ilustrasi memblokir akun media sosial orang lain (pexels.com/RDNE Stock project)
Banyak orang melakukan soft blocking karena berbagai alasan. Beberapa melihatnya sebagai bentuk perlindungan diri atau pembatasan kontak dalam hubungan, sementara yang lainnya hanya ingin memicu reaksi dari individu yang diblokir. Pertanyaannya, apakah soft blocking merupakan hal yang tepat dilakukan? Jawabannya tergantung bagaimana kamu menyikapi situasi hubunganmu.
Apabila kamu memberikan penjelasan atau closure sebelum melakukan soft blocking, hal ini dapat mengurangi rasa bersalah di dalam hati. Sebaliknya, jika kamu melakukan soft blocking tanpa adanya kejelasan yang membuat mantan pasanganmu bertanya-tanya, perilaku tersebut dapat dikatakan bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.
"Saya percaya 'pemblokiran lunak' bisa menjadi taktik positif tergantung bagaimana penggunaannya," ujar Lichstein.
Soft blocking dapat dikatakan sebagai keputusan yang baik saat kamu menggunakannya untuk menciptakan batasan yang sehat dan melindungi perasaanmu sendiri. Namun jika dilakukan sebagai pengganti percakapan langsung atau sikap transparan, hal tersebut justru dapat menyebabkan lebih banyak kesusahan dan kebingungan.
Sisi baik dan buruk dari melakukan soft blocking bergantung pada bagaimana kamu menggunakannya untuk menghadapi kondisi perasaanmu. Apabila kamu melakukannya hanya karena perasaan egois, maka soft blocking bukanlah hal yang tepat dilakukan. Namun jika dilakukan untuk menjaga batasan dan memberikan ruang bagi diri sendiri setelah putus hubungan, soft blocking dapat menjadi pilihan yang sehat.