Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-01-28 at 1.16.49 PM (1).jpeg
Nani Nurhasanah, founder Gerakan Binar (dok. Nani Nurhasanah)

Intinya sih...

  • Perjalanan menjadi ibu yang tidak selalu mudah, menjadi titik awal lahirnya Gerakan Binar

  • Lahirnya Gerakan Binar berawal dari keresahan sehari-hari sebagai seorang ibu

  • Tantangan 30 hari bermain bersama anak dan pentingnya kesehatan mental ibu dalam pengasuhan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ibu kerap dikaitkan dengan peran penuh cinta. Namun, jarang yang membicarakan bagaimana lelahnya seorang ibu. Di balik senyum yang ditampilkan di depan anak, ada banyak ibu yang berjuang diam-diam mencari ruang aman dan dukungan agar mereka tidak merasa sendirian.

Dari pengalaman personal itulah, Nani Nurhasanah memulai langkah kecil yang berkembang menjadi Gerakan Binar. Ia ingin menjadi guru pertama untuk anaknya. Maka, Nani menginisiasi Gerakan Binar yang hadir membersamai para ibu dalam merawat anak sekaligus dirinya sendiri.

1. Perjalanan menjadi ibu yang tidak selalu mudah, menjadi titik awal lahirnya Gerakan Binar

Nani Nurhasanah, founder Gerakan Binar (dok. Nani Nurhasanah)

Sebelum dikenal sebagai founder Gerakan Binar, Nani Nurhasanah lebih dulu menapaki dunia pendidikan. Sebelum menikah, ia pernah menjadi guru di Bandung karena mengikuti program Indonesia Mengajar. Namun, perannya lantas berubah ketika hamil dan akhirnya fokus menjadi ibu rumah tangga.

“Tapi dalam perjalanan, ternyata gak mudah ya walaupun kita sendiri yang memilih jadi ibu. Ternyata, saya pernah mengalami baby blues dan lain-lainnya,” tutur perempuan yang berdomisili di Tasikmalaya ini.

Setiap orang memiliki fase “pertama kali” dalam hidupnya, termasuk Nani saat menjalani peran sebagai ibu. Gak heran bila Nani merasa menjadi ibu rumah tangga yang fokus mengurus anak itu gak semudah yang dibayangkan.

Ia bahkan sempat mengalami baby blues. Seorang ibu pun bisa merasa kehilangan dirinya sendiri. Namun, fase inilah yang menyadarkan Nani bahwa menjadi ibu itu gak harus sempurna.

“Ternyata, jadi ibu itu gak harus sempurna. Gak harus benar-benar rumahnya rapi. Yang penting, kita tahu prioritasnya apa,” kata Nani.

Dalam fase itu, peran suami menjadi penopang utama yang mendampingi perlahan, tanpa menghakimi. Ia juga mulai mencari dukungan lewat komunitas-komunitas yang membuatnya sadar bahwa ia gak sendirian.

2. Lahirnya Gerakan Binar berawal dari keresahan sehari-hari sebagai seorang ibu

Nani Nurhasanah, founder Gerakan Binar (dok. Nani Nurhasanah)

Gerakan Binar merupakan komunitas yang diinisiasi oleh Nani Nurhasanah sejak tahun 2019 yang berangkat dari realitas bahwa perempuan mengalami banyak tantangan dan perubahan hidup. Fokusnya bukan lagi ke dirinya sendiri, melainkan bergeser sepenuhnya pada keluarga dan anak.

Sejak menjadi ibu, Nani mengaku banyak sekali belajar hal baru tentang tumbuh kembang anak. Dengan latar belakangnya sebagai pendidik, ia paham betul pentingnya stimulasi dan momen bermain dalam proses belajar anak.

Untuk itu, ia mempelajari berbagai pendekatan stimulasi seperti Montessori, Charlotte Mason, PAUD, hingga Fitrah Based Education. Keinginan terbesarnya adalah menjadi guru pertama untuk anaknya. Namun, realita berkata lain. Nani menyadari bahwa konsistensi itu gak mudah dijaga kalau dilakukan sendirian.

