Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tren Fake Dating, Bikin Bahagia Beneran atau Cuma Bahagia Semu?

4 min read
Tren Fake Dating, Bikin Bahagia Beneran atau Cuma Bahagia Semu?
ilustrasi kencan (pexels.com/Ron Lach)
  • Tren fake dating kini mencakup teman kencan, pendamping acara, pembuatan konten, hingga pemotretan couple dengan model sewaan, termasuk layanan yang berkembang di China.
  • Meski berbasis kesepakatan sementara, perhatian dan aktivitas romantis dalam fake dating dapat memunculkan rasa senang, nyaman, atau antusias yang benar-benar dirasakan.
  • Artikel menyoroti pentingnya memahami motivasi fake dating, terutama ketika hasilnya dibagikan di media sosial dan berpotensi berkaitan dengan keinginan terlihat memiliki pasangan atau mendapat validasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak sih kamu melihat foto couple di media sosial lalu berpikir, “Wah, enak banget ya punya pasangan”? Foto jalan berdua, makan bareng, saling tatap, sampai pose mesra yang kelihatannya natural banget. Tapi sekarang, gak semua momen romantis yang muncul di media sosial benar-benar berasal dari hubungan sungguhan. Ada tren fake dating yang justru membuat orang bisa menciptakan momen seperti punya pasangan, meski sebenarnya mereka sedang gak menjalin hubungan.

Tren ini pun bentuknya makin beragam. Gak cuma menyewa seseorang untuk berpura-pura jadi pacar di depan keluarga, ada juga yang membayar teman kencan untuk menemani aktivitas tertentu atau bahkan melakukan pemotretan ala couple. Di China, misalnya, muncul layanan yang menawarkan model pria untuk sesi foto romantis, lengkap dengan berbagai pose dan skenario seperti pasangan sungguhan. Lalu kalau momen bahagia bisa diciptakan seperti ini, apakah kita benar-benar sedang mencari cinta atau cuma ingin terlihat bahagia?

  1. 1. Fake dating makin kreatif dan gak cuma soal pacaran pura-pura

    Ilustrasi hubungan asmara
    Ilustrasi hubungan asmara (pexels.com/Summer Stock)

    Konsep fake dating sendiri sebenarnya bukan hal baru. Namun, bentuknya sekarang semakin beragam dan gak selalu bertujuan untuk meyakinkan orang lain bahwa kita punya pasangan. Ada yang menggunakannya untuk mendapatkan teman kencan, menghadiri acara, membuat konten, sampai sekadar mencoba pengalaman romantis tanpa harus masuk ke sebuah hubungan.

    Di China, salah satu bentuk yang menarik adalah jasa pemotretan couple dengan model pria. Pelanggan bisa menentukan konsep foto, pakaian, lokasi, hingga gaya interaksi yang diinginkan. Hasilnya dibuat menyerupai potret pasangan sungguhan, sehingga orang yang melihatnya mungkin gak akan menyangka bahwa sosok di dalam foto tersebut sebenarnya adalah aktor yang disewa untuk sesi tersebut.

    Fenomena ini juga punya sisi psikologis yang menarik. Penelitian Robert B. Zajonc dan Richard L. Moreland mengenai mere exposure effect, menunjukkan bahwa semakin sering seseorang terpapar pada orang tertentu, rasa familier dan ketertarikan terhadap orang tersebut dapat meningkat.

    “Paparan berulang terhadap seseorang dapat meningkatkan kesukaan terhadapnya,” dikutip dari penelitian Exposure Effects in Person Perception: Familiarity, Similarity, and Attraction yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Social Psychology.

  2. 2. Ternyata rasa senangnya bisa tetap terasa nyata

    Ilustrasi hubungan asmara
    Ilustrasi hubungan asmara (pexels.com/Vija Rindo Pratama)

    Meski tahu semuanya hanya sebuah kesepakatan, bukan berarti pengalaman tersebut otomatis terasa kosong. Bayangkan kamu menghabiskan beberapa jam dengan seseorang yang perhatian, mau mendengarkan cerita, menemani makan, atau membantu mengambil foto. Situasinya memang dibuat, tetapi rasa senang, nyaman, atau excited yang muncul selama menjalaninya tetap bisa dirasakan secara nyata.

    Itulah kenapa sebagian orang mungkin gak melihat pengalaman seperti ini sebagai usaha mencari pacar pengganti. Mereka hanya ingin menikmati satu momen tertentu tanpa harus memikirkan hubungan setelahnya. Ada yang ingin punya foto bagus, mencoba aktivitas yang biasanya dilakukan bersama pasangan, atau sekadar merasakan suasana romantis yang selama ini hanya dilihat dari film dan media sosial.

    Namun, pengalaman tersebut mulai punya cerita lain ketika hasilnya dibawa ke media sosial. Penelitian yang diterbitkan di Nature Communications terhadap lebih dari 10.000 pengguna Facebook menemukan adanya hubungan antara ekspresi diri yang lebih autentik di media sosial dan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi.

    “Orang yang mengekspresikan dirinya secara lebih autentik juga melaporkan kepuasan hidup yang lebih tinggi,” dikutip dari penelitian Authentic self-expression on social media is associated with greater subjective well-being.

  3. 3. Yang perlu dipikirkan adalah alasan di baliknya

    Ilustrasi hubungan asmara
    Ilustrasi hubungan asmara (pexels.com/Subodh Bajpai)

    Sebenarnya, gak ada yang salah kalau kamu ingin menikmati pengalaman yang sejak awal memang cuma sementara. Tapi coba tanya lagi ke diri sendiri, kamu melakukannya karena ingin mencoba sesuatu yang baru, menikmati momen romantis, atau karena ingin terlihat punya pasangan di depan orang lain?

    Apalagi media sosial sering bikin kita terbiasa menunjukkan versi hidup yang paling menarik. Foto couple yang terlihat mesra bisa terasa menyenangkan ketika mendapat respons positif, meski orang lain gak tahu cerita sebenarnya di balik foto tersebut.

    Jadi, fake dating gak selalu berarti kebahagiaan semu. Kamu tetap bisa merasa senang meski tahu semuanya hanya sebuah pengalaman. Yang penting, kamu tahu apakah yang dicari memang momen tersebut atau sekadar validasi agar terlihat punya kisah cinta. Kalau yang kedua, mungkin yang sedang kamu kejar bukan pasangan, melainkan pengakuan bahwa hidupmu terlihat baik-baik saja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More