5 Alasan Kamu Gak Bisa Bergantung pada Reassurance Pasangan

- Validasi pasangan memang menenangkan, tetapi sifatnya sementara jika insecurity belum diatasi; rasa aman perlu dibangun lewat mengenal, menerima, dan mencintai diri sendiri.
- Ketergantungan pada reassurance dapat memicu konflik saat kebutuhan peneguhan tidak terpenuhi, membuat satu pihak merasa tidak disayang dan pihak lain merasa tidak dipercaya.
- Pasangan juga punya keterbatasan; ketergantungan berlebihan bisa memicu cemburu, overthinking, perilaku menuntut, hingga siklus relasi toksik yang menguras energi keduanya.
Tanpa disadari, kita sering berekspetasi pasangan akan memberi banyak reassurance saat diri sendiri dilanda ragu dan gusar. Gak ada yang salah dengan hal itu. Justru, peneguhan ulang dan validasi bisa menjadi salah satu bentuk ekspresi cinta pasangan.
Namun, kamu gak bisa menjalani hidup terus bergantung pada validasi tersebut. Kamu perlu menciptakan rasa aman untuk diri sendiri, terlepas apa kata orang. Bukannya sok kuat, berikut lima alasan logis kamu gak bisa terus bergantung pada validasi pasangan.
1. Validasi hanya memberi rasa aman sementara

ilustrasi wanita sedih (pexels.com/Antoni Shkraba Studio) Validasi dari seseorang yang disayang tentu memberi rasa tenang, tapi hanya bersifat sementara. Saat kamu masih membiarkan insecurity tinggal dalam dirimu, seberapa banyak pujian dan validasi doi, kamu tetap akan merasa kurang.
Perlu ada komitmen dalam diri sendiri untuk punya rasa aman yang tidak bergantung oleh keadaan. Kamu perlu mengenal, menerima, dan mencintai dirimu apa adanya.
2. Jadi awal timbulnya konflik

ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/Samson Katt) Seseorang yang kerap bergantung pada validasi pasangan lambat laun jadi mudah diombang-ambingkan. Ia gak punya rasa aman dan percaya yang sehat dalam relasi. Coba bayangkan, ketika kamu sedang ingin peneguhan, tapi pasangan juga sedang capek-capeknya.
Hal ini bisa memicu sebuah bentrok dalam hubungan. Kamu merasa gak disayang, sementara pasangan merasa gak dipercaya. Bila gak segera dibereskan, hubungan jadi tempat ribut dan saling mencurigai satu sama lain. Pasti melelahkan sekali!
3. Pasangan pun adalah manusia

ilustrasi pasangan piknik (pexels.com/Thomas Benedetti) Ketika kamu memasuki sebuah hubungan tanpa ada fondasi rasa aman, kamu mudah untuk menaruh cemburu, ketakutan berlebih, overthinking yang seharusnya tidak perlu. Di awal hubungan, mungkin kamu bisa merasa lega tiap pasangan memberi validasi dan reassurance. Tapi percaya deh, secinta apa pun pasangan, ia pun tetap manusia yang punya kelemahan.
Ketika ada keadaan mendesak yang menyita waktu serta perhatian doi, mau gak mau kamu perlu menghadapi ketakutanmu seorang diri. Misal, saat pasangan sedang dinas di luar kota beberapa hari. Tanpa rasa aman dan percaya, kamu terus dihantui perasaan cemburu dan takut terjadi hal aneh-aneh selama beberapa hari tersebut. Malah jadi buang waktu dan energi sendiri.
4. Rasa tidak aman jadi proyeksi dalam hubungan

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Ron Lach) Bila terus bergantung pada validasi pasangan, rasa gak aman bisa jadi bumerang yang menghancurkan relasi. Kamu bisa saja memproyeksikan luka tersebut pada pasangan tanpa disadari. Misal, terus-menerus minta kabar 24/7 walau tahu doi sedang kerja.
Hal-hal kecil seperti itu bila diteruskan bisa jadi pemicu konflik. Perlu untuk kamu memahami sumber dan penyebab dari rasa insecurity-mu sendiri, sebelum nanti malah jadi masalah dalam relasi.
5. Ketergantungan jadi sumber relasi toksik

ilustrasi pasangan berkonflik (pexels.com/RDNE Stock project) Layaknya kata pepatah, segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. Begitu pun dengan kebiasaan bergantung pada pasangan. Ketika kamu terbiasa dengan kata-kata meneguhkan dari doi, kamu akan terus ingin untuk diyakinkan dan diyakinkan lagi.
Sayangnya, hal tersebut menciptakan siklus toksik dimana kamu merasa pasanganmu perlu bahkan “wajib” memenuhi tangki rasa amanmu. Ini malah membuat doi merasa drained karena gak dipercaya dalam hubungan.
Bersumber dari insecurity yang gak selesai, melebar kemana-mana sampai memicu relasi toksik. Mungkin awalnya kamu gak berniat demikian, tapi bila hal tersebut gak dibereskan, bisa jadi batu sandungan ke hubunganmu maupun pasangan. Sekarang, kamu paham, ‘kan, kenapa gak bisa terus mengandalkan reassurance pasangan?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