Menurutnya, ibu punya banyak tantangan dalam pengasuhan anak. Nani merasa ia butuh teman untuk saling menyemangati, tempat berbagi tantangan parenting, serta ruang aman untuknya berkeluh kesah sebagai ibu yang baru belajar.

“Saya belajar membuat menu bermain, membuat stimulasi setiap hari. Nah, setelah dirasakan, kenapa gak konsisten, ya? Saya kayaknya butuh teman. Saya senang kalau bareng-bareng,” ucapnya.

Dari kebutuhan itu, Nani mulai mengajak banyak ibu-ibu lainnya untuk membentuk grup dan saling sharing tentang pengalaman pengasuhan. Awalnya, hanya ditujukan untuk anak usia tiga tahun. Namun, respons yang datang jauh melampaui ekspektasi. Grup yang direncanakan berisi 15 orang, berkembang menjadi 25, lalu terus melebar. Banyak ibu dengan anak usia berbeda ingin ikut.

Dari lingkar kecil itulah, Gerakan Binar bertumbuh menjadi ruang aman untuk berbagi, belajar, dan saling menguatkan. Kini, Gerakan Binar sudah diikuti oleh lebih dari 2.000 anggota sepanjang enam tahun berdiri.

“Binar ini cara saya untuk mengaktualisasikan diri supaya saya punya social time yang lebih bermanfaat. Karena ternyata, jadi ibu itu gak mudah ya. Kita perlu support system,” kata Nani kepada IDN Times secara daring pada Selasa (27/1/2026).

3. Tantangan 30 hari bermain bersama anak

Nani Nurhasanah, founder Gerakan Binar (dok. Nani Nurhasanah)

Salah satu signature program dari Gerakan Binar adalah tantangan 30 hari bermain bersama anak. Program ini lahir dari pemahaman sederhana bahwa bermain adalah bagian dari proses belajar dan tumbuh kembang anak. Dengan bermain, bukan hanya anak yang bertumbuh, tetapi ibu juga punya kepercayaan diri dan hadir sepenuhnya untuk anak.

Tantangan 30 hari bermain bersama anak menggunakan pendekatan gamification. Ada kegiatan stimulasi yang harus dilakukan, dokumentasi, hingga reward sebagai bentuk apresiasi terhadap para ibu.

“Bermain itu mudah, kok! 15 menit aja, yang penting mindful,” ujarnya.

Nani sudah menyiapkan lesson plan untuk membantu ibu yang mungkin merasa kesulitan. Aktivitas bermain anak usia 1-3 tahun berbeda dengan 4-6 tahun. Semuanya bisa disesuaikan lagi dengan minat anak.

Ia mengatakan, “Yang menariknya, di grup, banyak ibu-ibu yang saling berbagi ide. Jadi, secara gak langsung, support system-nya terjalin. Semuanya saling sharing. Walaupun ada tantangan, tapi kompetitifnya untuk diri sendiri karena siapa pun bisa dapat reward. Gak harus mengalahkan orang lain, yang penting dia bisa konsisten.”

Menurutnya, bermain gak harus terstruktur. Maka dari itu, Nani sangat menyarankan agar orangtua punya waktu bermain dengan anak mereka. Yang penting kebutuhan anak 3 jam per hari untuk bermain bisa tercukupi.

“Minimal ibu mendampingi 15 menit saja per hari, baik dengan membacakan buku maupun mengajak berbincang karena makanan otak anak adalah interaksi, stimulasi, dan komunikasi,” lanjutnya.

