Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tips Menghadapi Pacar yang Lantam, Mulutnya Pedas!

3 min read
5 Tips Menghadapi Pacar yang Lantam, Mulutnya Pedas!
ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/cookie-studio)
  • Hindari membalas nada tinggi saat pasangan berbicara tajam; beri jeda hingga suasana tenang lalu bahas masalah tanpa saling menyerang.
  • Sampaikan secara jelas ucapan yang menyakiti, bedakan sikap blak-blakan dari hinaan atau perendahan, serta sepakati batasan ketika bertengkar.
  • Perhatikan kemauan pasangan untuk mendengar dan memperbaiki komunikasi; perilaku menyakitkan yang terus berulang perlu dievaluasi dalam pola hubungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Punya pacar yang kalau ngomong suka lantam dan ceplas ceplos memang bisa bikin hubungan terasa lebih menantang. Kadang maksudnya cuma bercanda atau menyampaikan pendapat, tetapi cara bicaranya yang terlalu tajam malah bikin pasangan kepikiran.

Kalau dibiarkan, ucapan yang menyakitkan juga bisa menumpuk menjadi masalah dalam hubungan. Jadi daripada terus memendam atau ikut terpancing emosi, bagaimana cara menghadapi pacar yang mulutnya pedas?

  1. 1. Jangan ikut membalas dengan nada tinggi

    ilustrasi pasangan bertengkar
    ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/freepik)

    Saat pasangan mulai berbicara dengan nada tinggi, usahakan gak langsung membalas dengan cara yang sama. Kalau keduanya sama sama terpancing, pembicaraan bisa berubah menjadi pertengkaran tanpa ada masalah yang benar benar terselesaikan.

    Berikan sedikit jeda sampai suasana lebih tenang. Setelah itu, sampaikan apa yang membuat kamu gak nyaman agar pembicaraan tetap membahas masalahnya, bukan saling menyerang.

  2. 2. Bilang kalau ucapannya menyakiti

    Ilustrasi pasangan
    Ilustrasi pasangan (Pexels.com/Ron Lach)

    Pasangan mungkin gak selalu sadar bahwa cara bicaranya sudah membuat kamu tersinggung. Daripada memendamnya, coba sampaikan dengan jelas bagian mana yang terasa menyakitkan dan bagaimana perasaanmu setelah mendengarnya.

    Kamu bisa membicarakannya saat suasana sedang baik, bukan ketika emosi masih tinggi. Cara ini membuat pasangan punya kesempatan memahami sudut pandangmu tanpa merasa sedang disudutkan.

  3. 3. Bedakan blak blakan dan merendahkan

    ilustrasi pasangan bertengkar
    ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/yanalya)

    Ada orang yang memang terbiasa berbicara spontan dan blak blakan. Gaya komunikasi seperti ini belum tentu berarti dia sengaja ingin menyakiti pasangan, terutama kalau memang sudah menjadi kebiasaan sejak lama.

    Namun, tetap perhatikan batasnya. Kalau ucapan yang dilontarkan sering berupa hinaan, mempermalukan, meremehkan, atau membuat kamu merasa gak berharga, hal tersebut gak bisa sekadar dianggap sebagai karakter “mulut pedas”.

  4. 4. Buat batasan saat bertengkar

    ilustrasi pasangan bertengkar
    ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/freepik)

    Hubungan tetap membutuhkan batasan, termasuk ketika sedang berbeda pendapat. Kalian bisa sepakat untuk gak saling membentak, menghina, atau menggunakan kata kata yang sengaja menyakiti ketika sedang marah.

    Batasan ini bukan berarti melarang pasangan mengungkapkan perasaan. Justru, kalian sedang mencari cara agar rasa kesal tetap bisa disampaikan tanpa membuat satu sama lain merasa direndahkan.

  5. 5. Lihat kemauannya untuk berubah

    Ilustrasi hubungan
    Ilustrasi hubungan (freepik.com/Drazen Zigic)

    Kebiasaan berbicara memang gak selalu bisa berubah dalam satu malam. Namun setelah kamu menyampaikan perasaan dan batasan, perhatikan apakah pasangan mau mendengarkan dan mencoba memperbaiki caranya berkomunikasi.

    Kalau sesekali masih terpeleset, kalian bisa membicarakannya kembali. Tetapi kalau perilaku tersebut terus berulang, selalu dianggap sebagai candaan, atau perasaanmu justru disalahkan, mungkin sudah waktunya melihat kembali pola komunikasi dalam hubungan.

    Pacar yang lantam belum tentu pasangan yang buruk, tetapi komunikasi tetap perlu dibangun dengan rasa saling menghargai. Hubungan yang sehat bukan tentang gak pernah salah bicara, melainkan adanya kemauan untuk mendengar, memperbaiki, dan menjaga perasaan satu sama lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More