Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa itu Food Divorce? Waktu dan Menu Makan Pasangan Gak Harus Sama!

4 min read
Apa itu Food Divorce? Waktu dan Menu Makan Pasangan Gak Harus Sama!
Ilustrasi food divorce (pexels.com/Ivan S)
Share Article

Momen memasak bersama pasangan merupakan aktivitas yang istimewa, karena dapat membangun chemistry, sekaligus mengetahui apa yang disukai satu sama lain. Seringkali pasangan memiliki selera makanan yang berbeda, mungkin ada pantangan tertentu atau sedang menjalani diet.

Situasi ini seringkali membuat kamu harus memasak dua makanan terpisah Inilah yang dikenal sebagai food divorce. Namun pengertiannya tidak sesederhana itu, karena istilah tersebut merupakan dinamika hubungan percintaan modern. Lantas, apa itu food divorce dan apakah berdampak buruk bagi kualitas hubungan? Cari tahu!

  1. 1. Apa itu food divorce?

    Ilustrasi food divorce
    Ilustrasi food divorce (pexels.com/Thirdman)

    Istilah "food divorce" pada dasarnya merujuk pada pasangan yang berbelanja, memasak, dan makan makanan secara terpisah. Meskipun istilah ini mungkin baru, namun pengaturan seperti ini telah terjadi di hampir setiap rumah tangga sejak lama.

    “Food divorce terjadi ketika pasangan berhenti merencanakan, memasak, dan makan bersama. Masing-masing orang mengatur makanannya sendiri sesuai jadwalnya sendiri,” kata terapis hubungan Erin Pash, pendiri dan CEO Caveman to Casanova, mengutip laman New York Post.

    Pasangan yang mengalami food divorce menangani semua aspek makanannya sendiri, mulai dari membeli dan memasak hingga memesan apa yang cocok, hingga seringkali menyesuaikan jadwal masing-masing.

    Pasangan dan keluarga makan malam bersama setiap malam adalah hal yang biasa. Tetapi rutinitas itu tidak selalu masuk akal saat ini dari perspektif jadwal dan selera makan masing-masing individu. Pasangan yang memiliki alergi makanan, atau jadwal yang tidak cocok sudah terbiasa memasak, berbelanja, dan makan secara terpisah, ini merupakan bagian normal dari hubungan mereka.

    “Di banyak rumah tangga, kedua pasangan bekerja penuh waktu, dan dengan perjalanan pulang pergi, keduanya tidak sampai rumah sampai setelah pukul enam. Memasak setelah seharian bekerja bukanlah cara yang santai untuk menjalin hubungan, dan seringkali malah menyebabkan lebih banyak stres," kata Brittany Woolford, PhD, psikolog berlisensi dan salah satu pendiri Authentic Connections Therapy and Wellness, mengutip laman Real Simple.

  2. 2. Apakah food divorce berdampak buruk pada hubungan?

    Ilustrasi food divorce
    Ilustrasi food divorce (pexels.com/Mizuno K)

    Sebagai terapis pasangan, Woolford tidak menganggap pasangan yang makan terpisah sebagai tanda bahaya tersendiri.

    “Ketika masing-masing pasangan mengurus makanan mereka sendiri, keduanya mendapatkan apa yang benar-benar mereka butuhkan, dan perencanaan, belanja, serta memasak tidak dibebankan secara tidak proporsional kepada satu orang,” jelasnya.

    Hal itu bisa menjadi masalah ketika menjadi bagian dari pola penghindaran dan jarak yang lebih besar dalam hubungan mereka.

    Dari perspektif keterikatan, hubungan dipertahankan oleh momen dan ritual berulang untuk saling berkomunikasi, berbagi pengalaman, dan setiap orang berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal. Waktu makan bisa menjadi salah satu momen tersebut, tetapi bukan satu-satunya.

    Bisa juga saat menikmati secangkir kopi di pagi hari, jalan-jalan, duduk bersama sebelum tidur, atau ritual rutin lainnya setiap hari yang menjaga keharmonisan hubungan antar pasangan. Tetapi terkadang menghabiskan lebih sedikit waktu bersama justru dapat bermanfaat bagi sebuah hubungan.

    “Jika food divorce menghilangkan stres yang ditimbulkan oleh makan bersama dan menyiapkan makanan bersama, itu akan lebih sehat bagi pasangan tersebut daripada memaksakan apa yang mereka pikir ‘seharusnya mereka lakukan’ atau apa yang ‘normal,’ dan apa yang ‘dilakukan pasangan lain,’” kata Emily Longo, PhD, LMFT, direktur terapi keluarga di Silver Hill Hospital, mengutip Real Simple.

    Pada akhirnya, makan bersama bukanlah segalanya dalam sebuah hubungan, karena ada banyak cara lain untuk menjaga hubungan tetap terjalin. Bukan ritual makan bersama yang mengikat pasangan, tetapi waktu dan perhatian yang dihabiskan bersama itulah yang penting. Ini tentu bisa terjadi saat makan, tetapi juga kapan pun.

  3. 3. Bagaimana pasangan dapat mempertahankan hubungan dalam food divorce?

    Ilustrasi food divorce
    Ilustrasi food divorce (pexels.com/Blue Bird)

    Kuncinya di sini adalah mengingat bahwa memperdalam hubungan dengan pasangan tidak harus selalu melibatkan makanan. Berikut beberapa cara untuk mempertahankan hubungan tanpa harus selalu makan bersama atau punya menu makanan yang sama.

    Utamakan kualitas daripada frekuensi

    Pilihlah satu atau dua kali makan dalam seminggu di mana kamu duduk bersama di meja makan, meskipun makan makanan yang berbeda. Tanpa telepon, tanpa TV, tanpa perangkat elektronik.

    Dua kali makan yang disengaja dalam seminggu dapat mengembalikan makna hubungan jauh lebih baik daripada tujuh kali makan terburu-buru yang dilakukan karena kewajiban.

    Berinteraksi sambil menikmati camilan

    Tidak bisa mengatur waktu makan malam bersama? Kamu dan pasangan dapat berbagi camilan saat berdua di rumah di penghujung hari.

    Ciptakan kebiasaan baru

    Makan bukanlah satu-satunya kebiasaan yang dapat diintegrasikan pasangan dan keluarga ke dalam keseharian.

    “Keluarga terus-menerus mengulang kebiasaan seiring anak-anak tumbuh dewasa, jadwal berubah, pekerjaan berubah, dan anggota keluarga yang punya kebutuhan berbeda. Keluarga yang sehat tidak harus mempertahankan setiap tradisi, tetapi terlibat dalam percakapan berkelanjutan tentang kebiasaan mana yang masih menciptakan ikatan dan mana yang telah menjadi sumber konflik," ungkap Longo.

    Jadi, sangat mungkin untuk menemukan momen kebersamaanmu dan pasangan di luar waktu makan. Kamu dapat mengalami food divorce namun tetap bisa terhubung secara mendalam. Yang menjadi masalah bukanlah piring terpisah, tetapi kehidupan yang terpisah. Kamu setuju?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More