4. Tak hanya stimulasi anak, kesehatan mental ibu juga penting

Nani Nurhasanah, founder Gerakan Binar (dok. Nani Nurhasanah)

Sepanjang enam tahun Gerakan Binar berdiri, Nani merasa bahwa komunitas ini gak cuma wadah berbagi ilmu parenting. Lebih dari itu, lulusan Universitas Padjadjaran ini merasa kesehatan mental ibu juga perlu dijaga. Insight ini juga muncul dari pengalamannya yang pernah mengalami baby blues.

“Kita sebagai ibu kan kadang VOC parenting dan lain-lain, itu memengaruhi bagaimana pengasuhan. Jadi, selain stimulasi dan merawat kesehatan mental, ibu pun perlu belajar positive parenting,” jelasnya.

Maka dari itu, di tahun 2026 ini, Gerakan Binar membuka pendampingan secara intensif selama satu tahun. Tiap bulannya, Gerakan Binar memiliki banyak kegiatan untuk anggota komunitas. Mulai dari program harian, mingguan, sesi curhat, intimate with founder, hingga webinar bulanan.

Semula, komunitas Gerakan Binar hanya menyasar ibu dengan anak usia 1-6 tahun. Namun, kegiatan Gerakan Binar juga terbuka bagi ibu dengan anak usia sekolah. Mereka banyak mencari ilmu tentang parenting, stimulasi, kesehatan mental. 

“Ibu adalah madrasah pertama, guru pertama anak. Itu sangat penting, makanya kami berusaha membekali ibu supaya dia bisa percaya diri dalam mengasuh anak,” ujar Nani.

Ia melanjutkan, “Di Binar, kami berusaha mengajak ibu-ibu untuk bisa merawat kesehatan mentalnya. Biar ibu tidak menjadi lilin yang terus melayani suami dan mengasuh anak, tapi dirinya sendiri juga ikut ‘terbakar’. Jadi, kita sama-sama bertumbuh. Itu value yang ingin kami jaga.”

5. Ibu yang bahagia bisa menciptakan keluarga yang bahagia

Nani Nurhasanah, founder Gerakan Binar (dok. Nani Nurhasanah)

Gerakan Binar terbuka bagi semua ibu-ibu yang ingin belajar. Bahkan, Nani menyebut ada anggota komunitas yang berusia 50 tahunan. Sekalipun anak-anaknya sudah dewasa, ibu tetap bisa belajar untuk menjaga dirinya sendiri.

Nama “Binar” sengaja dipilih Nani karena bermakna cahaya atau bersinar. Binar juga akronim dari bermain dan belajar. Seperti tagline Gerakan Binar, yaitu bermain, belajar, berbinar. Nani percaya setiap ibu berhak memantaskan dirinya untuk menjadi ibu.

“Happy mom raise happy family. Ibu yang bahagia akan mengasuh anak yang bahagia,” ucap Nani.

Ada banyak program unggulan yang diberikan oleh Gerakan Binar seperti challenge #30HariBermainBersamaAnak. Lalu, ada pelatihan Read Aloud, Think Aloud, dan Racebin. Binar juga memfasilitasi beberapa bootcamp dari stimulasi anak, kesehatan mental, Imuni Aksi (program positive parenting), kelas Anak Ramadan & Liburan, dan Festival Bermain. Para ibu juga bisa mengikuti berbagai webinar bulanan.

Semua program sengaja dirancang untuk membangun kebiasaan kecil yang berdampak besar. Bukan hanya anak, ibu juga bisa tumbuh menjadi orangtua yang lebih baik untuk anak-anaknya.

6. Tantangan pengasuhan menumbuhkan kepedulian Nani untuk membuka Binar Calistung dan Welas Diri

Nani Nurhasanah, founder Gerakan Binar (dok. Nani Nurhasanah)

Selain Gerakan Binar itu sendiri, Nani aktif menjawab kebutuhan para orangtua lewat Binar Calistung. Sebagai pendidik, Nani bertanya-tanya sebenarnya apa saja yang menjadi kekhawatiran para orangtua dalam mengasuh anak. Ia menemukan fakta bahwa masih banyak orangtua yang gelisah karena anaknya belum bisa membaca.

