Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Benar Kebiasaan Saling Sindir Bisa Merusak Rumah Tangga?
ilustrasi saling sindir (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Sindiran yang sering menggantikan komunikasi langsung membuat pasangan harus menebak kebutuhan atau keluhan, sehingga urusan sederhana seperti meminta bantuan bisa berlarut-larut.
  • Kebiasaan menyindir memudahkan kesalahan lama dibawa ke masalah baru, membuat satu persoalan terasa tidak pernah selesai dan pembicaraan melebar.
  • Sindiran dapat membuat pasangan enggan bercerita atau meminta bantuan, lalu memicu balas-membalas sindiran yang mengalihkan fokus dari penyelesaian masalah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sindiran dalam rumah tangga kadang keluar begitu saja. Kesal karena pasangan lupa melakukan sesuatu, alih-alih mengatakannya terus terang, kita malah bilang, “Enak banget ya kalau tinggal nunggu diberesin.” Sesekali mungkin gak jadi persoalan, tetapi kalau hampir setiap rasa kesal disampaikan dengan cara seperti itu, lama-lama pasangan bisa terbiasa menerima sindiran daripada tahu apa yang sebenarnya sedang diminta.

Kebiasaan ini juga gak selalu berarti hubungan suami istri sedang gak baik-baik saja. Namun, kalau sindiran mulai menggantikan obrolan langsung setiap kali ada rasa kesal, urusan kecil pun bisa jadi panjang. Lantas, apa benar kebiasaan saling sindir bisa merusak rumah tangga?

1. Pasangan jadi harus menebak maksud di balik ucapan

ilustrasi pasangan (pexels.com/Tùng Sơn)

“Ya udah, aku kerjain sendiri aja,” bisa keluar ketika pasangan gak kunjung membantu. Padahal, mungkin maksudnya sederhana: ia ingin dibantu, tetapi kesal karena harus meminta dulu. Kalau kalimat seperti ini terlalu sering digunakan, pasangan jadi harus menebak apakah ia sedang diminta melakukan sesuatu atau cuma mendengar keluhan.

Permintaan seperti “Tolong bantuin aku beresin ini” sebenarnya jauh lebih jelas. Gak ada yang perlu ditebak dan gak perlu menunggu pasangan menangkap maksud dari nada bicara. Ketika sindiran lebih sering digunakan, hal sesederhana meminta bantuan pun bisa berubah jadi saling menunggu.

2. Kesalahan lama jadi gampang dibawa ke urusan baru

ilustrasi marah (pexels.com/Alex Green)

Suami pernah lupa menjemput anak, lalu beberapa minggu kemudian istrinya berkata, “Ingat ya nanti jemput anak. Jangan sampai kayak kemarin.” Urusan hari itu sebenarnya cuma pengingat biasa, tetapi kesalahan yang sudah lewat ikut disebut lagi. Hal serupa bisa terjadi saat membicarakan uang, pekerjaan rumah, atau janji yang pernah dibuat.

Kesalahan lama juga bisa muncul ketika pasangan sedang membahas perkara baru. “Dulu juga kamu bilang begitu,” misalnya, lalu pembicaraan yang awalnya cuma soal satu kejadian berubah menjadi membahas kejadian-kejadian sebelumnya. Kalau terus seperti itu, satu kesalahan rasanya gak pernah benar-benar selesai karena selalu bisa dikeluarkan lagi.

3. Jadi malas cerita atau meminta bantuan

ilustrasi pasangan (pexels.com/cottonbro studio)

Suami ingin cerita kalau pengeluaran bulan ini membengkak, tetapi ia ingat beberapa kali sebelumnya istrinya menyindir soal cara dia mengatur uang. Ia akhirnya memilih diam karena sudah bisa membayangkan percakapan mereka bakal berujung ke mana. Padahal, urusan uang justru lebih baik diketahui berdua daripada disimpan sendiri.

Hal serupa bisa terjadi ketika istri sedang capek dan sebenarnya ingin meminta bantuan. Ia mungkin sudah tahu kalau keluhannya akan dibalas dengan mengungkit kesalahan lain. Lama-lama, cerita atau permintaan sederhana pun jadi ditahan karena malas kalau harus menghadapi sindiran lagi.

4. Satu sindiran dibalas dengan sindiran lain

ilustrasi bertengkar (pexels.com/Diva Plavalaguna)

“Rumah begini terus, kapan rapinya?” Suami menyindir, lalu istri membalas, “Barang kamu sendiri aja dari kemarin masih di situ.” Suami kemudian membawa-bawa cucian yang belum dilipat, sementara istrinya mengingatkan soal lampu kamar mandi yang sudah lama mati.

Dari satu urusan, pembicaraan bisa melebar ke mana-mana. Bukannya membahas rumah yang perlu dibereskan, keduanya malah sibuk menghitung pekerjaan masing-masing dan mengingat kesalahan pasangan. Setelah semua sindiran keluar, rumah tetap belum rapi dan urusan yang tadi dibicarakan juga belum tentu selesai.

Saling sindir gak otomatis berarti rumah tangga sedang gak sehat. Meski begitu, kebiasaan saling sindir bisa merusak rumah tangga jika metode tersebut menjadi cara utama untuk menyampaikan rasa kesal. Pasangan bisa makin sulit mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan satu sama lain. Kadang, mengatakan “Aku kesel karena kamu…” memang terasa lebih terus terang, tetapi setidaknya pasangan tahu apa yang sedang dibicarakan atau diinginkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article