Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kita Perlu Berteman dengan Orang yang Sekufu?
ilustrasi nongkrong dengan teman (unsplash.com/Rendy Novantino)
  • Teman yang sekufu tidak harus memiliki kehidupan yang sama, tetapi memiliki nilai dan prinsip yang sejalan.

  • Kesamaan prioritas dan gaya hidup membuat pertemanan terasa lebih nyaman tanpa harus memaksakan diri.

  • Teman yang sekufu bisa saling mengingatkan dengan jujur tanpa membuat satu sama lain merasa dihakimi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada kalanya kita mencoba berteman dengan siapa saja. Namun, setelah hubungan pertemanan berjalan cukup lama, baru terasa bahwa ada perbedaan yang ternyata cukup mendasar. Cara berpikir, prinsip hidup, sampai cara memandang masalah bisa sangat berbeda.

Perbedaan sebenarnya bukan sesuatu yang harus dihindari dalam pertemanan. Justru mengenal orang dengan latar belakang dan sudut pandang berbeda bisa membuat seseorang belajar banyak hal. Namun, ada alasan mengapa memiliki teman yang sekufu tetap penting. Sekufu bukan berarti harus sama dalam segala hal, melainkan memiliki nilai, prinsip, atau cara pandang yang cukup sejalan sehingga hubungan terasa lebih sehat dan nyaman.

1. Sekufu bukan berarti harus punya kehidupan yang sama

ilustrasi dua orang sedang berbicara (pexels.com/mentatdgt)

Istilah sekufu sering kali dikaitkan dengan pasangan, terutama dalam konteks pernikahan. Padahal, konsep ini juga bisa diterapkan dalam hubungan pertemanan. Teman yang sekufu tidak harus memiliki pekerjaan, penghasilan, pendidikan, hobi, atau latar belakang keluarga yang sama. Dua orang bisa saja berasal dari lingkungan yang sangat berbeda, tetapi tetap memiliki nilai yang serupa dalam menjalani kehidupan.

Misalnya, sama-sama menghargai kejujuran, memahami batasan pribadi, tidak suka memanfaatkan orang lain, dan tetap menjaga sikap saat bercanda. Keduanya juga punya pandangan yang cukup mirip tentang pentingnya saling menghargai dalam sebuah hubungan. Kesamaan nilai seperti ini sering kali lebih berpengaruh terhadap kualitas pertemanan dibandingkan sekadar memiliki banyak hobi yang sama.

2. Lebih mudah saling memahami tanpa banyak menjelaskan

ilustrasi jalan-jalan bersama sahabat (pexels.com/Pixabay)

Salah satu keuntungan berteman dengan orang yang sekufu adalah adanya rasa saling memahami. Bukan berarti teman tersebut selalu setuju dengan semua keputusan yang kita ambil, tetapi mereka biasanya bisa memahami alasan di balik pilihan tersebut. Ketika seseorang sedang berada di fase hidup yang berbeda, misalnya mulai fokus pada keluarga, pekerjaan, kesehatan, atau keuangan, lingkaran pertemanan juga bisa ikut berubah. Teman yang memiliki prioritas serupa cenderung lebih mudah memahami ketika kita tidak bisa lagi nongkrong sesering dulu atau harus mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Sebaliknya, perbedaan prinsip yang terlalu jauh kadang membuat seseorang merasa harus terus memberikan penjelasan agar pilihannya dimengerti.

3. Lebih mudah mengikuti gaya hidup dan pergaulan

ilustrasi hang out (unsplash.com/Toa Heftiba)

Pertemanan yang sekufu membuat seseorang lebih mudah merasa nyaman dengan gaya hidup dan lingkungan pergaulannya. Misalnya, ketika kondisi ekonomi relatif setara, ajakan untuk nongkrong, makan di luar, liburan, atau melakukan aktivitas tertentu tidak terlalu terasa sebagai beban bagi salah satu pihak. Kita juga tidak perlu memaksakan diri mengikuti kebiasaan teman hanya karena takut dianggap tidak mampu atau tidak cocok dengan lingkungan pertemanan.

Hal yang sama berlaku untuk nilai hidup. Kalau sama-sama punya pandangan yang mirip tentang cara mengatur uang, memilih pergaulan, menjaga hubungan, atau menentukan prioritas, akan lebih mudah untuk saling memahami. Bukan berarti harus punya penghasilan atau gaya hidup yang sama persis, tetapi perbedaannya masih berada dalam batas yang membuat kedua pihak tetap nyaman.

Sebaliknya, perbedaan yang terlalu jauh dalam kondisi ekonomi maupun prinsip hidup bisa membuat seseorang merasa harus terus menyesuaikan diri. Lama-kelamaan, hal ini bisa membuat pertemanan terasa melelahkan karena salah satu pihak terus berusaha mengikuti standar hidup temannya. Padahal, hubungan pertemanan seharusnya membuat kita nyaman menjadi diri sendiri, bukan merasa harus mengejar kehidupan orang lain.

4. Bisa saling mengingatkan tanpa merasa dihakimi

ilustrasi berbicara dengan teman (unsplash.com/NONRESIDENT)

Teman yang baik bukan hanya orang yang selalu mendukung semua keputusan kita. Ada kalanya seorang teman justru perlu mengatakan bahwa kita sedang mengambil langkah yang kurang tepat. Hal ini biasanya lebih mudah dilakukan ketika terdapat kesamaan nilai dan rasa saling percaya. Nasihat dari teman yang memahami prinsip hidup kita pun cenderung terasa sebagai bentuk kepedulian, bukan penghakiman.

Begitu juga ketika kita melakukan kesalahan. Teman yang sekufu tidak harus membenarkan semuanya. Mereka bisa memberikan sudut pandang lain sambil tetap menghargai kita sebagai individu.

Pada akhirnya, memiliki teman yang sekufu bukan tentang mencari orang yang sama persis dengan diri kita. Justru, pertemanan yang sehat masih memungkinkan adanya perbedaan pendapat, karakter, dan pengalaman hidup. Yang lebih penting adalah memiliki fondasi yang cukup sejalan. Dengan begitu, kita bisa menjadi diri sendiri tanpa takut diremehkan, berbeda tanpa harus bermusuhan, dan saling mengingatkan tanpa merasa sedang dihakimi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article