6 Titik Terberat Jalani Long Distance Marriage, Gak Cuma Nahan Kangen

- LDM membuat momen krusial seperti kehamilan, persalinan, atau sakit serius terasa lebih berat karena pasangan sulit saling mendampingi dan urusan pekerjaan, anak, serta biaya menghambat pertemuan.
- Tekanan mental dapat muncul dari komentar negatif orang sekitar dan trust issue, termasuk sulit dihubungi, kecemburuan, hingga kurangnya transparansi keuangan yang memicu kecurigaan.
- Saat anak mengalami masalah kesehatan atau tumbuh kembang, beban pengasuhan meningkat; kondisi makin rumit bila pendapatan menurun sementara biaya dua hingga empat rumah tangga tetap berjalan.
Long distance marriage bukan impian pasangan suami istri. Sebagai pasutri tentu mereka ingin bisa tinggal seatap. Dengan begitu tidak ada rasa rindu yang mesti ditahan-tahan.
Komunikasi juga akan lebih lancar. Segala tanggung jawab terkait tugas rumah tangga termasuk mengasuh anak bisa benar-benar dibagi rata. Sayangnya, kebutuhan ekonomi kerap mengharuskan mereka buat tinggal beda kota, pulau, bahkan negara.
Waktu untuk mereka bertemu menjadi sangat terbatas. Tentu pasangan suami istri yang menjalani LDM sudah paham dengan konsekuensi ini dan memiliki ketangguhan tersendiri. Akan tetapi, tetap ada momen-momen yang bikin situasi berjauhan dengan pasangan menjadi terasa lebih berat baik bagi istri maupun suami.
1. Saat istri hamil dan melahirkan

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Saúl Sigüenza) Ini momen yang sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Kehadiran buah hati merupakan impian bersama. Namun, posisi suami istri yang berjauhan membuat perjuangan calon ibu menjadi jauh lebih berat.
Apalagi dia tinggal sendiri. Tidak ada keluarga besar yang menemani. Segala rasa tak nyaman ditanggung seorang diri. Tiba waktunya bersalin pun belum tentu pasangan dapat menemani.
Di pihak suami juga gak gampang. Meski ia kerap dicap tak punya beban pikiran dan malah menjadi tidak repot mengurus istri dan bayi, hati tetap tersiksa. Ada dua orang sekaligus yang membuatnya ketar-ketir di rantau. Istri sebagai sosok paling dicintainya serta bayi dalam kandungan atau bayi yang baru lahir.
2. Salah satu sakit

ilustrasi sakit (pexels.com/Gustavo Fring) Bila suami atau istri hanya sakit ringan seperti flu tentu gak sampai bikin LDM terasa sangat berat. Namun, jika sakitnya lebih serius dari itu bisa membuat pasutri waswas. Sekalipun kantor pasangan menyediakan asuransi dan layanan kesehatan yang bagus, tidak bisa berada di sisinya akan menjadi siksaan tersendiri.
Sementara itu, pasangannya buru-buru menyusul ke sana juga kadang banyak kendalanya. Seperti pekerjaannya sendiri, anak yang masih kecil dan gak bisa ditinggal atau ikut, serta biaya. Suami atau istrinya yang tengah sakit mesti mampu mengurus diri sendiri atau bergantung pada kebaikan teman-temannya.
3. Mendengarkan omongan negatif orang

ilustrasi berpelukan (pexels.com/cottonbro studio) Seandainya perkawinan yang dijalani dengan berjauhan tidak direcoki oleh suara-suara sumbang orang lain mungkin terasa baik-baik saja. Rindu masih dapat disalurkan melalui video call dan pertemuan pada waktunya. Akan tetapi, ketika orang-orang di sekitar mengomentari pernikahan mereka secara negatif, beban mental pun meningkat pesat.
Contohnya, anggapan bahwa rumah tangga mereka menjadi tidak sempurna. Masa mereka sudah menjadi suami istri, tetapi mau bertemu saja gak leluasa? Bagaimana kalau masing-masing malah jatuh cinta pada orang lain?
Bahkan bisa ada ramalan pernikahan mereka tidak akan langgeng. Sedikit komentar negatif mungkin masih dapat diatasi dengan baik. Namun, kian gencar bad comment, pasangan LDM dapat kian kehilangan kepercayaan diri dalam menjalankan bahtera rumah tangga.
4. Mulai ada trust issue yang gak bisa disepelekan

