Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Female Rage dalam Pop Culture, Mengapa Kini Makin Disorot?
ilustrasi perempuan marah (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Female rage dalam pop culture menyoroti pengalaman perempuan yang kerap menahan amarah karena takut dianggap sensitif, tidak feminin, atau mengganggu kenyamanan orang lain.
  • Kemarahan perempuan sering berakar pada kekecewaan, pelanggaran batas pribadi, dan pendapat yang berulang kali diabaikan, bukan semata reaksi berlebihan terhadap satu kejadian.
  • Film dan karya populer kini memberi ruang bagi karakter perempuan untuk marah, tegas, dan melawan perlakuan merugikan tanpa selalu digambarkan harus sabar atau menyenangkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada situasi di mana kamu merasa mendapat perlakuan yang tidak adil. Kamu ingin sekali marah, tetapi yang terjadi kamu malah tertawa untuk menutupi rasa kesal. Kamu sebenarnya ingin membalas, tetapi pikiran tentang bagaimana orang lain akan menilaimu membuatmu mengurungkan niat tersebut. Kamu memilih diam dan melanjutkan hari seolah tidak terjadi apa-apa.

Suatu hari, kamu menonton sebuah film yang memperlihatkan karakter perempuan sedang melakukan hal yang selama ini kamu tahan. Ia berteriak, menangis, membanting barang, hingga akhirnya mengatakan semua hal yang selama ini hanya berani ia pikirkan. Ada sesuatu yang terasa melegakan ketika kamu melihat sosok karakter perempuan itu berhenti berpura-pura terlihat baik-baik saja. Momen kemarahan perempuan ini terasa begitu dekat dengan pengalamanmu.

1. Perempuan lelah harus selalu mengalah

ilustrasi mengalah (pexels.com/Liza Summer)

Saat seseorang melontarkan komentar yang menyakitkan, kamu mungkin memilih tertawa agar suasana gak canggung. Kamu ingin membantah, tetapi khawatir dianggap terlalu sensitif. Akhirnya percakapan berlanjut, sementara kamu masih memikirkan komentar itu sepanjang perjalanan pulang. 

Menurut pemimpin gerakan feminis, Gloria Steinem, “Ketika laki-laki marah, biasanya orang menganggap ada alasan yang mendasarinya. Namun, ketika perempuan marah, mereka justru dianggap tidak feminin atau memiliki kekurangan dalam kepribadian,” dikutip dari Los Angeles Times.

Kamu pulang membawa satu tuntutan, di mana sebagai perempuan kamu seakan harus selalu menjaga perasaan orang lain hingga sebuah tontonan pada layar TV mu memperlihatkan karakter perempuan yang mengalami hal yang sama denganmu. Bedanya, ia enggan untuk selalu mengalah.

Ia memberanikan diri untuk menolak perlakuan tersebut. Ketika karakter perempuan ini akhirnya menunjukkan amarahnya, kamu melihat seseorang yang berhenti berpura-pura baik-baik saja. Ini menyadarkanmu, bahwa gak harus selalu menyenangkan semua orang untuk dianggap layak didengarkan.

2. Kemarahan yang menumpuk lama

ilustrasi memendam emosi (pexels.com/Ron Lach)

Kamu berkali-kali dikecewakan oleh seseorang yang sudah sangat kamu percaya. Kamu terus memaafkan karena berharap keadaan berubah. Namun ketika kesalahan yang sama terulang, kamu akhirnya meledak. Orang lain menganggap reaksimu ini berlebihan karena yang mereka lihat hanya kejadian terakhirnya saja. Padahal, di balik itu ada tumpukan kekecewaan yang sudah kamu pendam.

Hal serupa ternyata juga terjadi dalam sebuah lagu yang tidak sengaja kamu dengar. Sebuah lirik menyampaikan isi kekecewaan yang sudah lama dipendam dari seorang penyanyi perempuan. Kemarahan karakter perempuan gak selalu muncul tanpa alasan. Ada pengalaman panjang yang membentuk emosi ini, mulai dari batas pribadi yang dilanggar hingga pendapat mereka yang terus diabaikan.

