Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ngefans Berlebihan? Kenali 7 Tanda Hubungan Parasosial Toksik

4 min read
Ngefans Berlebihan? Kenali 7 Tanda Hubungan Parasosial Toksik
ilustrasi drummer (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Hubungan parasosial dapat menjadi toksik ketika penggemar merasa berpacaran dengan idola, menghabiskan waktu berlebihan mengikuti kabarnya, dan produktivitas belajar atau kerja terganggu.
  • Tanda lainnya meliputi emosi berlebihan saat idola bermasalah, membenci figur publik atau penggemar lain, serta merendahkan martabat diri dengan membenarkan perlakuan apa pun dari idola.
  • Penggemar perlu menghindari pembelaan buta terhadap perilaku buruk idola dan menjadikannya standar hidup, karena dapat memicu standar ganda, masalah keuangan, serta hubungan sosial yang sulit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ngefans sama idola sebenarnya tidak salah. Sosok yang diidolakan tentu punya sejumlah kemampuan atau prestasi yang pantas menimbulkan kekaguman. Namun, kamu tetap perlu berhati-hati kalau rasa sukamu terhadap idola mulai berubah menjadi toksik.

Ini biasanya gak disadari oleh diri sendiri. Orang lain yang lebih cepat mendeteksi rasa sukamu ke idola sudah berlebihan sampai tidak sehat. Bahkan di titik tertentu kesehatan mentalmu dapat terganggu.

Padahal, di titik itu pasti kamu sukar diingatkan. Dirimu malah dapat membenci orang yang bermaksud baik dengan menasihatimu. Mending kamu melakukan evaluasi mandiri dengan melihat tanda-tanda berikut ini lalu melakukan perubahan seperlunya.

  1. 1. Terlalu ngefans sampai berpikir kamu pacaran sama idola

    pemain band
    ilustrasi pemain band (pexels.com/Justinas Stanislovaitis)

    Ini yang bikin kamu disebut halu oleh orang-orang di sekitar. Kamu sampai seperti terlepas jauh dari realitas. Dirimu senang sekali menganggap idola sebagai kekasihmu. Ini tidak hanya ada dalam pikiran, melainkan sampai ke ucapan dan perilakumu.

    Misalnya, kamu ketagihan mengedit foto agar seakan-akan dirimu dan idola layaknya pasangan kekasih. Foto itu menjadi wallpaper semua gadgetmu. Kamu tidak lagi menyebut idola sesuai namanya, melainkan punya panggilan sayang. Dirimu mungkin juga suka bikin chat palsu seolah-olah sedang bermesraan dengan sang idola.

  2. 2. Menghabiskan terlalu banyak waktu dan energi untuk mengikuti berita idola

    pemain band
    ilustrasi pemain band (pexels.com/Clam Lo)

    Paham sih, kamu sebagai penggemar pasti tidak mau sampai ketinggalan berita apa pun terkait idola. Kalau bisa dirimu bahkan menjadi orang yang pertama mengetahuinya supaya terasa sangat spesial. Akan tetapi, bila waktu serta energimu sehari-hari seperti habis hanya untuk itu maka tandanya ini sudah toksik.

    Produktivitasmu menjadi terhambat. Kamu telah lelah sebelum mulai bekerja atau belajar. Fokusmu juga tidak pernah tertuju pada tugas-tugas yang lebih penting. Isi kepala rasanya cuma berisi segala tentang idola. Padahal kalau sampai pekerjaan atau kuliahmu terhambat, idola gak kasih bantuan apa-apa.

  3. 3. Terlampau emosional saat idola kena musibah atau masalah

    pemain gitar
    ilustrasi pemain gitar (pexels.com/Manny Rodriguez)

    Tentu siapa pun yang mengalami musibah atau masalah telah sepantasnya dirimu bisa berempati. Itu tanda sisi kemanusiaanmu hidup. Kamu gak mati rasa dan bersikap masa bodoh terhadap kesusahan orang lain.