ilustrasi pasangan (pexels.com/Gera Cejas) Seiring berjalannya waktu, suami istri yang tinggal seatap maupun berjauhan akan menghadapi berbagai masalah. Tidak terkecuali terkait kepercayaan satu sama lain yang seharusnya dijaga. Setiap sikap gak jujur menimbulkan trust issue dalam hubungan.
Masalah paling sering adalah seputar kecemburuan. Pasangan mulai susah dihubungi tanpa alasan yang jelas. Atau, ia berkata hanya belum sempat membuka pesan karena sibuk. Akan tetapi, kemudian dia ketahuan sedang pergi bersama teman lawan jenis.
Persoalan lain yang menggerus rasa percaya adalah transparansi keuangan. Contohnya, kiriman uang dari suami berkurang tanpa penjelasan gajinya buat apa saja. Dapat pula sebaliknya, istri minta uang lebih banyak dan sering dari biasanya tanpa dapat membuktikan adanya kebutuhan ekstra. Semua hal di atas pasti menyebabkan pasangannya curiga.
5. Anak mengalami masalah kesehatan atau tumbuh kembang

ilustrasi mengasuh anak (pexels.com/Vinicius Quaresma) Kesehatan anak-anak baik secara fisik maupun psikis menjadi kunci ketenangan orangtua. Pasangan suami istri yang tinggal bersama saja akan tetap terbebani kalau anak sakit atau mengalami gangguan tumbuh kembang. Misalnya, anak terdeteksi berkebutuhan khusus.
Masalah ini membutuhkan penanganan berkelanjutan seperti terapi. Itu pun tidak membuat mereka sama seperti anak-anak yang tak berkebutuhan khusus. Bayangkan apabila orangtuanya tinggal berjauhan.
Tugas suami atau istri yang mengasuh anak menjadi jauh lebih besar. Ia harus sangat telaten mengurus segala kebutuhan anak serta mendampinginya berobat dan terapi. Belum lagi tantangan dalam mendidiknya di rumah. Pasangannya yang jauh pun dapat merasa sakit karena tidak bisa mengambil peran lebih besar untuk membersamai perjuangan suami/istri dan buah hati.
6. Pendapatan berkurang, tapi belum siap resign

ilustrasi pasangan (pexels.com/Mahdi Bafande) Pernikahan jarak jauh berarti dua dapur yang harus dibiayai. Belum lagi kalau pasangan suami istri mesti menanggung kehidupan orangtua masing-masing. Total ada empat dapur yang kudu dipastikan selalu mengepul.
Umumnya orang rela menjalani long distance marriage demi pekerjaan yang kasih penghasilan lebih tinggi. Itu diharapkan menjadi jaminan masa depan untuk keluarga mereka, utamanya pendidikan anak. Namun, di tengah jalan segala hal dapat terjadi.
Setelah sekian tahun ternyata penghasilannya malah menurun. Ini bisa disebabkan oleh pergeseran posisi atau kondisi keuangan perusahaan gak sebaik dulu. Akan tetapi, karyawan juga tak bisa langsung resign, mencari pekerjaan lain, atau pulang ke kampung halaman. Otomatis 2 atau 4 dapur sekaligus terkena efisiensi anggaran.
Kehidupan rumah tangga memang amat kompleks. Pasangan suami istri yang tinggal serumah saja memiliki masalah, apalagi long distance marriage. Komunikasi, kekompakan, serta usaha sadar pasutri untuk merawat hubungan menjadi penting sekali.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























