Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Psikolog Jelaskan Fenomena Cowok Bingung, Takut Komitmen dan Gak Kasih Kepastian?

Psikolog Jelaskan Fenomena Cowok Bingung, Takut Komitmen dan Gak Kasih Kepastian?
ilustrasi komitmen (pexels.com/Sandro Crepulja)
Share Article

Istilah "cowok bingung" belakangan ramai digunakan di media sosial untuk menggambarkan sosok yang dinilai ragu memberi kepastian dalam hubungan dan enggan berkomitmen. Tak sedikit pula yang menganggap sikap tersebut merupakan cara untuk menghindari tanggung jawab emosional. Namun, benarkah keraguan seseorang dalam menjalin hubungan romantis selalu mencerminkan ketidaksiapan untuk berkomitmen?

Secara psikologis, keraguan dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola pengasuhan hingga kondisi emosional seseorang. Fenomena ini pun tidak hanya dialami laki-laki, tetapi juga dapat terjadi pada perempuan. Lantas, apa yang membuat seseorang begitu ragu untuk membangun komitmen dalam hubungan romantis? Simak penjelasan ahli terkait fenomena "cowok bingung" yang dianggap tidak memiliki ketegasan dalam mengambil keputusan di sebuah hubungan.

1. Memahami faktor psikologis 'cowok bingung' dalam menjalin hubungan

ilustrasi komitmen (pexels.com/Natali Wonkaz)
ilustrasi komitmen (pexels.com/Natali Wonkaz)

Istilah cowok bingung pada dasarnya tidak ada dalam term psikologi. Psikolog Faza Maulida menegaskan, istilah "cowok bingung" memiliki makna yang luas dan dapat menimbulkan penilaian keliru. Ketika seseorang tidak dapat memenuhi ekspektasi pasangan atau lawan jenisnya, tidak lantas dapat dikatakan "cowok bingung". Sebelum menyematkan istilah tersebut, penting untuk memahami bentuk keraguan yang sebenarnya dialami oleh orang tersebut.

Akan tetapi, jika mengulas fenomena masa kini, sejumlah orang memang mengalami keengganan dalam menjalin hubungan, ada pula individu yang diliputi keraguan ketika hendak berkomitmen. Menurut Faza, kondisi semacam itu didasari oleh alasan dan motivasi berbeda.

"Cowok bingung kerap dikaitkan dengan orang yang tidak berani atau tidak mampu memberi kepastian dan enggan berkomitmen dengan lawan jenis. Nah, di sini aja tuh klausulnya sudah ada dua. Antara dia tidak berani, tidak mampu, atau enggan. Makanya kemudian yang akan kita highlight adalah tujuannya. Penting untuk membedakan antara orang itu memang gak ingin menjalin hubungan jangka panjang dengan seseorang, atau kemudian dia itu ada keinginan untuk menjalin hubungan jangka panjang tetapi memang masih ragu-ragu," ujar Faza.

Faza menegaskan bahwa tak semua orang yang enggak memberi kepastian kepada lawan jenis atau seseorang yang sedang didekatinya dapat dikatakan sedang mengalami kebingungan. Kondisi tersebut bisa dipengaruhi oleh perbedaan tujuan maupun cara pandang dalam melihat relasi romantis.

Ada orang yang memang tidak ingin menjalin komitmen jangka panjang, ada yang masih ragu terhadap calon pasangan, dan ada pula yang hanya menginginkan hubungan kasual. Karena itu, label "cowok bingung" tidak selalu tepat. Bisa jadi, yang terjadi sebenarnya adalah perbedaan tujuan atau ekspektasi antara dua individu dalam suatu hubungan.

"Gak semua orang yang belum bisa memberi kepastian atau yang masih mengambang, itu bingung. Karena bisa jadi tujuan dari relasinya memang beda. Ada orang memang dia ingin menjalin hubungan yang casual saja, gak mau dipakai jangka panjang, ingin happy-happy saja, ingin punya orang yang menemani kemudian ingin ada tempat bersandar, tapi not for forever. Gak buat selamanya atau gak buat menikah," terangnya.