“Karena background saya dan suami pengajar, akhirnya kami bikin kelas berbagi. Bagaimana caranya mengajarkan metode kreatif matematika, berhitung, membaca, dan lain-lain,” ceritanya.

Menurutnya, ini masih sejalan dengan visi besarnya menjadikan orangtua pengajar terbaik untuk anak. Maka dari itu, Nani menggagas Binar Calistung untuk membantu orangtua mengajarkan baca, tulis, berhitung kepada anak-anak mereka.

Berkat inisiasi tersebut, Nani berhasil menjadi Top #8 W20 Sispreneur 2022. Ia mengikuti W20 di Danau Toba, G20 di Bali, dan G20 SMEs Future Village 2022. Lewat Binar Calistung, Nani gak cuma memberikan pengajaran, melainkan ada beberapa produk yang dijual.

Di tahun 2023, ia berhasil mendapatkan pendampingan program dan pendanaan dari Indika Foundation tahun 2023 dan 2024 yang memperkokoh Gerakan Binar menjadi sebuah yayasan. Gak berhenti di situ saja, Nani membuat komunitas baru yang diberi nama Welas Diri.

“Saya namakan Welas Diri karena itu berangkat dari problem saya. Ternyata ada luka-luka pengasuhan di masa lalu, inner child, yang membuat saya kurang mencintai diri sendiri. Self compassion saya kurang baik. Kalau gagal, suka menyalahkan diri sendiri,” terangnya.

Berangkat dari permasalahan itu, Nani merasa orang lain juga perlu menyelesaikan masalah yang sama. Itu sebabnya, ia membuat komunitas Welas Diri. Nani ingin semua perempuan yang menjadi ibu bisa menjadi sahabat untuk dirinya sendiri. 

“Ibu itu ada masa-masa kritisnya. Ketika dia baru menikah, itu kan kritis ya. Ketika baru punya anak. Kemudian, ketika ada perubahan dari bekerja jadi gak bekerja. Anaknya udah besar dan mandiri, kan ibu bingung. 'Aku ngapain?' Jadinya, ada krisis identitas lagi. Saya pengen hadir di sana, menemani ibu-ibu untuk menghadapi masa-masa sulit itu,” tuturnya.

7. Menurut Nani, tantangan terbesar datang dari dirinya sendiri

Nani Nurhasanah, founder Gerakan Binar (dok. Nani Nurhasanah)

Selama tujuh tahun, Gerakan Binar terus berevolusi dari komunitas daring sederhana menjadi yayasan. Nani merasa gak terlalu banyak tantangan sebagai seorang founder. Ia menyebut dirinya senang menantang diri, mencari inkubasi, dan mengeksplorasi hal baru agar komunitas tidak stagnan. Tantangan terbesarnya justru datang dari dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa terus belajar dan berkembang dan mengeluarkan inovasi-inovasi lainnya.

Bagi Nani, Gerakan Binar bukan sekadar komunitas. Ini adalah ruang amannya untuk berbagi, belajar, dan berkembang. Seperti prinsip yang selalu dipegangnya, Nani berharap semua ibu bisa bahagia supaya keluarganya juga bahagia.

“Kita harus bahagia dulu. Jangan membandingkan dengan orang lain karena kita punya jalur bertumbuhnya masing-masing,” terangnya.

Lewat Gerakan Binar, Nani berharap semua ibu bisa lebih berdaya. Bukan cuma untuk keluarga, perempuan juga perlu mencintai dirinya dan tahu ingin menjadi apa.

Apa yang dilakukannya bukan tanpa sebab. Meski hanya melalui permainan sederhana, Nani percaya ada kebiasaan kecil yang tertatam. Semua program yang ada di Gerakan Binar gak menuntut ibu menjadi sempurna, melainkan cukup hadir untuk anak dan tetap bisa menjadi dirinya sendiri.


Editorial Team