"Kami menemukan adanya hubungan positif antara interaksi tatap muka dengan persepsi dipahami serta kepuasan hubungan. Kami menemukan dampak positif dari berkirim pesan teks terhadap persepsi dipahami apabila frekuensi interaksi tatap muka tergolong rendah," demikian laporan studinya dalam ScienceDirect.
Haruskah Pacar Chat Setiap Hari? Tak Semua Hubungan Punya Ritme Sama

Di era ketika hampir semua orang selalu terhubung lewat smartphone, chat dengan pacar sering dianggap sebagai salah satu tanda hubungan berjalan baik. Ada yang merasa tenang kalau setiap pagi mendapat ucapan selamat pagi, ada pula yang justru merasa terganggu kalau harus terus membalas pesan sepanjang hari.
Akibatnya, muncul standar tidak tertulis bahwa pacar yang sayang seharusnya selalu tersedia lewat chat. Padahal, setiap pasangan punya kebutuhan komunikasi yang berbeda. Jadi, apakah pacar harus chat setiap hari?
1. Chat setiap hari bukan standar wajib hubungan sehat

ilustrasi chat (pexels.com/Ketut Subiyanto) Kebiasaan mengirim pesan setiap hari memang bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan. Pesan singkat seperti menanyakan kabar, mengirim cerita lucu, atau mengucapkan semangat sebelum bekerja bisa menjadi bentuk perhatian. Namun, hubungan yang sehat tidak otomatis ditentukan oleh berapa banyak pesan yang dikirim dalam satu hari.
Penelitian yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior Reports menemukan bahwa komunikasi tatap muka berkaitan positif dengan rasa dipahami dan kepuasan hubungan. Sebaliknya, jumlah waktu yang digunakan untuk texting tidak secara langsung memprediksi kepuasan hubungan. Menariknya, texting justru dapat membantu rasa dipahami ketika pasangan memiliki sedikit kesempatan untuk berkomunikasi secara langsung.
Dengan kata lain, chat hanyalah salah satu media untuk mempertahankan hubungan, bukan satu-satunya ukuran kedekatan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa konteks komunikasi juga penting. Jadi, pasangan yang tidak chat sepanjang hari belum tentu kurang dekat, terutama jika mereka tetap punya komunikasi berkualitas melalui telepon, video call, atau pertemuan langsung.
2. Yang lebih penting adalah kesamaan ekspektasi

ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/Katherina Holmes) Masalah sering muncul bukan karena pasangan jarang chat, tetapi karena dua orang memiliki ekspektasi yang berbeda. Satu orang mungkin menganggap chat beberapa kali sehari sudah cukup, sedangkan pasangannya menganggap tidak mendapat pesan selama beberapa jam sebagai tanda sedang diabaikan. Perbedaan kebutuhan ini bisa membuat persoalan kecil berkembang menjadi konflik.
Penelitian Jonathan Ohadi, Brandon Brown, Leora Trub, dan Lisa Rosenthal terhadap pasangan muda menemukan bahwa kemiripan dalam kebiasaan texting berkaitan dengan kepuasan hubungan yang lebih tinggi. Kemiripan tersebut mencakup seberapa sering pasangan memulai percakapan dan bagaimana mereka menggunakan pesan untuk menyapa maupun menunjukkan kasih sayang.
"Persepsi kesamaan dalam frekuensi berkirim pesan teks memprediksi kepuasan hubungan. Persepsi kesamaan dalam memulai percakapan melalui pesan teks memprediksi kepuasan hubungan. Persepsi kesamaan dalam berkirim pesan teks sekadar untuk menyapa memprediksi kepuasan hubungan," demikian laporan studi berjudul I just text to say I love you: Partner similarity in texting and relationship satisfaction.
Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa persoalannya bukan sesederhana “semakin sering chat berarti semakin sayang”. Yang lebih menentukan adalah apakah pola komunikasi pasangan terasa selaras bagi kedua orang. Jadi, pasangan yang sama-sama nyaman chat seperlunya bisa saja memiliki hubungan yang sehat, sama seperti pasangan yang senang bertukar pesan sepanjang hari.
3. Jangan mengubah chat menjadi tes atau ukuran cinta pasangan

