Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Insecurity yang Muncul setelah Tahu Pasangan Selingkuh
ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/Alex Green)
  • Perselingkuhan dapat mengguncang kepercayaan dan memicu pertanyaan tentang penampilan, daya tarik, kemampuan sebagai pasangan, serta kelayakan diri untuk dicintai.
  • Korban kerap membandingkan diri dengan orang ketiga, merasa kalah, dan mengaitkan perubahan sikap pasangan dengan anggapan bahwa dirinya tidak lagi menarik.
  • Pengkhianatan juga memunculkan kewaspadaan akan perselingkuhan berulang; namun keputusan pasangan untuk tidak setia tidak menentukan nilai diri korban.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengetahui pasangan berselingkuh bukan hanya menghancurkan rasa percaya, tetapi juga bisa mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri. Setelah pengkhianatan terungkap, pertanyaan seperti "Apa yang kurang dariku?" atau "Kenapa dia memilih orang lain?" bisa muncul berulang kali. Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dipermasalahkan pun mendadak terasa seperti kekurangan.

Respons setiap orang tentu berbeda. Namun, perselingkuhan memang dapat membuat seseorang lebih mudah mempertanyakan daya tarik, kemampuan, hingga kelayakan dirinya untuk dicintai. Perasaan tersebut tidak berarti korban benar-benar memiliki kekurangan seperti yang dipikirkan. Sering kali, insecurity atau keraguan maupun kurang percaya diri muncul karena pengkhianatan membuat banyak hal yang sebelumnya terasa aman menjadi tidak pasti. Berikut beberapa bentuk insecurity yang muncul setelah tahu pasangan selingkuh.

1. Merasa tidak cukup menarik

ilustrasi pasangan (magnific.com/magnific)

Salah satu hal yang paling sering dipertanyakan setelah perselingkuhan adalah penampilan. Kamu mungkin mulai membandingkan wajah, tubuh, gaya berpakaian, atau hal-hal fisik lain dengan orang ketiga. Bahkan, ketika sebelumnya merasa cukup nyaman dengan penampilan sendiri, sekarang kamu bisa melihat kekurangan yang sama sekali tidak pernah dianggap masalah.

Pikiran seperti "Apa dia lebih cantik atau lebih menarik dariku?" dapat terus berputar di kepala. Padahal, perselingkuhan tidak otomatis terjadi karena orang ketiga memiliki penampilan yang lebih baik. Menjadikan fisik sebagai alasan utama justru bisa membuat korban semakin menyalahkan diri sendiri atas keputusan yang sebenarnya dibuat oleh pasangan.

2. Meragukan diri sebagai pasangan

ilustrasi seorang perempuan melamun (pexels.com/Liza Summer)

Perselingkuhan juga dapat membuat seseorang mempertanyakan kemampuan dirinya dalam menjalani hubungan. Kamu mungkin mulai berpikir apakah selama ini kurang perhatian, terlalu sibuk, kurang romantis, atau tidak cukup memahami pasangan. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa mendadak dibaca ulang seolah-olah semuanya adalah penyebab pengkhianatan.

Evaluasi terhadap hubungan memang bisa membantu memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun, penting untuk membedakan antara introspeksi dan menyalahkan diri sendiri. Ada kemungkinan sebuah hubungan memang memiliki masalah yang perlu dibicarakan, tetapi keputusan untuk berselingkuh tetap merupakan pilihan pasangan. Kekurangan dalam hubungan tidak otomatis menjadi pembenaran untuk mengkhianati kepercayaan.

3. Takut kalah dari orang ketiga

ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/Timur Weber)

Mengetahui adanya orang ketiga bisa memunculkan rasa seperti sedang kalah dalam sebuah kompetisi yang sebenarnya tidak pernah kamu ikuti. Kamu mungkin ingin tahu apa yang dimiliki orang tersebut, apa yang tidak kamu punya, atau mengapa pasangan memilihnya. Semakin banyak informasi yang diketahui, semakin besar pula dorongan untuk membandingkan diri.

