3 Etika Pertemanan dari Episode Temanku Susanti dalam Serial Upin Ipin

- Episode “Temanku Susanti” menyoroti pentingnya memberi ruang bagi teman untuk bercerita dan mendengarkan mereka agar tidak merasa diabaikan.
- Saat mengetahui kabar mengejutkan tentang teman, anak-anak Kampung Durian Runtuh belajar untuk tidak langsung menyalahkan, melainkan mendengar penjelasan terlebih dahulu.
- Kepergian Susanti ke Indonesia membuat teman-temannya menyadari nilai kebersamaan, setelah mereka meminta maaf dan merasakan kehilangan dalam aktivitas sehari-hari.
Hubungan pertemanan menjadi salah satu hal yang pasti dimiliki oleh setiap manusia. Pertemanan tidak hanya berbicara soal banyaknya waktu yang dihabiskan bersama, tetapi juga tentang bagaimana kita bersedia mendengarkan, memahami bahkan menghargai satu sama lain. Hal-hal tersebut juga tergambarkan dalam episode "Temanku Susanti" Serial Upin & Ipin Musim ke-16 yang tayang pada tahun 2022. Dalam epiosde ini, kita dapat belajar bahwa ada beberapa etika pertemanan yang harus kita jaga, berikut diantaranya.
1. Jangan sibuk dengan cerita sendiri sampai lupa mendengarkan teman

Mei-Mei, Susanti dan Ehsan dalam "Temanku Susanti" (dok. Les' Copaque Production/Upin & Ipin) Episode "Temanku Susanti" dimulai dengan anak-anak Kampung Durian Runtuh sedang berkumpul bersama di tempat mereka biasa bermain. Susanti yang baru saja datang, kemudian duduk bersama teman-temannya. Ia sempat mengajak Mei-Mei bermain masak-masakan tetapi ditolak karena Mei-Mei lebih fokus mendengarkan obrolan tentang sahabat pena.
Suasana begitu ceria, masing-masing dari mereka sibuk bercerita ingin mempunyai sahabat pena dari luar negeri. Melihat kawan-kawannya yang sedang sibuk membicarakan hal lain, Susanti akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengabari mereka soal rencana kepulangannya ke Indonesia. Ia kemudian pamit pulang dari tempat bermain dan kawan-kawannya tidak menyadari Susanti sudah tidak berada di sana.
Dari situasi ini kita dapat belajar bahwa saat berkumpul bersama teman-teman, bukan hanya kita saja yang memiliki cerita atau sesuatu yang ingin kita bagikan. Kita harus bisa menempatkan posisi kapan kita bercerita, serta kapan waktunya kita mendengarkan cerita orang lain. Saat kita bisa memposisikan diri untuk dua hal tersebut, teman atau orang di sekitar kita pun jadi merasa lebih dihargai karena ceritanya didengarkan. Hal ini juga dapat kita rasakan sendiri, saat orang lain mendengarkan kita, kita pun tidak merasa diabaikan.
2. Sebelum menyalahkan teman, dengarkan penjelasannya terlebih dahulu

Susanti & Mei-Mei dalam episode "Temanku Susanti" (dok. Les' Copaque Production/Upin & Ipin) Satu hari setelah kumpul bersama tersebut, anak-anak kampung Durian Runtuh masuk sekolah seperti biasa. Susanti yang terakhir keluar dari kelas kemudian berpamitan dengan Cikgu Melati. Susanti menyampaikan bahwa ia dan keluarganya akan kembali ke Indonesia karena ayahnya sudah selesai bekerja di Malaysia. Percakapan Cikgu Melati dan Susanti ternyata didengar oleh Mei-Mei yaang berada dibalik pintu kelas mereka. Mei-Mei menangis mendengar kabar rencana kepindahan Susanti.
Setelah pulang sekolah, Mei-Mei dan yang lainnya kembali berkumpul bersama. Mei-Mei menceritakan rencana kepindahan Susanti. Mereka kecewa karena Susanti tidak memberitahu rencana tersebut padahal mereka berteman sejak lama. Tak lama setelah itu, Susanti pun datang menemui mereka. Mei-Mei yang sudah terlanjur kecewa langsung melampiaskan amarahnya kepada Susanti. Saat Mei-Mei menangis akhirnya Susanti mendapat kesempatan berbicara. Ia mengatakan bahwa selama ini ia mau memberitahu rencana tersebut, tetapi teman-temannya selalu memotong pembicaraannya sehingga ia tidak pernah mendapat kesempatan bercerita. Susanti lalu berlari pulang sambil menangis, sedangkan teman-temannya terkejut mendengar penjelasan Susanti dan merasa menyesal karena telah mengabaikannya.
Momen ini mengajarkan kita untuk melihat sesuatu dengan kepala dingin. Saat kita mendengar suatu hal di luar dugaan yang berhubungan dengan teman kita, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menerima informasi itu dengan pikiran yang tenang. Setelah itu, kita bisa menanyakan kepada teman kita mengenai kebenaran hal tersebut. Saat kita berada dalam pikiran yang jernih, kita bisa menerima informasi secara lebih jelas. Amarah yang tak terbendung bisa menimbulkan kesalahpahaman dan membawa perasaan bersalah di kemudian hari.
3. Hargai keberadaan teman selagi masih bersama-sama

Episode "Temanku Susanti" (dok. Les' Copaque Production/Upin & Ipin) Setelah kesalapahaman tersebut, Upin Ipin dan yang lainnya kemudian meminta maaf kepada Susanti pada hari terakhirnya bersekolah bersama mereka. Cikgu Melati juga memberikan kue perpisahan kepada Susanti, sedangkan teman-temannya memberikan boneka yang mereka buat masing-masing.
Hari-hari setelah kepergian Susanti ternyata menimbulkan kesedihan bagi teman-temannya. Mei-Mei yang terbiasa bermain masak-masakan bersama Susanti, merasa sedih kehilangan teman bermainnya. Begitu juga dengan Upin, Ipin, Jarjit, Fizi dan Mail, mereka sama-sama merasakan kehilangan Susanti.
Terkadang, kita baru menyadari arti kehadiran seseorang setelah terpisah jarak dari kita. Momen sederhana ketika teman masih bersama kita, dapat menjadi terasa berharga saat hal tersebut tidak bisa kita temui lagi. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, ada waktunya kita bisa berada di tempat yang sama, sedangkan di waktu lainnya ternyata kita telah berada di tempat yang berbeda, entah untuk melanjutkan karier maupun membangun kehidupan yang baru. Oleh sebab itu, hargailah teman yang kita miliki selagi masih diberikan kesempatan untuk berbagi waktu bersama.
Tiga pelajaran tentang pertemanan ini sangat relevan dengan kehidupan kita hingga dewasa. Semoga kita dapat terus mengingat dan menjalankannya di kehidupan sehari-hari.



















![[QUIZ] Pilih Momen Romantis, Ini Standarmu dalam Hubungan](https://image.idntimes.com/post/20260805/pexels-a-darmel-6642919_9c13057c-fe14-4f35-806f-a9ccc116b624.jpg)


