Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Plastic Bag Theory, Cowok yang Terlalu Santai Bikin Hubungan Melelahkan
ilustrasi pasangan sedang menikmati momen bersama (pexels.com/cottonbro)
  • Plastic bag theory menggambarkan pasangan yang tampak santai tetapi pasif, sehingga pasangannya harus memikul lebih banyak keputusan, perencanaan, dan tanggung jawab hubungan.
  • Sikap minim konflik dapat terasa aman pada awal hubungan, namun menjadi melelahkan ketika seseorang tidak punya preferensi, inisiatif, atau tindak lanjut terhadap kesepakatan.
  • Pasangan yang santai secara sehat tetap memiliki pendapat, arah, dan niat jelas; fleksibel menghadapi masalah, tetapi tetap proaktif serta terlibat dalam hubungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Punya pasangan yang santai, gak suka berdebat, dan selalu mengikuti keinginanmu mungkin terdengar seperti hubungan yang ideal. Namun, sikap terlalu easygoing ternyata gak selalu berarti hubungan akan berjalan lebih mudah.

Belakangan, internet ramai membicarakan plastic bag theory atau teori kantong plastik. Istilah ini menggambarkan pasangan yang terlihat santai, tetapi sebenarnya pasif sehingga pasangannya harus menanggung lebih banyak beban dalam hubungan. Yuk, ketahui lebih jauh tentang plastic bag theory lewat artikel berikut!

1. Berawal dari perumpamaan tentang kantong plastik

ilustrasi pasangan sedang membaca (pexels.com/rdne)

Dikutip dari SELF, konsep plastic bag theory berasal dari Alessandro Frosali, relationship coach dan motivational speaker untuk pria. Dalam sebuah video yang viral, Frosali membandingkan beberapa pasangan yang low-maintenance dengan kantong plastik yang terbawa arus.

“Kamu gak berinisiatif. Kamu gak merencanakan apa pun. Kamu hanya mengikuti arus dan menunggu dia membuat semua rencana dalam hubungan,” ujarnya.

Frosali kemudian menggambarkan kondisi tersebut dengan lebih blak-blakan. Menurutnya, perempuan bisa merasa seperti hidup bersama pria yang memiliki “tulang punggung” seperti kantong plastik lemas yang hanyut di sungai dan hanya mengikuti arus.

2. Sikap santai awalnya memang bisa terasa aman, tetapi kemudian jadi beban

ilustrasi pasangan sedang menikmati momen bersama (pexels.com/olly)

Sikap seperti ini gak selalu langsung terasa mengganggu. Justru, karakter yang santai dan minim konflik bisa terlihat menarik, terutama jika kamu terbiasa dengan pasangan yang mudah marah atau baru keluar dari hubungan yang kacau. Dikutip dari SELF, psikolog klinis Sabrina Romanoff, PsyD, mengatakan bahwa gak adanya gesekan di awal hubungan bisa terasa seperti rasa aman.

Namun seiring waktu, sikap “santai” tersebut bisa menjadi masalah ketika dibarengi dengan kurangnya kepedulian dan usaha. Ketika seseorang gak punya preferensi yang jelas, gak merasa perlu segera mengambil keputusan, dan gak punya dorongan untuk mengambil peran, beban tersebut akhirnya bisa berpindah kepada pasangannya.

Salah satu pihak pun bisa menjadi orang yang harus memesan berbagai kebutuhan, memulai pembicaraan tentang anggaran atau arah hubungan, sampai mengingatkan kembali sesuatu yang sebelumnya dikatakan akan ditangani pasangannya. Padahal, seseorang tetap bisa bersikap easygoing tanpa menjadi pasif karena bersikap santai bukan berarti harus selalu mengikuti arus tanpa mengambil peran.

3. Cowok yang santai tetap punya pendapat

ilustrasi pasangan membaca buku (pexels.com/ronlach)

Menurut Keisha Saunders-Waldron, LCMHCS, terapis yang berbasis di Ohio dan memiliki spesialisasi dalam dinamika hubungan serta teori keterikatan, dikutip dari SELF, cowok yang santai dengan cara yang sehat tetap memiliki preferensi dan pendapat yang bersedia dipertahankan. Mereka bisa punya pilihan tempat makan, tim olahraga favorit, hingga pandangan tentang keluarga, karier, dan masa depan.

Menurutnya, memiliki pendirian bukan berarti harus kaku atau sulit berkompromi. Sebaliknya, seseorang yang selalu mengubah pendapat hanya untuk menjaga keadaan tetap lancar belum tentu sedang menunjukkan fleksibilitas, tetapi bisa jadi gak memiliki arah yang jelas.

“Sebagian pria bukan gak suka drama karena mereka merasa aman dengan dirinya sendiri. Mereka gak suka drama karena mereka gak punya perasaan atau pendapat tentang apa pun, sehingga begitu kamu terlihat gak menyukai pendiriannya, dia akan langsung meninggalkannya,” ujar Keisha.

4. Gampang bilang “iya”, tetapi gak ada tindak lanjut

ilustrasi pasangan sedang berdiskusi (pexels.com/gustavo-fring)

Tanda lainnya adalah ketika seseorang mudah menyetujui sesuatu, tetapi gak benar-benar menindaklanjutinya. Misalnya, dia mengatakan setuju dengan rencana liburan akhir pekan atau terbuka membicarakan rencana untuk tinggal bersama, tetapi setelah itu gak ada tindakan lebih lanjut.

Rencana tersebut bisa saja gak pernah dibuat kecuali pasangannya terus mengingatkan atau bahkan mengurus sendiri berbagai keperluannya. Begitu juga dengan pembicaraan penting yang akhirnya gak pernah dilanjutkan.

Menurut Keisha, persetujuan awal tersebut bisa terlihat seperti bentuk kerja sama. Namun, tanpa tindak lanjut jawaban tersebut hanya menjadi semacam respons sementara yang cukup sopan untuk menjaga suasana tetap ringan, tetapi gak benar-benar menunjukkan keterlibatan.

5. Santai bukan berarti pasif

ilustrasi couple (pexels.com/ekaterina-bolovtsova)

Pada akhirnya, menjadi pribadi yang go with the flow gak sama dengan benar-benar berinvestasi dalam hubungan. Keisha menjelaskan bahwa bagian “santai” terlihat dari bagaimana seorang pria merespons ketika sesuatu gak berjalan sesuai rencana.

“Bagian santainya adalah bagaimana seorang pria merespons ketika hidup gak berjalan sesuai rencana dengan tenang, fleksibel, dan humor,” ujarnya.

Dengan sikap tersebut, dia gak langsung marah ketika kamu lupa membawa kunci atau mengalami kepanikan karena rencana tiba-tiba dibatalkan. Namun, sikap proaktif tetap diperlukan dalam hubungan.

“Bagian proaktifnya adalah dia hadir sejak awal dengan niat yang jelas,” tambah Keisha.

Jadi, cowok yang santai bukan berarti harus selalu pasif atau menyerahkan semua keputusan kepada pasangan. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan usaha dan keterlibatan dari kedua pihak agar gak ada satu orang yang terus-menerus menanggung bebannya sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article