Performative Intimacy: Benarkah Pamer Kemesraan Tanda Hubungan Sehat?

- Performative intimacy adalah pamer kemesraan, terutama di media sosial, yang dapat melebihi kondisi asli hubungan dan membuat publik keliru menilai keharmonisan pasangan.
- Dorongannya dapat berupa keinginan meneguhkan status, takut kehilangan pasangan, mencari validasi, memancing iri orang lain, atau mempertahankan citra harmonis saat hubungan bermasalah.
- Meski bisa memotivasi pasangan membangun kebersamaan, dampak negatifnya lebih besar; menjaga privasi, mengurangi unggahan dipaksakan, dan membicarakan masalah langsung dinilai lebih penting.
Menurutmu, apa ciri hubungan pasangan kekasih atau suami istri yang sehat? Kalau indikatornya sebatas kemesraan mereka yang terlihat olehmu, hati-hati. Ini bisa menipu dan menyesatkan. Apalagi kemesraan yang dimaksud sebatas unggahan yang dapat diakses olehmu melalui media sosial.
Itu tidak ubahnya cuma sedikit cuplikan dari keseluruhan jalannya hubungan mereka setiap hari. Pasti ada banyak bagian yang tidak dimunculkan. Pun aktivitas di ruang maya kerap mendorong orang melakukan performative intimacy.
Apakah kamu baru pernah mendengarnya? Mari mencari tahu lebih banyak tentang performative intimacy, khususnya di media sosial. Sebenarnya ini bukan fenomena baru, tapi masih sering bikin orang tertipu serta keliru menyimpulkan tentang keharmonisan pasangan.
1. Pertunjukan kemesraan yang sering kali melebihi kondisi asli

ilustrasi pamer kemesraan (pexels.com/Andrea Piacquadio) Performative intimacy bermakna pertunjukan kemesraan di antara pasangan. Sebetulnya ini bisa terjadi di mana saja. Seperti pasangan kekasih yang kurang memahami etika di ruang publik sehingga berlebihan dalam bermesraan.
Namun, pertunjukan kemesraan dalam arti cenderung menipu kenyataan lebih kerap terjadi di dunia maya. Misalnya, orang yang setiap hari berkali-kali mengunggah foto atau potongan video kemesraan dengan pasangannya. Unggahan dilengkapi narasi yang menggambarkan besarnya rasa cinta di antara mereka.
Juga pemujaan berlebihan terhadap pasangannya seolah-olah ia sempurna dan mereka berdua selalu amat bahagia. Faktanya, kehidupan asmaranya bisa jadi gak seromantis ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan aslinya mereka sering ribut atau sedang menghadapi persoalan yang cukup serius. Apa yang ditampilkan di media sosial gak sama dengan keadaan yang sesungguhnya.
2. Penyebab orang ingin terus melakukan performative intimacy di medsos

ilustrasi pamer kemesraan (pexels.com/Andrea Piacquadio) Pertanyaannya kemudian, kenapa orang sampai ngoyo melakukan performative intimacy kalau kenyataan gak sejalan? Lain orang tentu bisa lain alasan. Akan tetapi, ada beberapa kemungkinan penyebab yang mendorong orang pamer kemesraan meski aslinya hubungan lagi retak sekalipun.
Pertama, keinginan kuat meneguhkan status mereka sebagai pasangan. Seharusnya ikatan pernikahan atau kesepakatan kedua belah pihak untuk berpacaran lebih penting dari hal-hal lainnya. Namun, beberapa orang merasa gak puas hanya dengan status dan komitmen tersebut.
Mereka merasa semua orang harus tahu dan sangat yakin tentang hubungannya dengan seseorang. Motivasi lainnya adalah rasa takut kehilangan pasangan. Performative intimacy seolah-olah menjadi benteng pertahanan hubungan mereka guna menangkal orang ketiga.
Meski tidak semua, ada pula orang yang memamerkan kemesraannya guna memanas-manasi orang lain. Seperti kenalannya yang belum menikah supaya iri padanya dan merasa insecure. Ketika hubungan sedang di ujung tanduk pun, pamer kemesraan melalui foto atau video lama dapat dipakai buat mempertahankan citra rumah tangga harmonis.
3. Ada sisi plusnya, tapi lebih banyak negatifnya

ilustrasi (pexels.com/Vitaly Gariev) Dampak performative intimacy bisa dua, yaitu positif dan negatif. Sisi baiknya, merutinkan posting kemesraan dengan pasangan dapat memotivasi mereka untuk benar-benar mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini seperti pancingan.
Hubungan yang tadinya mulai membosankan pelan-pelan kembali penuh warna karena mereka ingin membuat konten bersama yang senatural mungkin. Semacam proyek bareng yang menantang kekompakan. Hubungan terasa hidup lagi.
Namun, sisi negatifnya cenderung lebih banyak. Kepura-puraan itu bisa bikin orang yang sesungguhnya tidak bahagia dengan hubungannya makin sedih setelah membuat unggahan kemesraan. Mirip dengan orang yang diam-diam menangis di balik topeng jenaka.
Performative intimacy juga bisa membuat mereka kurang disukai di lingkungan pergaulan. Sikap berlebihan dalam mempertontonkan kemesraan seakan-akan permintaan tanpa henti untuk validasi dari orang lain. Motivasi ingin dinilai sebagai pasangan serasi dan idaman malah bikin orang-orang ilfeel.
4. Menjaga ruang privat lebih baik untuk kestabilan hubungan

ilustrasi mendokumentasikan kemesraan (pexels.com/Bethany Ferr) Bagi orang yang sudah terbiasa untuk memamerkan kemesraan dengan pasangan, berhenti melakukannya bisa sangat sulit. Ada beberapa ketakutan. Di antaranya, jangan-jangan orang lantas mengira hubungan mereka sedang renggang. Juga kecemasan lain seperti tiba-tiba ada orang ketiga memasuki hubungan mereka.
Namun, mereka mesti memahami bahwa hubungan asmara antara dua orang tetap memerlukan privasi. Ada hal-hal yang perlu atau tidak perlu diumbar ke publik. Apalagi intimitas yang diunggah sampai dimaksudkan buat mencari kekaguman orang lain saja.
Mereka bisa memulainya dari mengurangi frekuensi mengunggah kemesraan yang selama ini terlalu dipaksakan. Gunakan media sosial buat hal-hal yang lain. Tak kalah penting, hubungan dengan pasangan di dunia nyata diperkuat sedemikian rupa.
Agar mereka lebih percaya diri dalam menjalani relasi tanpa perlu sibuk membangun citra di depan banyak orang. Andai pun saat itu hubungan sebenarnya lagi goyah, solusinya bukan pamer kemesraan seolah-olah segalanya baik-baik saja. Masalah tetap tidak untuk diumbar, tetapi bicarakan hal tersebut dengan pasangan atau konsultan pernikahan.
Performative intimacy atau pamer kemesraan tidak selalu buruk. Akan tetapi, kalau tanpa menunjukkan kemesraan secara berlebihan hubungan malah lebih sehat dan bermakna, kenapa tidak? Intimitas sejati di antara pasangan adalah poin pentingnya. Bukan sebatas apa yang dicitrakan untuk membuat orang lain terkesan.

























