Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Bijak Menghadapi Ucapan Teman yang Kasar dan Lantam
ilustrasi laki-laki dan wanita sedang berdebat (pexels.com/Yan Krukau)
  • Saat menghadapi teman yang kasar atau lantang, tahan respons emosional, dengarkan dulu, lalu sampaikan keberatan secara tenang dan tegas agar konflik tidak memanas.
  • Tanggapan singkat dan datar dapat mencegah provokasi berkembang, sementara memilah ucapan yang perlu ditanggapi membantu menjaga energi serta kondisi emosional.
  • Jika ucapan menyakitkan terus berulang setelah dibicarakan, batasi interaksi dan jaga jarak untuk melindungi diri dari situasi pertemanan yang tidak nyaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam sebuah circle pertemanan, pasti ada sosok teman yang suka berkata kasar dan tak jarang berbicara lantam kepada kita atau orang lain. Banyak alasan jika mereka disanggah atau dibalas, bisa dengan dalih "Itu bercanda doang!", "Kok kamu cepat baperan sih!", "Santai aja dong, mulut aku memang begini", dan masih banyak alasan lainnya.

Bahkan tanpa mereka sadari, perkataan mereka yang kasar dan lantam bisa menyakiti perasaan seseorang tanpa mereka ketahui, bahkan jika ini terjadi kepada dirimu. Nah, apa sih solusi dan cara yang bisa kamu coba jika menghadapi teman yang ucapannya kasar dan lantam? Penasaran? Check this out!

1. Jangan langsung membalas dengan emosi

ilustrasi dua wanita saling bertengkar (pexels.com/Liza Summer)

Ketika teman berbicara kasar, lantam, bahkan menggunakan nada yang tinggi, usahakan untuk tidak langsung membalas dengan emosi yang sama. Berikan diri sendiri waktu sejenak untuk menenangkan pikiran sebelum merespons perkataannya. Membalas dengan nada tinggi justru dapat membuat percakapan semakin panas dan berujung pada pertengkaran.

Cobalah mendengarkan terlebih dahulu dan memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Jika perkataannya memang sudah membuatmu tidak nyaman, kamu tetap bisa menyampaikan keberatan dengan tenang dan tegas. Dengan begitu, masalah dapat dibicarakan tanpa harus saling melukai melalui adu mulut atau perkelahian.

2. Berikan tanggapan yang dingin atau datar

ilustrasi laki-laki dan wanita sedang berdebat (pexels.com/Afif Ramdhasuma)

Ketika menghadapi teman yang gemar berbicara kasar atau lantang, tidak selalu perlu membalas dengan emosi yang sama. Cobalah memberikan tanggapan singkat dan datar seperti “Oh, begitu ya?”, “Oke,” atau “Iya, aku mengerti.” Sikap tenang ini menunjukkan bahwa kamu tidak tertarik untuk memperpanjang perdebatan atau menghentikan dia berbicara.

Jika kamu bersikap dingin atau berusaha tidak mempedulikan ucapannya meski hati mu sakit dengan perkataannya, itu bisa membuat dia menjadi kikuk dan diam. Terkadang mereka mengucapkan kata yang kasar juga memancing emosi kamu. Namun dengan bersikap dingin da tak kamu beri tanggapan, hal juga dapat menjaga emosi sekaligus mencegah situasi menjadi semakin panas.

3. Sampaikan perasaan dengan cara yang tegas

ilustrasi wanita sedang berbicara (pexels.com/Alexander Suhorucov)

Jika perkataan atau cara bicara teman mulai terkesan kurang sopan dan bernada kasar, jangan ragu untuk menyampaikannya secara jujur. Bicarakan hal tersebut dengan tenang tanpa ikut menggunakan nada kasar atau melontarkan perkataan yang dapat menyakiti perasaannya. Sampaikan apa yang kamu rasakan sekaligus jelaskan perilaku yang membuatmu dan orang lain merasa kurang nyaman.

Dengan begitu, teman dapat memahami batasan dalam berbicara tanpa merasa sedang diserang. Misalnya, kamu bisa mengatakan, “Aku kurang nyaman kalau kamu bicara dengan nada seperti itu. Kurangi kata dan kalimat yang kasar! Tak semua orang enak mendengarkan hal itu".

4. Jangan terlalu memasukkan semua perkataan ke hati

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Keira Burton)

Menghadapi teman yang memiliki kebiasaan berbicara kasar atau lantam memang terkadang membuat hati tidak nyaman. Namun, tidak semua perkataan yang keluar dari mulutnya perlu dipikirkan secara berlebihan. Cobalah untuk memilah ucapan mana yang memang perlu ditanggapi dan mana yang sebaiknya cukup didengarkan lalu dilewatkan. Jika setiap perkataan dimasukkan ke hati, hal tersebut justru dapat membuat diri sendiri merasa lelah secara emosional.

Bukan berarti kamu harus membiarkan ucapan yang menyakitkan begitu saja. Jika perkataannya sudah melewati batas atau terus berulang, kamu tetap berhak menyampaikan keberatan dengan cara yang tenang. Dengan begitu, kamu dapat menjaga perasaan sekaligus tetap memiliki batasan yang sehat dalam pertemanan.

5. Mulailah untuk jaga jarak jika sudah ucapannya sangat toksik

ilustrasi dua orang saling bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)

Jika ucapannya terus menyakitkan dan terus berulang meskipun sudah pernah dibicarakan, tidak ada salahnya untuk mulai membatasi interaksi. Menjaga jarak bukan berarti memutus pertemanan secara tiba-tiba, melainkan memberikan ruang agar diri sendiri tidak terus-menerus berada dalam situasi yang membuat tidak nyaman.

Cobalah mengurangi intensitas komunikasi dan hindari terlalu banyak terlibat dalam percakapan yang berpotensi memicu konflik. Jika rasanya perkataannya sudah toksik, usahakan untuk sedikit menjauh. Kamu berhak melindungi perasaan serta mendapatkan teman yang ucapannya sopan santun. Karena, pertemanan seharusnya memberikan rasa aman dan saling menghargai, bukan membuat seseorang terus merasa direndahkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article