2. Bukan bingung, sulit kasih kepastian bisa jadi tanda avoidant dan kurang percaya diri

ilustrasi komitmen (freepik.com/prostooleh)
ilustrasi komitmen (freepik.com/prostooleh)

Menurut psikolog, keraguan seseorang untuk menjalin hubungan atau memiliki komitmen dengan orang lain tak hanya disebabkan oleh faktur tunggal. Keputusan untuk berkomitmen merupakan proses yang kompleks sehingga dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan. Di sisi lain, keraguan yang kerap meliputi seseorang tidak selalu menunjukkan keengganan dalam berkomitmen, hal ini bisa menjadi upaya untuk mempertimbangkan aspek lain dalam diri calon pasangannya.

"Jika orang memang ingin ada tujuan ke hubungan yang lebih serius tapi masih ragu-ragu, itu jawabannya justru bisa multifaktor. Gak mungkin kalau cuma satu saja karena kan yang namanya keraguan itu dipengaruhi sama banyak hal. Bisa jadi, memang kondisi finansial atau kemudian dia masih menimbang-nimbang, dia tuh the one gak sih? Jadi laki-laki ini juga memandang pasangannya dan mempertanyakan juga, is she the one?"

Faktor internal seperti kondisi psikologis seseorang juga tak bisa diabaikan dalam hal ini. Rendahnya rasa percaya diri seseorang dalam menjalin hubungan serta pola attachment juga berperan dalam membentuk persepsi individu terhadap hubungan. Faza menyebut, seseorang dengan avoidant attachment cenderung merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional, sehingga lebih sulit membangun komitmen dan mempertahankan hubungan yang serius.

"Kemudian bisa jadi misalnya ada kondisi di mana dia punya kepercayaan diri yang rendah. Dia merasa kalau misalnya kita berlanjut hubungannya, kira-kira aku bisa gak menghidupi orang ini. Jadi itu yang mungkin membuat orang jadi ragu-ragu. Atau kemudian tadi, pola attachment. Kalau memang dia itu orang yang cenderung avoidant maka ya kemudian justru dia akan makin sulit lagi untuk membangun sebuah komitmen," tegasnya.

3. Tak semua keraguan berarti menolak komitmen, bisa jadi ada perbedaan tujuan dan ekspektasi

Ilustrasi komitmen hubungan/pexels.com/Trinity Kubassek
Ilustrasi komitmen hubungan/pexels.com/Trinity Kubassek

Menurut psikolog, perasaan ragu timbul karena beragam aspek, sehingga belum tentu orang yang tidak mau berkomitmen itu adalah 'cowok bingung'. Misalnya ada kemungkinan tujuan orang tersebut berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain bukan untuk menjalin hubungan jangka panjang.

Penting untuk memahami apakah kedua belah pihak memiliki tujuan yang sama terhadap hubungan yang tengah dijalani. Pasalnya, perbedaan ekspektasi bisa membuat salah satu pihak menganggap pasangannya ragu atau enggan berkomitmen, padahal yang terjadi adalah ketidakselarasan tujuan.

"Sehingga balik lagi, untuk perempuannya yang memandang atau yang kemudian memberikan penilaian, itu juga harus pintar, harus smart melihat laki-laki ini tujuannya sama gak dengan aku? Jangan sampai hanya karena tujuannya memang berbeda, maka kemudian kita jadinya memberikan judgment bahwa "Wah cowok ini tuh cowok bingung," gitu. Padahal ya belum tentu laki-laki ini tuh bingung. Bisa jadi ya perempuannya yang bingung," terang Faza.

Label 'cowok bingung' dapat sembarangan disematkan kepada seseorang yang mengalami keraguan atau enggan memberi ketidakpastian. Padahal, bisa jadi orang-orang yang terlibat dalam hubungan tersebut belum memahami arah hubungan atau mengomunikasikan ekspektasi yang jelas.

Share Article
Curated For You

5 Cara Membangun Self-Worth Sebelum Menjalin Hubungan

10 Jul 2026, 17:07 WIBLife
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More