Menurut Dr Zena Burgess, CEO Australian Psychological Society, “Perempuan cenderung memendam pikiran dan perasaan mereka serta mengesampingkan kebutuhan diri sendiri demi mengutamakan kebutuhan orang lain. Kebiasaan membungkam diri ini dapat mengurangi rasa percaya diri dan memunculkan kemarahan yang terpendam,” dikutip dari Australian Psychological Society.

3. Perempuan gak harus selalu bersikap sabar

ilustrasi emosi (pexels.com/Liza Summer)

Dalam beberapa film yang kamu tonton, karakter perempuan yang sabar dan pemaaf lebih mudah mendapat simpati. Ia berusaha memahami orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri terluka. “Kapan sih dia akan berhenti memaafkan dan membela dirinya sendiri?”, gumammu penasaran. Female rage kemudian ditampilkan, memberi ruang bagi karakter perempuan yang gak selalu lembut atau menyenangkan. Kamu melihat karakter mereka yang boleh marah, membuat kesalahan, dan mengambil keputusan yang tidak disukai orang lain.

Dalam Psychology Today, Shawn M. Burn, Ph.D., Profesor Psikologi di California Polytechnic State University, menjelaskan bahwa kemarahan dan sikap tegas umumnya lebih bisa diterima ketika ditunjukkan oleh laki-laki dibandingkan perempuan. Perempuan sering kali harus berhati-hati agar tidak terlihat “terlalu emosional”. Penelitian juga menunjukkan bahwa perempuan menyadari dan mengalami lebih banyak konsekuensi sosial negatif ketika mereka mengungkapkan kemarahan.

Kamu paham bahwa bukan berarti semua tindakan yang ditampilkan itu harus dibenarkan. Tetapi, karakter perempuan juga layak digambarkan sebagai manusia dengan emosi yang rumit, gak hanya sekadar sosok yang bertugas memahami dan mendukung orang lain.

4. Berani marah, berani melawan

ilustrasi melawan (pexels.com/@cottonbro)

Sepanjang film, kamu melihat seorang perempuan yang terus diremehkan. Setiap kali menyampaikan pendapat, ia dipotong. Ketika keberatan, ia malah diminta berhenti membesar-besarkan masalah. Sampai akhirnya, ia menolak untuk kembali diam. 

Dalam laman Los Angeles Times, disebutkan bahwa selama bertahun-tahun, televisi menghindari penggambaran kemarahan perempuan yang bukan sekadar luapan emosi seorang korban atau histeria belaka. Padahal, kemarahan menjadi inti dari hampir setiap drama yang kuat, sehingga peran perempuan sebagai tokoh utama pun sulit ditemukan.

Kali ini, ada perasaan memuaskan karena karakter yang sebelumnya terus menerima keadaan mulai mengambil kendali atas hidupnya. Kemarahannya menjadi bagian dari perlawanan terhadap perlakuan yang merugikannya. Karena yang perlu diperhatikan bukan hanya bagaimana perempuan menyampaikan kemarahannya, tetapi juga mengapa ia merasa perlu untuk melawan.

Filmnya selesai, tetapi adegan ketika karakter perempuan itu akhirnya berteriak masih terbayang di pikiranmu. Kamu teringat pada hal-hal yang selama ini kamu pendam karena gak ingin dianggap terlalu sensitif. Lewat female rage yang kini sering menjadi bagian dari cerita dalam sebuah film, kamu melihat bahwa gak semua perasaan harus disembunyikan demi menyenangkan orang lain. Sebab, berani mengakui bahwa kita marah adalah langkah pertama untuk berhenti membiarkan diri sendiri terluka.

Curated For You

Editorial Team

Related Article