Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Psikolog Ungkap Hubungan Pola Asuh dengan Sikap Cowok Bingung

Psikolog Ungkap Hubungan Pola Asuh dengan Sikap Cowok Bingung
ilustrasi parenting (pexels.com/Kindel Media)
Share Article

Fenomena 'cowok bingung' belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Istilah ini merujuk pada laki-laki yang dinilai tidak konsisten dalam menjalani hubungan, kerap memberi harapan tetapi ragu mengambil keputusan atau enggan memberikan kepastian. Akibatnya, pasangan atau lawan bicaranya dibuat bingung dengan arah dan tujuan hubungan yang dijalani.

Di balik sikap yang terlihat tidak konsisten, terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhinya, mulai dari kondisi psikologis hingga pola pengasuhan. Pengalaman tumbuh bersama orang tua dapat membentuk cara seseorang mengambil keputusan, mengelola emosi, dan membangun komitmen dalam hubungan. Lantas, bagaimana pola pengasuhan dapat memengaruhi munculnya fenomena 'cowok bingung'?

1. Pola pengasuhan tidak konsisten hingga otoriter bikin orang jadi 'cowok bingung'

ilustrasi parenting (Pexels.com/Julia M Cameron)
ilustrasi parenting (Pexels.com/Julia M Cameron)

Keraguan seseorang dalam membangun hubungan romantis atau menjalin komitmen jangka panjang dapat dipengaruhi oleh pola asuh yang diterima sejak kecil. Pasalnya, pola pengasuhan turut membentuk cara seseorang memandang hubungan dan komitmen. Psikolog Klinis, Putri Aisya Pahlawani menjelaskan bahwa kesulitan membangun kedekatan emosional atau rasa takut berkomitmen dapat berakar dari pengalaman pengasuhan di masa lalu.

"Keraguan laki-laki dalam mengambil keputusan bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Jika dilihat dari sudut pandang pola asuh, terdapat pola asuh seperti pola asuh otoriter yang dapat menjadi faktor seseorang, tidak hanya laki laki, untuk ragu atau takut berpendapat, takut dalam memilih. Atau pola asuh pengabaian atau neglect yang membuat seseorang menjaga jarak atau takut menjalin hubungan dengan sebuah komitmen dan tanggung jawab," terang Putri.

Selaras dengan keterangan tersebut, Psikolog Faza Maulida juga menerangkan bahwa pola asuh yang tidak konsisten juga dapat berkontribusi terhadap sikap bimbang seseorang. Ketika orangtua memberikan respons yang plin-plan, misalnya memuji saat anak mendapatkan prestasi namun di sisi lain kerap mengabaikan dengan tidak terlibat aktif dan tidak hadir secara emosional terhadap kehidupan anak.

"Bisa dikatakan bahwa pola asuh yang paling baik atau pola asuh yang kemudian bisa menciptakan kepribadian yang adaptif ketika dewasa itu adalah ya pola asuh yang disebut sebagai demokratik. Pola asuh yang demokratik itu yang hangat, responsif, kemudian tetap ada kontrol, tapi dalam rentang yang konsisten. Dalam rentang itu, anak bisa memahami konsekuensi-konsekuensi dari apa yang dia ambil," terang Faza.

2. Terbiasa tidak bertanggung jawab, bikin cowok bingung kesulitan menjalin hubungan

ilustrasi parenting (pexels.com/Timur Weber)
ilustrasi parenting (pexels.com/Timur Weber)

Pola pengasuhan yang inkonsisten memiliki relasi yang kuat terhadap kemampuan seseorang dalam membangun hubungan romantis ketika dewasa. Cara seseorang membangun kedekatan emosional, rasa aman, hingga komitmen kerap kali dipengaruhi oleh pengasuhan yang diterimanya semacam kecil.

Dalam fenomena cowok bingung, hal yang paling di-highlight adalah kemampuan seseorang dalam keenggannya mengambil keputusan dan tanggung jawab. Orang yang berhadap dengan sosok yang dianggap 'cowok bingung' merasa lawan bicaranya diliputi keraguan atau kekhawatiran ketika dihadapkan pada komitmen

Putri membenarkan adanya keterkaitan antara hubungan romantis ketika dewasa dengan pengasuhan yang diterima, "Pola kedekatan orang dewasa ketika menjalin sebuah hubungan, salah satunya dipengaruhi oleh kelekatan serta pola asuh orang tuanya. Pendekatan yang paling ideal hingga saat ini dalam hal kelekatan adalah kelekatan secure atau aman dalam istilah pola asuh adalah pendekatan demokratis atau suportif."

Putri menuturkan, dalam istilah psikologi, kelekatan atau attechement akan menentukan bagaimana anak merasa dicintai, belajar mempercayai orang lain dan membentuk persepsi apakah dirinya layak dipercaya. Pola pengasuhan yang saling terikat dengan attachment style ini juga dapat membangun kepercayaan seseorang terhadap orang lain.

"Pola asuh atau kelekatan akan tertanam dan menjadi semacam blueprint dalam dirinya. Ketika dewasa dan menjalin hubungan, ia akan menggunakan blueprint tersebut. Contoh, anak yang dulu pola asuhnya otoriter, pihak dominan pada orang tua, tidak memberikan kesempatan pada anak untuk berpendapat, harus nurut, dan sebagainya, akan membuatnya memiliki pemahaman bahwa mengungkapkan keinginan itu bukan sesuatu yang baik. Maka dia akan lebih memilih menurut, atau tidak terbuka karena takut di kritik," ujar Putri lebih lanjut.

3. Evaluasi untuk cowok bingung: Berani ambil risiko dan jujur pada diri sendiri

Ilustrasi parenting (pexels.com/Elina Fairytale)
Ilustrasi parenting (pexels.com/Elina Fairytale)

Memahami pola pengasuhan yang berkontribusi terhadap keraguan dalam mengambil keputusan merupakan langkah awal untuk melakukan evaluasi diri. Menurut Putri, sikap yang cenderung bimbang atau tidak konsisten bukanlah sesuatu yang bersifat permanen. Pola tersebut dapat diperbaiki melalui proses re-parenting, mengingat pola asuh atau kelekatan hanyalah salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan seseorang, bukan penentu tunggal masa depan.

"Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, mulai dari langkah kecil untuk diri sendiri, seperti menentukan pilihan tanpa merasa bersalah, bertanggung jawab atas pilihannya atau berani mengambil risiko, dan jujur pada perasaan sendiri. Kalau sudah terlanjur menjalin hubungan, coba list apa saja hal yang membuat ragu atau bingung, komunikasi secara terbuka dengan pasangan. Apabila kesulitan, bisa meminta bantuan psikolog pasangan," tutupnya.

Share Article
Curated For You

5 Zodiak yang Sifat Temperamennya Sering Merusak Hubungan, Hati-hati!

05 Jul 2026, 02:03 WIBLife
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More