Perbandingan seperti ini bisa membuat rasa percaya diri ikut turun. Kamu mulai menganggap kualitas orang ketiga sebagai standar yang harus kamu capai agar lebih layak dicintai. Padahal, hubungan bukan perlombaan dengan pemenang yang ditentukan berdasarkan siapa yang paling cantik, paling sukses, atau paling menarik. Mengubah perselingkuhan menjadi kompetisi hanya akan membuat luka semakin berat.

4. Meragukan daya tarik di mata pasangan

ilustrasi pasangan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Setelah diselingkuhi, seseorang bisa menjadi jauh lebih peka terhadap perubahan kecil dalam cara pasangan memperlakukannya. Tatapan yang berbeda, berkurangnya pujian, perubahan kebiasaan, atau sikap yang terasa lebih dingin dapat langsung dikaitkan dengan pikiran bahwa dirinya sudah tidak menarik lagi.

Keraguan ini bisa terbawa bahkan ketika pasangan sudah tidak bersama orang ketiga. Masalahnya bukan hanya soal penampilan, tetapi tentang rasa aman yang ikut terguncang. Ketika kepercayaan sudah rusak, sulit untuk yakin bahwa pasangan benar-benar masih menginginkan dan menghargai kita. Karena itu, rasa insecurity setelah perselingkuhan terkadang tetap bertahan meski situasinya sudah berubah.

5. Takut akan diselingkuhi lagi

ilustrasi seorang perempuan melamun (pexels.com/Anete Lusina)

Sekali kepercayaan dihancurkan, otak bisa menjadi lebih waspada terhadap kemungkinan hal yang sama terulang. Kamu mungkin mulai memperhatikan kapan pasangan memegang ponsel, siapa yang menghubunginya, atau mengapa ia pulang lebih lambat. Hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak menimbulkan kecurigaan bisa terasa mencurigakan.

Kewaspadaan ini dapat membuat hubungan berikutnya atau hubungan yang sama terasa melelahkan. Kamu tidak lagi hanya menjalani hubungan, tetapi juga terus mencari tanda-tanda yang bisa mengonfirmasi ketakutan. Padahal, rasa takut tersebut bukan berarti kamu terlalu posesif atau tidak bisa move on. Bisa jadi, itu merupakan dampak dari kepercayaan yang pernah dilanggar dan membutuhkan waktu untuk pulih.

6. Merasa tidak layak dicintai sepenuhnya

ilustrasi seorang perempuan melamun di kamar tidur (magnific.com/jcomp)

Bentuk insecurity yang paling dalam mungkin muncul ketika seseorang mulai menghubungkan perselingkuhan dengan nilai dirinya. Jika orang yang dicintai saja memilih orang lain, bisa muncul pikiran bahwa dirinya memang tidak cukup baik untuk dipilih sepenuhnya. Dari sini, pengalaman dikhianati dapat berubah menjadi keyakinan bahwa dirinya akan selalu menjadi pilihan kedua.

Padahal, tindakan pasangan tidak menentukan nilai diri seseorang. Diselingkuhi bukan bukti bahwa kamu kurang cantik, kurang menarik, kurang perhatian, atau tidak layak dicintai. Ketika seseorang memilih untuk tidak setia, keputusan tersebut lebih banyak berbicara tentang dirinya, batasannya, dan caranya menghadapi masalah daripada tentang seberapa berharga pasangannya.

Perselingkuhan memang bisa meninggalkan luka yang membuat seseorang memandang dirinya dengan cara berbeda. Ada beragam insecurity yang muncul setelah tahu pasangan selingkuh, seperti mudah membandingkan diri, meragukan penampilan, atau takut diselingkuhi lagi. Meski begitu, insecurity tersebut bukan fakta tentang siapa dirimu. Jangan sampai keputusan buruk yang dibuat orang lain berubah menjadi alasan untuk meragukan nilai dirimu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article