ilustrasi chat tak dibalas (freepik.com/freepik) Pernahkah kamu sengaja tidak membalas pesan karena ingin melihat apakah pacar akan mencarimu? Atau merasa panik ketika pasangan online tetapi tidak membalas chat? Jika komunikasi sudah berubah menjadi serangkaian tes untuk mengukur seberapa besar pasangan peduli, masalahnya bukan lagi jumlah pesan, melainkan rasa aman dalam hubungan.
John Gottman, psikolog dan peneliti hubungan yang dikenal melalui penelitian mengenai pasangan, menjelaskan konsep bids for connection, yaitu upaya kecil seseorang untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, atau keterlibatan dari pasangannya. Menurutnya bid adalah unit dasar komunikasi emosional.
"Saat pasangan menolak upaya (bid) kita untuk terhubung, kita menyerap pengalaman tersebut ke dalam diri. Otak kita secara bawah sadar mencatat berapa banyak upaya kita yang diterima atau ditolak oleh pasangan. Ketika pasangan terus-menerus mengabaikan atau menolak upaya kita, kita mulai merasa frustrasi. Kita cenderung lebih sering mengkritik pasangan, yang kemudian memicu sikap defensif pada mereka dan bisa berujung pada pertengkaran," jelas Logan Ury ilmuwan perilaku dan pelatih kencan dikutip dalam The Gottman Institute.
Dalam praktiknya, bid tidak harus berupa percakapan panjang. Bisa saja pasangan mengirim meme, bertanya bagaimana pekerjaanmu, mengirim foto makanan, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya sederhana. Yang penting adalah bagaimana pasangan merespons upaya tersebut untuk terhubung.
4. Terlalu banyak chat juga bisa membuat hubungan melelahkan

Ilustrasi kelelahan (pexels.com/Photo by Photo By: Kaboompics.com) Chat setiap hari sebenarnya tidak otomatis buruk. Namun, komunikasi digital bisa menjadi masalah ketika jumlahnya mulai mengganggu perhatian terhadap kehidupan nyata. Penelitian mengenai konsekuensi texting dalam hubungan romantis menemukan bahwa penggunaan ponsel yang terus-menerus dapat mengurangi perhatian terhadap pasangan secara langsung dan berkontribusi terhadap konflik maupun menurunnya kualitas hubungan.
"Kebiasaan terus-menerus mengirim pesan teks menyebabkan pasangan lebih memperhatikan ponsel mereka daripada berkomunikasi dengan pasangan romantisnya (phubbing), yang pada akhirnya menurunkan persepsi kualitas hubungan romantis," demikian laporan studi Texting's consequences for romantic relationships: A cross-lagged analysis highlights its risks dalam ScienceDirect.
Karena itu, “harus chat setiap hari” sebaiknya tidak berubah menjadi “harus selalu tersedia setiap saat”. Pasangan tetap membutuhkan waktu untuk bekerja, belajar, beristirahat, bertemu teman, menikmati hobi, atau sekadar tidak memegang ponsel. Hubungan yang sehat memberikan ruang bagi dua orang untuk tetap menjadi individu, bukan menuntut mereka selalu online.
5. Tentukan pola komunikasi yang nyaman untuk kalian berdua

ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/Jep Gambardella) Tidak ada aturan universal seperti pasangan wajib chat setiap pagi, harus memberi kabar setiap beberapa jam, atau tidak boleh tidur sebelum mengucapkan selamat malam. Aturan semacam itu hanya akan terasa sehat jika memang disepakati dan membuat kedua pihak nyaman. Kalau salah satu merasa terpaksa, pola komunikasi tersebut justru bisa menjadi sumber tekanan.
Pasangan bisa membicarakan kebutuhan masing-masing secara langsung. Misalnya, seseorang bisa mengatakan bahwa ia merasa lebih dekat jika mendapat kabar di tengah hari, sedangkan pasangannya menjelaskan bahwa ia sulit membalas pesan ketika sedang bekerja. Dari percakapan tersebut, keduanya dapat mencari jalan tengah tanpa harus menentukan siapa yang “benar”.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan “Kenapa pacarku gak chat setiap hari?” melainkan “Apakah kami punya cara berkomunikasi yang membuat kami berdua merasa dihargai?” Kalau jawabannya iya, tidak perlu memaksakan intensitas tertentu hanya demi memenuhi standar hubungan orang lain.





















