Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Teman Berubah Setelah Punya Pasangan, Wajar Gak?

Teman Berubah Setelah Punya Pasangan, Wajar Gak?
Ilustrasi pasangan (unsplash.com/Photo by Wesley Tingey)
Share Article

Pernah merasa teman yang dulu hampir setiap hari mengajak ngobrol atau hangout tiba-tiba jadi jarang muncul setelah punya pasangan? Dulu kalian bisa bebas cerita soal pekerjaan, keluarga, sampai masalah percintaan, tetapi sekarang hampir setiap rencana harus menyesuaikan dengan jadwal pacarnya. Perubahan seperti ini memang cukup sering terjadi ketika seseorang memasuki hubungan romantis.

Punya pasangan tentu bisa mengubah cara seseorang membagi waktu, perhatian, dan energi. Namun, bukan berarti persahabatan otomatis harus kehilangan tempat. Jadi, kalau temanmu berubah setelah punya pasangan, apakah itu sebenarnya wajar?

  1. 1. Wajar kalau waktu bersama mulai berkurang

    Ilustrasi pertemanan (unsplash.com/Photo by Trung Thanh)
    Ilustrasi pertemanan (unsplash.com/Photo by Trung Thanh)

    Ketika seseorang baru menjalin hubungan, wajar kalau banyak waktu dan perhatian tercurah kepada pasangan. Ada fase mengenal satu sama lain, membangun kedekatan, dan menciptakan rutinitas baru. Akibatnya, waktu yang sebelumnya digunakan untuk bertemu teman mungkin ikut berkurang.

    Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Personal Relationships pada 2025 juga menjelaskan bahwa hubungan romantis dan persahabatan sama-sama membutuhkan waktu serta investasi emosional. Penelitian Elina R. Sun, Brett K. Jakubiak, dan Laura V. Machia dari Syracuse University menemukan bahwa ketika seorang teman dekat mulai menjalin hubungan romantis, persahabatan dapat terdampak karena adanya perubahan waktu dan perhatian.

    "Ketika seorang teman dekat yang sebelumnya lajang menjalin hubungan asmara, persahabatan tersebut dapat terpengaruh karena teman itu mengalihkan waktu dan perhatiannya pada hubungan asmara tersebut," dikutip dalam studinya "Are We Still Friends If You Are No Longer Single? The Impacts of a Friend Entering a New Romantic Relationship" dalam Wiley Online Library.

  2. 2. Punya pasangan bukan berarti harus kehilangan teman

    Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Sıla Onorevole)
    Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Sıla Onorevole)

    Masalah mulai muncul ketika pasangan menjadi satu-satunya pusat kehidupan seseorang. Semua kegiatan harus dilakukan bersama pasangan, hampir semua cerita hanya tentang pasangan, bahkan pertemanan lama mulai dianggap tidak penting. Padahal, memiliki hubungan romantis tidak seharusnya membuat seseorang harus menghapus hubungan sosial lainnya.

    American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa persahabatan merupakan hubungan sukarela yang relatif bertahan lama, orang-orang di dalamnya saling memperhatikan kebutuhan dan kepentingan satu sama lain. Dengan kata lain, persahabatan tetap membutuhkan perhatian meskipun seseorang sudah memiliki hubungan romantis.

    "Persahabatan merupakan hubungan sukarela antara dua orang atau lebih yang relatif langgeng, di mana pihak-pihak yang terlibat cenderung peduli untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan satu sama lain sekaligus memuaskan keinginan mereka sendiri. Persahabatan sering kali terbentuk melalui pengalaman bersama, di mana orang-orang yang terlibat menyadari bahwa interaksi mereka satu sama lain memberikan kepuasan bagi kedua belah pihak," dikutip dalam APA Dictionary of Psychology.

  3. 3. Yang perlu dipertanyakan kalau kamu selalu jadi pilihan terakhir

    Ilustrasi merenung (pexels.com/Huỳnh Như Mavi)
    Ilustrasi merenung (pexels.com/Huỳnh Như Mavi)

    Ada perbedaan antara teman yang sedang sibuk dengan hubungan barunya dan teman yang benar-benar berhenti menghargai persahabatan. Kalau hanya sesekali membatalkan janji karena ada agenda dengan pasangan, hal tersebut masih bisa dipahami. Namun, kalau hampir setiap ajakan ditolak, hanya menghubungi ketika sedang membutuhkan sesuatu, atau selalu menganggap waktu bersama teman tidak penting, kamu berhak merasa kecewa.

