Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Ada Pasutri Tinggal Serumah tetapi Merasa Berjarak?

4 min read
Kenapa Ada Pasutri Tinggal Serumah tetapi Merasa Berjarak?
ilustrasi suami dan istri yang tidak harmonis (pexels.com/Kampus Production)
  • Kesibukan kerja, urusan rumah, dan pengasuhan anak dapat membuat komunikasi pasutri terbatas pada kebutuhan praktis, sehingga kebersamaan fisik tidak otomatis menciptakan kedekatan emosional.
  • Masalah kecil yang dipendam, rasa lelah yang tak dibicarakan, serta kebiasaan menghindari konflik dapat menumpuk dan membuat pasangan merasa semakin jauh di rumah yang sama.
  • Rasa terlalu nyaman dan perbedaan bahasa cinta dapat membuat perhatian pasangan tidak terasa; hubungan tetap membutuhkan komunikasi, apresiasi, serta waktu hadir bersama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tinggal satu rumah dengan pasangan seharusnya membuat pasangan suami dan istri (pasutri) punya banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu  bersama. Bangun di rumah yang sama, makan bersama, tidur di kamar yang sama, sampai mengurus berbagai kebutuhan rumah tangga setiap hari. Namun, kenyataannya, kedekatan secara fisik tidak selalu berarti hubungan juga terasa dekat.

Ada pasangan yang setiap hari bertemu, tetapi hampir tidak pernah benar-benar mengobrol. Komunikasi hanya sebatas menanyakan kebutuhan rumah, pekerjaan, anak, atau hal-hal praktis lainnya. Lama-kelamaan, rumah memang tetap terasa ramai, tetapi hubungan justru terasa sepi. Sebenarnya, kenapa sampai ada pasutri tinggal serumah tetapi merasa berjarak?

  1. 1. Kesibukan membuat interaksi hanya sebatas rutinitas

    ilustrasi istri sedang mendengarkan suami berbicara
    ilustrasi istri sedang mendengarkan suami berbicara (pexels.com/Ivan S)

    Setelah menikah, terutama ketika sudah punya anak, banyak pasangan merasa waktunya habis untuk menyelesaikan berbagai kewajiban. Pagi sibuk bekerja, sore mengurus rumah, sementara malam digunakan untuk mengurus anak atau menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Tanpa disadari, rutinitas tersebut bisa membuat pasangan semakin jarang memiliki waktu untuk sekadar berbicara dan menikmati kebersamaan.

    Komunikasi dengan pasangan sering kali hanya berisi hal-hal yang perlu segera diselesaikan. Misalnya, siapa yang menjemput anak, siapa yang membayar tagihan, apa yang harus dibeli, atau besok harus pergi ke mana. Obrolan seperti ini memang penting, tetapi hubungan juga membutuhkan percakapan yang tidak memiliki tujuan praktis. Membicarakan hal yang disukai, bercerita tentang hari yang dijalani, atau sekadar bercanda bisa membantu pasangan tetap merasa terhubung. Kalau hampir semua percakapan hanya berisi urusan rumah tangga, pasangan bisa saja mulai merasa seperti rekan kerja di dalam rumah sendiri.

  2. 2. Kehadiran anak mengubah pola hubungan

    ilustrasi suami dan istri sedang mengurus anak
    ilustrasi suami dan istri sedang mengurus anak (pexels.com/Keira Burton)

    Memiliki anak membawa banyak perubahan dalam kehidupan suami istri. Waktu yang sebelumnya bisa digunakan untuk berdua sekarang terbagi untuk mengurus kebutuhan si kecil. Hal ini cukup umum terjadi. Bahkan, pasangan mungkin sudah berada di ruangan yang sama, tetapi perhatian keduanya sepenuhnya tertuju pada anak. Ketika anak akhirnya tidur, keduanya justru sudah terlalu lelah untuk berbicara atau melakukan sesuatu bersama.