    Meski demikian, bila kamu sampai sedih bukan kepalang, gak bisa tidur, serta kehilangan semangat menjalani hari secara signifikan berarti hubungan parasosial sudah berlebihan. Benar dia idolamu. Namun, antara dirimu dengannya juga perlu tetap ada batasan. Jangan kamu merasa seakan-akan setiap musibah atau masalahnya otomatis menjadi persoalanmu juga.

  4. 4. Membenci public figure lain dan penggemarnya

    gitaris
    ilustrasi gitaris (pexels.com/Дмитрий Зайцев)

    Rasa suka ke idola seharusnya gak sampai membuatmu ganti membenci public figure lain dan penggemarnya. Tindakan seperti di atas sudah tidak masuk akal. Tak mungkin di dunia ini hanya ada satu orang yang pantas diidolakan, yaitu bintang favoritmu.

    Siapa pun dia, niscaya banyak orang hebat yang sebidang dengannya. Misalnya, sesama musisi, bintang film, dan sebagainya. Setiapnya memberikan warna masing-masing. Mereka tidak untuk dijadikan bahan pertengkaran antarpenggemar. Orang juga bebas memilih idola.

  5. 5. Berpikir mau diapain aja oleh idola

    vokalis
    ilustrasi vokalis (pexels.com/Erik Mclean)

    Isi pikiran yang merendahkan martabat diri mudah dibaca dalam beberapa komentar di media sosial tentang public figure. Sebesar apa pun daya tariknya di matamu semestinya kamu tetap menjunjung tinggi kehormatan diri. Bukan lantas dirimu seperti siap serta rela diperlakukan dengan cara apa pun oleh idola.

    Contohnya, kamu berpikir, berkata, atau mengetik komentar gak apa-apa deh dilecehkan kalau pelakunya sang idola. Menurutmu, itu jatuhnya bukan pelecehan melainkan anugerah atau keberuntungan buatmu. Cara berpikir yang sesat begini harus dikoreksi. Jangan menempatkan dirimu di bawah sang idola karena kalian sama-sama manusia.

  6. 6. Membela setiap ucapan dan perilaku buruk idola

    konser
    ilustrasi konser (pexels.com/Abdel Rahman Abu Baker)

    Kamu sudah seperti pasukan terdepan dalam menjaga reputasi idola. Padahal, dia sendiri yang mencederai citranya oleh ucapan atau perilaku buruk. Namun, dirimu merasa wajib membersihkan namanya.

    Seandainya perkataan dan tindakan negatif yang sama dilakukan oleh orang lain, kamu pasti tanpa ragu mencelanya. Ini artinya, dirimu menerapkan standar ganda dalam menegakkan moralitas. Sesuatu yang seharusnya gak boleh terjadi. Katakan benar bila sesuatu memang benar serta sebaliknya.

  7. 7. Menjadikan segala tentang idola sebagai standar

    bermain gitar
    ilustrasi bermain gitar (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Saking sukanya dirimu pada idola, semua tentangnya menjadi standar dalam hidupmu. Gaya hidupmu coba dinaikkan agar mendekati lifestyle idola. Sekalipun kemampuanmu bakal tetap jauh di bawahnya, untuk ukuranmu sudah sampai bikin masalah keuangan.

    Kamu juga menerapkan standar yang gak masuk akal dalam pertemanan serta hubungan asmara. Teman-teman atau pasanganmu mesti mendekati sosok idolamu. Sebenarnya itu hakmu, tapi tentu sama dengan mempersulit diri sendiri. Standar serba tinggi ala idola juga membuatmu terkesan angkuh dan sukar dijangkau.

    Kamu harus menjadi penggemar yang cerdas dan tahu batas. Rasa suka terhadap idola jangan sampai merugikan diri sendiri atau mengubah karaktermu menjadi negatif. Jaga hubungan parasosialmu agar tetap sehat bahkan menginspirasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More