    Penelitian Personal Relationships menunjukkan bahwa hubungan romantis dan persahabatan dapat mengalami semacam persaingan untuk mendapatkan waktu dan investasi emosional. Para peneliti mencatat bahwa keterlibatan yang lebih besar dalam kehidupan romantis sebelumnya juga dikaitkan dengan investasi yang lebih rendah dalam persahabatan.

    Namun, berkurangnya waktu tidak selalu berarti berkurangnya rasa sayang. Persahabatan memang bisa berubah bentuk seiring bertambahnya usia dan perubahan kehidupan. Karena itu, sebelum menyimpulkan bahwa temanmu tidak peduli, lihat pola keseluruhannya.

  4. 4. Jangan langsung menyalahkan pasangannya

    Ilustrasi merenung (pexels.com/Chris F)
    Ilustrasi merenung (pexels.com/Chris F)

    Ketika seorang teman berubah setelah memiliki pasangan, reaksi pertama yang muncul mungkin adalah menyalahkan pacarnya. Apalagi kalau kamu merasa sejak temanmu berpacaran, ia semakin jarang muncul. Padahal, belum tentu pasanganlah penyebabnya.

    Bisa jadi temanmu sendiri yang memilih memberikan lebih banyak waktu kepada hubungan tersebut atau sedang berada dalam fase sangat fokus pada pasangan. Hubungan romantis memang cenderung mendapat porsi perhatian besar. Dalam artikel Psychology Today, dijelaskan bahwa hubungan romantis dan persahabatan memiliki banyak kesamaan, tetapi hubungan romantis biasanya mendapatkan lebih banyak waktu dan perhatian.

    "Hubungan romantis lebih mengungguli persahabatan dalam hal waktu yang dihabiskan bersama dan perhatian yang dicurahkan satu sama lain," jelas Theresa DiDonato, Ph.D., psikolog sosial dan profesor psikologi di Loyola University Maryland.

    Karena itu, lebih baik membicarakan perubahan tersebut langsung kepada teman daripada membuat asumsi tentang pasangannya. Kamu bisa mengatakan bahwa kamu merindukan kebiasaan kalian dulu tanpa menuduh. Cara seperti ini membuat pembicaraan terasa lebih aman dan sehat.

  5. 5. Persahabatan yang sehat bisa beradaptasi

    Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Photo by Nano Erdozain)
    Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Photo by Nano Erdozain)

    Persahabatan tidak selalu harus berjalan dengan pola yang sama selamanya. Dulu mungkin kalian bertemu setiap hari, lalu setelah memasuki dunia kerja hanya bertemu beberapa minggu sekali. Bisa juga salah satu mulai memiliki pasangan, pindah kota, menikah, atau mempunyai kesibukan baru. Perubahan tersebut tidak otomatis berarti persahabatan berakhir.

    APA menekankan bahwa menjaga persahabatan memang membutuhkan konsistensi dan usaha. Dalam pembahasan mengenai cara mempertahankan pertemanan, APA menyebut bahwa membuat waktu untuk orang-orang yang kita pedulikan dan memiliki pengalaman bersama merupakan bagian penting dalam memperdalam persahabatan.

    "Menjalin pertemanan baru—serta memelihara atau mempererat hubungan yang sudah ada—jarang sekali menjadi hal yang mudah," dikutip dalam APA.

    "Hal itu harus muncul secara alami, melalui upaya sungguh-sungguh untuk mendengarkan dan memahami apa yang disampaikan orang tersebut. Tidak ada jalan pintas yang mudah untuk menjalin persahabatan, kuncinya hanyalah kepedulian untuk saling mendengarkan," saran Thalia Wheatley, PhD, seorang profesor psikologi di Dartmouth College menambahkan.

    Karena itu, kamu dan temanmu mungkin perlu menemukan pola baru. Tidak harus selalu nongkrong lama seperti dulu; sesekali bertukar pesan, menelepon, makan siang bersama, atau membuat agenda rutin juga bisa membantu. Persahabatan yang dewasa bukan tentang mempertahankan semuanya persis seperti masa lalu, melainkan tentang tetap saling memberi ruang dan menunjukkan bahwa hubungan tersebut masih berarti meski kehidupan masing-masing berubah.

    Teman berubah setelah punya pasangan itu cukup wajar. Kehadiran pasangan memang dapat mengubah prioritas, rutinitas, dan cara seseorang membagi waktunya. Yang tidak sehat adalah ketika perubahan tersebut membuat persahabatan sepenuhnya diabaikan atau salah satu pihak terus-menerus merasa tidak dihargai. Kalau masih ada komunikasi, perhatian, dan kemauan untuk saling memahami, persahabatanmu mungkin hanya sedang memasuki bentuk yang baru.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More