ilustrasi pasangan sedang menikmati momen bersama (pexels.com/olly)
Sikap seperti ini gak selalu langsung terasa mengganggu. Justru, karakter yang santai dan minim konflik bisa terlihat menarik, terutama jika kamu terbiasa dengan pasangan yang mudah marah atau baru keluar dari hubungan yang kacau. Dikutip dari SELF, psikolog klinis Sabrina Romanoff, PsyD, mengatakan bahwa gak adanya gesekan di awal hubungan bisa terasa seperti rasa aman.
Namun seiring waktu, sikap “santai” tersebut bisa menjadi masalah ketika dibarengi dengan kurangnya kepedulian dan usaha. Ketika seseorang gak punya preferensi yang jelas, gak merasa perlu segera mengambil keputusan, dan gak punya dorongan untuk mengambil peran, beban tersebut akhirnya bisa berpindah kepada pasangannya.
Salah satu pihak pun bisa menjadi orang yang harus memesan berbagai kebutuhan, memulai pembicaraan tentang anggaran atau arah hubungan, sampai mengingatkan kembali sesuatu yang sebelumnya dikatakan akan ditangani pasangannya. Padahal, seseorang tetap bisa bersikap easygoing tanpa menjadi pasif karena bersikap santai bukan berarti harus selalu mengikuti arus tanpa mengambil peran.