- Paes hitam di dahi dengan lekukan khas yang kerap dimaknai sebagai simbol kedewasaan
- Sanggul bokor mengkureb yang diposisikan rendah di bagian belakang kepala
- Kebaya beludru dengan warna gelap yang memberi kesan anggun dan elegan
- Kain batik motif “sido” seperti sidomukti atau sidoasih yang sering diartikan sebagai harapan kehidupan yang berkelanjutan
- Aksesori tradisional seperti cundhuk mentul, cundhuk jungkat, dan roncean melati sebagai pelengkap tampilan
Jadi Konsep Prewed Jennifer Coppen, Apa Itu Gaya Pengantin Solo Putri?

- Jennifer Coppen tampil memukau dalam sesi prewedding bergaya pengantin Solo Putri, menggabungkan nuansa klasik Jawa dengan sentuhan modern yang estetik dan bermakna.
- Gaya pengantin Solo Putri berasal dari tradisi keraton Surakarta dengan ciri khas paes hitam di dahi, kebaya beludru gelap, serta kain batik motif sido yang penuh simbol budaya.
- Setiap elemen riasan Solo Putri memiliki makna filosofis mendalam tentang kedewasaan, kesiapan berumah tangga, dan doa untuk kehidupan pernikahan yang harmonis serta penuh keberkahan.
Konsep prewedding dengan sentuhan adat tidak pernah kehilangan pesonanya. Salah satu yang mencuri perhatian adalah gaya pengantin Solo Putri. Nuansa klasik yang anggun dipadukan dengan visual modern, bisa membuat konsep ini terasa estetik sekaligus bermakna.
Salah satu yang ikut menarik perhatian adalah Jennifer Coppen, yang baru-baru ini tampil memukau dengan sentuhan riasan tradisional khas Jawa untuk prewedding bersama Justin Hubner. Lantas, apa sebenarnya gaya pengantin Solo Putri dan apa saja makna di baliknya? Berikut ini penjelasannya!
1. Apa itu gaya pengantin Solo Putri?

Gaya pengantin Solo Putri merupakan riasan tradisional yang berasal dari lingkungan keraton Surakarta, Jawa Tengah. Ciri khas utamanya terletak pada paes, yaitu hiasan berwarna hitam di dahi yang dibentuk dengan lekukan tertentu. Riasan ini dikenal menghadirkan kesan halus, anggun, dan berwibawa. Di samping itu, ada penggunaan kebaya beludru hitam yang panang dengan aksen sulaman keemasan.
Lebih dari sekadar mempercantik tampilan, gaya pengantin Solo Putri juga sarat nilai filosofis. Dalam budaya Jawa, riasan ini kerap dimaknai sebagai simbol kedewasaan serta kesiapan perempuan dalam memasuki kehidupan rumah tangga. Karena itu, gaya ini banyak digunakan dalam momen sakral seperti pernikahan hingga sesi prewedding.
2. Ciri khas dan pakem gaya Solo Putri

Sebagai riasan yang berakar dari tradisi keraton, gaya Solo Putri memiliki pakem atau aturan tertentu yang masih dijaga hingga kini. Setiap detailnya, mulai dari bentuk paes hingga pemilihan busana, mengikuti kaidah yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pakem ini menjadi bagian penting untuk mempertahankan nilai budaya sekaligus keaslian tampilannya.
Beberapa ciri khas utama gaya pengantin Solo Putri, antara lain:
3. Makna filosofis di balik setiap elemen riasan

Di balik tampilannya yang indah, setiap elemen gaya pengantin Solo Putri memiliki makna yang erat dengan nilai kehidupan. Paes di dahi kerap dimaknai sebagai simbol pengendalian diri dan kedewasaan, sementara sanggul menjadi representasi kesiapan menjalani peran baru dalam rumah tangga. Di sisi lain, motif batik “sido” sering diartikan sebagai doa agar kehidupan pernikahan berjalan langgeng, harmonis, dan penuh keberkahan.
Makna-makna tersebut menjadikan Solo Putri tidak sekadar riasan, tetapi juga bagian dari simbol budaya yang sarat nilai. Setiap detailnya seolah merepresentasikan harapan dan doa bagi kehidupan pasangan ke depan. Inilah yang membuat gaya pengantin Solo Putri tetap relevan dan terus diminati hingga saat ini.