Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kita Lebih Nyaman Jalan-jalan dengan Orang Tertentu?
ilustrasi traveling dengan teman (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Kenyamanan bepergian bersama tidak hanya ditentukan kedekatan, melainkan kecocokan gaya perjalanan saat mengatur tujuan, jadwal, transportasi, makan, dan perubahan rencana.
  • Teman dengan ritme traveling serupa, dari jumlah destinasi hingga jam istirahat, mengurangi rasa terburu-buru atau menunggu sehingga perjalanan terasa lebih selaras.
  • Partner perjalanan yang ideal mampu beradaptasi saat rencana berubah, menyampaikan kebutuhan, dan mencari kompromi tanpa saling menyalahkan atau memaksakan keinginan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mungkin kamu pernah merasa liburan dengan satu teman terasa jauh lebih santai dibanding liburan dengan teman lainnya? Padahal, kalian sama-sama dekat dan sering bertemu dalam keseharian. Hal ini bisa terjadi karena setiap orang punya gaya yang berbeda saat bepergian. Ada yang suka membuat itinerary sejak jauh-jauh hari, sementara yang lain baru menentukan tujuan setelah sampai. Ada juga yang senang berpindah-pindah tempat, sedangkan temannya lebih nyaman menikmati satu tempat dengan santai.

Perbedaan seperti ini baru terasa jelas ketika kita menghabiskan waktu bersama dalam perjalanan. Saat traveling, kita harus menentukan banyak hal, mulai dari tempat makan, jadwal, transportasi, sampai cara menghadapi rencana yang tiba-tiba berubah. Karena itu, orang yang terasa nyaman diajak jalan-jalan biasanya bukan sekadar orang yang paling dekat dengan kita. Ada beberapa alasan yang membuat seseorang bisa terasa seperti teman traveling yang pas.

1. Punya ritme traveling yang mirip

ilustrasi traveling dengan teman (pexels.com/Hồng Xuân Viên)

Perbedaan ritme traveling sebenarnya gak selalu jadi masalah, tetapi bisa melelahkan kalau hal tersebut terus terjadi sepanjang perjalanan. Satu orang ingin mengunjungi lima tempat dalam sehari, sementara yang lain hanya ingin menikmati satu destinasi dan duduk sebentar. Belum lagi urusan jam bangun, waktu makan, sampai kapan kalian harus kembali ke penginapan. Ketika kebutuhan seperti ini terlalu berbeda, salah satu orang akhirnya bisa merasa harus terus mengejar atau justru menunggu.

Itu kenapa teman dengan ritme traveling yang mirip sering terasa lebih nyaman. Kalian gak perlu terlalu banyak berkompromi soal hal-hal kecil, karena tempo perjalanan sudah terasa cocok bagi keduanya.

2. Sama-sama bisa menghadapi situasi tak terduga

ilustrasi traveling dengan teman (pexels.com/Kamaji Ogino)

Traveling gak selalu bisa berjalan sesuai itinerary yang sudah dibuat. Bisa saja restoran yang dituju penuh, jalanan yang macet parah, atau tiba-tiba ada tempat menarik yang ingin didatangi. Dalam situasi seperti ini, kita biasanya lebih nyaman bepergian dengan orang yang gak langsung panik ketika rencana berubah.

Roni Beth Tower, Ph.D., seorang psikolog klinis, dalam Psychology Today menjelaskan bahwa orang dengan tingkat conscientiousness yang lebih rendah cenderung lebih fleksibel ketika menghadapi kejadian tak terduga. Mereka punya cara berbeda dalam menghadapi hal-hal yang tiba-tiba terjadi, seperti aksi mogok maskapai, kemacetan yang membuat rencana berantakan, atau tamu tak terduga yang ikut pulang. Kemampuan mereka untuk menikmati spontanitas membuat mereka bisa beradaptasi dengan mudah dan memilih jalan lain tanpa harus memaksakan rencana awal tetap berjalan. 

Sikap seperti ini bisa membuat perjalanan terasa lebih santai karena kamu gak harus sibuk mempertahankan rencana yang sudah dibuat. Ketika satu opsi gagal, masih ada kemungkinan untuk mencari pilihan lain tanpa saling menyalahkan. Teman yang bisa diajak beradaptasi seperti ini akhirnya membuat masalah kecil selama liburan terasa lebih mudah dilewati.

3. Mau saling menyesuaikan, bukan memaksakan keinginan sendiri

ilustrasi traveling dengan teman (pexels.com/MART PRODUCTION)

Ketika sedang traveling bersama, tidak selalu setiap keputusan harus sesuai dengan keinginanmu. Mungkin ada saat di mana kamu ingin menghabiskan waktu di museum, sementara temanmu lebih tertarik mencari tempat makan atau sekadar duduk santai. Walaupun begitu, perjalanan bisa tetap menyenangkan ketika kamu dan temanmu bisa mencari jalan tengah tanpa membuat salah satu orang merasa harus terus mengalah.

Menurut Niloufar Esmaeilpour, MSc RCC SE, seorang terapis klinis dan founder Lotus Therapy, “Dengan mengajak teman untuk menyampaikan kebutuhan dan preferensi masing-masing, sebagian besar kebutuhan bisa diakomodasi. Ingat, tujuan perjalanan adalah agar semua orang bisa menikmatinya, jadi fleksibilitas dan saling memahami adalah hal yang utama,” dikutip dari Verywell Mind.

Jadi, teman traveling yang cocok bukan berarti orang yang selalu punya keinginan sama denganmu. Justru, kalian bisa punya pilihan berbeda tanpa menjadikan perbedaan itu sebagai masalah yang besar.

Terkadang, kecocokan dengan teman saat jalan-jalan baru kelihatan setelah kalian sama-sama capek, lapar, dan bingung mau makan di mana. Kalau dalam kondisi seperti itu masih bisa ketawa dan cari solusi bareng, mungkin memang kalian cocok jadi partner jalan. Sebab, liburan yang seru gak selalu soal tempat yang didatangi, tapi juga siapa yang ada di sebelahmu saat rencana mulai berantakan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article