    Bukan berarti kehadiran anak menjadi penyebab masalah dalam hubungan. Namun, pasangan perlu menyadari bahwa hubungan suami istri juga tetap membutuhkan perhatian. Jika tidak ada usaha untuk menyediakan waktu berdua, hubungan bisa perlahan terasa seperti sekadar menjalankan peran sebagai orangtua.

  3. 3. Ada masalah yang tidak pernah benar-benar dibicarakan hingga tuntas

    ilustrasi suami dan istri saling diam
    ilustrasi suami dan istri saling diam (pexels.com/Alex Green)

    Jarak emosional juga bisa muncul karena adanya masalah yang belum selesai. Salah satu atau kedua pasangan mungkin masih menyimpan rasa kecewa, marah, atau sedih. Masalah tersebut tidak selalu berupa pertengkaran besar. Terkadang justru berasal dari hal-hal kecil yang terus menumpuk.

    Misalnya, salah satu pasangan merasa selalu mengurus rumah sendirian, sementara pasangannya merasa sudah bekerja keras mencari nafkah. Keduanya mungkin sama-sama lelah, tetapi tidak pernah benar-benar membicarakan apa yang mereka rasakan. Ketika komunikasi hanya digunakan untuk menghindari konflik, masalah memang terlihat seperti tidak ada. Padahal, secara emosional pasangan semakin menjauh.

  4. 4. Terlalu nyaman sampai berhenti berusaha

    ilustrasi pasangan suami istri sedang berlibur
    ilustrasi pasangan suami istri sedang berlibur (pexels.com/Gustavo Fring)

    Ada fase dalam pernikahan saat suami dan istri merasa sudah sangat mengenal satu sama lain. Kondisi ini sebenarnya bisa menjadi hal yang positif. Namun, rasa nyaman juga dapat membuat seseorang berhenti melakukan hal-hal kecil yang dulu sering dilakukan saat masih berpacaran. Tidak lagi bertanya bagaimana harinya, jarang memuji, tidak tertarik mengetahui apa yang sedang dipikirkan pasangan, atau menganggap keberadaan pasangan sebagai sesuatu yang sudah pasti. 

    Padahal, hubungan tetap membutuhkan perhatian meskipun sudah berlangsung bertahun-tahun. Ucapan sederhana, seperti "terima kasih", menanyakan kabar, memuji penampilan, membuatkan kopi, atau menyempatkan duduk bersama tanpa sibuk dengan HP bisa terlihat sepele. Namun, hal-hal seperti ini membuat pasangan merasa keberadaannya masih diperhatikan.

  5. 5. Love language yang berbeda

    ilustrasi love language
    ilustrasi love language (unsplash.com/BeccaTapert)

    Setiap orang memiliki love language atau bahasa cinta yang berbeda. Ada yang merasa dicintai ketika mendapatkan perhatian, ada yang membutuhkan kata-kata penghargaan, sementara yang lain merasa dekat melalui sentuhan atau menghabiskan waktu bersama. Masalahnya, pasangan terkadang memberikan kasih sayang dengan cara yang menurut dirinya sudah cukup, tetapi tidak dirasakan demikian oleh pasangannya.

    Suami mungkin merasa sudah bekerja keras demi keluarga sebagai bentuk kasih sayang. Namun, istri mungkin lebih membutuhkan waktu untuk berbicara dan merasa didengarkan. Kalau kebutuhan emosional ini tidak pernah dibicarakan, keduanya bisa sama-sama merasa sudah berusaha, tetapi tetap merasa tidak mendapatkan apa yang dibutuhkan.

    Tinggal serumah bukan satu-satunya tanda bahwa suami istri masih dekat. Ada beberapa pasutri tinggal serumah tetapi merasa berjarak. Oleh sebab itu, hubungan perlu diisi dengan komunikasi, perhatian, dan waktu untuk benar-benar hadir satu sama lain. Jika akhir-akhir ini pasangan terasa semakin jauh, mungkin ini saatnya berhenti sejenak dari rutinitas dan mulai kembali membangun kedekatan, meski dari hal-hal kecil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More