Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Soft Blocking Setelah Putus Hubungan, Baik atau Buruk?
ilustrasi putus (pexels.com/Alex Green)
  • Soft blocking adalah cara menciptakan jarak di media sosial tanpa memblokir formal, misalnya membisukan cerita, berhenti mengikuti, menghapus pengikut, atau mengurangi komunikasi digital.
  • Setelah putus, seseorang dapat melakukan soft blocking karena masih sulit melihat aktivitas mantan dan ingin membatasi keterhubungan di media sosial demi memberi ruang bagi diri sendiri.
  • Dampak soft blocking bergantung pada penggunaannya: dapat menjaga batasan sehat bila disertai penjelasan, tetapi tanpa kejelasan bisa memicu kebingungan dan kesusahan bagi mantan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat suatu hubungan mengalami konflik yang tidak berkesudahan, banyak pasangan memilih untuk mengakhirinya. Keputusan ini dilakukan agar kedua belah pihak tidak lagi berada dalam kondisi yang tidak stabil dan melelahkan secara mental maupun fisik. Oleh karena itu, putus hubungan dapat menjadi jalan terbaik untuk memberikan keduanya ruang untuk berpikir dan memahami kembali diri sendiri.

Mungkin banyak orang melakukan pemutusan kontak, terutama di media sosial agar tidak ada lagi benturan atau ketidaksengajaan yang membuat keduanya harus bersinggungan. Salah satunya adalah melakukan soft blocking sebagai upaya untuk membatasi interaksi dengan mantan. Lantas, apakah soft blocking merupakan hal yang baik atau buruk? Simak penjelasannya berikut ini!

1. Apa itu istilah soft blocking?

ilustrasi blokir nomor pacar (pexels.com/picjumbo.com)

Menurut Sarah Lichstein, pendiri dan terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, dikutip dari VICE, "Pemblokiran lunak berarti menciptakan jarak di media sosial tanpa fitur pemblokiran formal".

Hal ini dapat digambarkan melalui perilaku seseorang dengan membisukan cerita seseorang, mencegah mereka melihat konten yang kamu buat, berhenti mengikuti mereka atau menghapus mereka sebagai pengikut, atau bahkan hanya mengurangi interaksi dan komunikasi digital secara perlahan. Soft blocking dapat membuat orang lain merasa bingung atau terputus, terutama jika tidak ada percakapan sebelumnya.

"Orang secara alami mencari penyelesaian ketika perpisahan terjadi. Metode ini bisa terasa lebih menyakitkan karena kurangnya kejelasan," kata Lichstein.

2. Alasan seseorang melakukan soft blocking

Ilustrasi pasangan jaga jarak (pexels.com/Monstera Production)

Soft blocking biasa terjadi karena adanya keinginan untuk memberikan jarak antara satu sama lain. Perasaan yang masih belum selesai setelah putus hubungan memungkinkan seseorang merasa kesulitan untuk melupakan mantan, sehingga rasanya sulit saat melihatnya melalui media sosial. Melalui media sosial, mantan pasangan juga bisa melihat aktivitasmu, begitu pun sebaliknya. Oleh karena itu, kamu memutuskan untuk mengeluarkannya dari lingkaran media sosial.

Perasaan tersebut valid saat pasangan mengalami putus hubungan. Dalam jangka waktu yang mungkin lama, kamu memiliki seseorang dalam hidupmu, lalu menyadari bahwa hubungan tersebut sudah tidak bisa lagi diteruskan. Rasa tidak ingin bersinggungan dengan mantan merupakan hal yang sering terjadi setelah putus hubungan.

"Apakah kamu ingin menciptakan jarak? Apakah terasa berat melihatnya di media sosial? Apakah kamu ingin memutus segala tali yang menghubungkan kalian berdua? Kemungkinan mereka mengetahui kehidupanmu di media sosial, maupun sebaliknya. Perasaan tersebut sangat valid dirasakan saat kamu mengalami putus hubungan. Oleh karena itu, kamu melakukan soft blocking," ungkap Preeti Serai, pendiri LovePanky dan ahli hubungan, dikutip dari LovePanky.

3. Apakah soft blocking merupakan tindakan baik atau buruk?

ilustrasi memblokir akun media sosial orang lain (pexels.com/RDNE Stock project)

Banyak orang melakukan soft blocking karena berbagai alasan. Beberapa melihatnya sebagai bentuk perlindungan diri atau pembatasan kontak dalam hubungan, sementara yang lainnya hanya ingin memicu reaksi dari individu yang diblokir. Pertanyaannya, apakah soft blocking merupakan hal yang tepat dilakukan? Jawabannya tergantung bagaimana kamu menyikapi situasi hubunganmu.

Apabila kamu memberikan penjelasan atau closure sebelum melakukan soft blocking, hal ini dapat mengurangi rasa bersalah di dalam hati. Sebaliknya, jika kamu melakukan soft blocking tanpa adanya kejelasan yang membuat mantan pasanganmu bertanya-tanya, perilaku tersebut dapat dikatakan bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.

"Saya percaya 'pemblokiran lunak' bisa menjadi taktik positif tergantung bagaimana penggunaannya," ujar Lichstein.

Soft blocking dapat dikatakan sebagai keputusan yang baik saat kamu menggunakannya untuk menciptakan batasan yang sehat dan melindungi perasaanmu sendiri. Namun jika dilakukan sebagai pengganti percakapan langsung atau sikap transparan, hal tersebut justru dapat menyebabkan lebih banyak kesusahan dan kebingungan.

Sisi baik dan buruk dari melakukan soft blocking bergantung pada bagaimana kamu menggunakannya untuk menghadapi kondisi perasaanmu. Apabila kamu melakukannya hanya karena perasaan egois, maka soft blocking bukanlah hal yang tepat dilakukan. Namun jika dilakukan untuk menjaga batasan dan memberikan ruang bagi diri sendiri setelah putus hubungan, soft blocking dapat menjadi pilihan yang sehat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article