Ilustrasi food divorce (pexels.com/Mizuno K)
Sebagai terapis pasangan, Woolford tidak menganggap pasangan yang makan terpisah sebagai tanda bahaya tersendiri.
“Ketika masing-masing pasangan mengurus makanan mereka sendiri, keduanya mendapatkan apa yang benar-benar mereka butuhkan, dan perencanaan, belanja, serta memasak tidak dibebankan secara tidak proporsional kepada satu orang,” jelasnya.
Hal itu bisa menjadi masalah ketika menjadi bagian dari pola penghindaran dan jarak yang lebih besar dalam hubungan mereka.
Dari perspektif keterikatan, hubungan dipertahankan oleh momen dan ritual berulang untuk saling berkomunikasi, berbagi pengalaman, dan setiap orang berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal. Waktu makan bisa menjadi salah satu momen tersebut, tetapi bukan satu-satunya.
Bisa juga saat menikmati secangkir kopi di pagi hari, jalan-jalan, duduk bersama sebelum tidur, atau ritual rutin lainnya setiap hari yang menjaga keharmonisan hubungan antar pasangan. Tetapi terkadang menghabiskan lebih sedikit waktu bersama justru dapat bermanfaat bagi sebuah hubungan.
“Jika food divorce menghilangkan stres yang ditimbulkan oleh makan bersama dan menyiapkan makanan bersama, itu akan lebih sehat bagi pasangan tersebut daripada memaksakan apa yang mereka pikir ‘seharusnya mereka lakukan’ atau apa yang ‘normal,’ dan apa yang ‘dilakukan pasangan lain,’” kata Emily Longo, PhD, LMFT, direktur terapi keluarga di Silver Hill Hospital, mengutip Real Simple.
Pada akhirnya, makan bersama bukanlah segalanya dalam sebuah hubungan, karena ada banyak cara lain untuk menjaga hubungan tetap terjalin. Bukan ritual makan bersama yang mengikat pasangan, tetapi waktu dan perhatian yang dihabiskan bersama itulah yang penting. Ini tentu bisa terjadi saat makan, tetapi juga kapan pun.