang punya pemikiran seperti ini malah akan jadi sosok people-pleasing dalam hubungan. Kamu menerima perlakuan apa pun dari doi, meski itu menyakiti perasaanmu. Padahal, memiliki boundary adalah salah satu hal penting dalam membangun hubungan sehat. Kalau kamu terus kompromi, bisa-bisa pasangan berlaku seenaknya hanya dengan dalih marah.

4. Berusaha mengambil hati pasangan dengan memohon-mohon

ilustrasi konflik pasangan (pexels.com/Ron Lach)

Meminta maaf ketika sadar telah melakukan kesalahan adalah hal penting. Tapi bila kamu meminta maaf berulang-ulang demi mendapat validasi doi, itu adalah hal yang keliru. Secara gak langsung, kamu memberi makan egonya dengan mengakui bahwa kamu besalah karena membuat dia marah.

Coba beri jeda bila memang pasangan masih bersikap defensif. Ingat, gak semua harus diselesaikan sekarang. Jangan ambil shortcut hanya karena ingin menyelesaikan masalah cepat-cepat. Yang terpenting adalah bagaimana kamu menyelesaikannya dengan cara yang benar.

Ada cara sendiri untuk menghadapi pasangan yang bersikap defensif. Bukan dengan memohon-mohon atau balas marah, tapi menerima dan memberi jeda. Nanti, komunikasikan kembali ketika pasangan sudah gak dalam keadaan marah. Masalah akan selesai lebih efektif tanpa harus saling menyerang satu sama lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article