"Aku merasa nama lengkapku kurang ikonik sebagai nama ilustrator. Akhirnya aku mulai brainstorming untuk menemukan nama berdasarkan kesukaanku. Aku suka kucing, akhirnya menyisipkan nama cat. Terus, kalau aku diem dan gak senyum, wajah aku kelihatan kayak cemberut, padahal gak. Aku cari sinonim grumpy dan ketemu kata sulky. Kata itu juga belum banyak dipakai, akhirnya jadilah nama Sulkycatz," jelasnya.
Ida Sulkycatz: Merespons Dunia Lewat Ilustrasi dan Warna

- Perjalanan Ida sebagai Sulkycatz, berangkat dari perasaan dan identitas pribadi
- Karya menjadi suara: body image, keberpihakan perempuan, dan isu sosial diungkapkan lewat ilustrasi
- Perasaan dan emosi menjadi starting point Ida dalam berkarya, dari gerakan individu menjadi kolektif, seni sebagai aksi
Jakarta, IDN Times - Dunia kerap datang dengan berbagai isu yang rumit dan berlapis, tentang tubuh, identitas, kepercayaan, hingga kondisi sosial yang kerap terasa tak ramah. Media sosial membuat semuanya hadir bersamaan, sering kali tanpa jeda untuk mencerna. Di tengah hiruk-pikuk itu, banyak orang memilih diam, sementara sebagian lain mencari cara yang paling jujur untuk merespons. Bagi sebagian orang, respons itu hadir lewat kata-kata. Bagi Ida atau lebih akrab dengan nama Sulkycatz, ia menemukan jalannya melalui ilustrasi. Dirangkumnya segala hiruk-pikuk persoalan dunia dalam warna-warna cerah yang lembut. Meski begitu, pesannya tetap tersampaikan dengan utuh.
Bagi Sulkycatz, ilustrasi gak cuma sekadar visual atau medium estetik. Ia adalah cara bersuara, memproses perasaan, sekaligus sebagai bentuk 'hadir' sebagai manusia yang peka terhadap isu di sekitarnya. Mulai dari body image, sosial-politik, hingga nilai keagamaan. Warna-warna cerah yang ia gunakan justru menjadi kontras dari isu-isu berat yang ia angkat, membuat pesannya terasa lebih dekat dan jujur.
Proses dan perjalanan Sulkycatz memproses hiruk pikuk dunia menjadi ilustrasi, disampaikan kepada IDN Times pada Rabu (28/1/2026). Ia menceritakan bagaimana emosi dan perasaan bisa menjelma menjadi karya ilustrasi yang jujur dan bermakna. Yuk, selami kisah kreatif Sulkycatz di balik karya-karyanya yang 'hidup'!
1. Awal perjalanan Ida sebagai Sulkycatz, berangkat dari perasaan
Perjalanan Sulkycatz menyampaikan suara-suaranya lewat ilustrasi diawali dari masa kecilnya. Sejak dulu, ia memiliki kegemaran menggambar dan corat-coret. Hingga akhirnya, ia mulai mengambil jalan yang lebih serius untuk menyalurkan hobinya, yakni mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di perkuliahan. Dari situ, akhirnya Sulkycatz mulai mendalami dunia ilustrasi. Lalu, berbicara terkait nama Sulkycatz, ternyata ini juga datang dari alasan personal.
Lebih lanjut, Sulkycatz juga mendefinisikan art style-nya. Menurutnya, awalnya memang belum bisa didefinisikan karena ia menggambar hal-hal yang ia suka saja. Seiring berjalannya waktu, Sulkycatz menemukan gaya visualnya yang ia sebut sebagai lineless cartoon art style. Gayanya ini tanpa garis pinggir atau line art. Satu warna akan menyatu dengan warna lainnya. Kuncinya adalah mengombinasikan warna.
2. Ketika karya menjadi suara: body image dan keberpihakan

Seiring waktu, ilustrasi bagi Sulkycatz tidak lagi berhenti sebagai medium visual semata. Ia perlahan menjelma menjadi ruang aman untuk menyuarakan apa yang ia rasakan. Tentang tubuh, empati, hingga keresahan sosial yang kerap ia jumpai sehari-hari. Isu body image menjadi salah satu pintu masuk awal. Bukan karena ingin menggurui atau tampil paling vokal, melainkan karena ada kegelisahan personal yang ingin ia olah dengan jujur.
"Aku suka mengangkat tema body image dan self acceptance, tentang diri kita dan badan kita, karena aku rasa banyak yang mengalami juga. Kebetulan aku punya autoimmune skin dan dari awal aku membawa teman-teman yang mengikuti aku untuk melihat proses aku. Dari belum menerima, butuh bantuan profesional seperti psikolog, sampai akhirnya mulai menerima dan menunjukkan kulit aku. Aku rasa di situ aku bisa membantu teman-teman lain yang merasakan hal berbeda juga," tuturnya.
Bagi Sulkycatz, setiap karya selalu diawali dari sesuatu yang mengendap di kepala dan perasaan. Ia bukan tipe yang langsung memikirkan visual, melainkan pesan. Dari keresahan kecil yang ia rasakan, Sulkycatz mengolahnya menjadi kalimat yang kemudian ia temani dengan visual yang paling pas.
Selain itu, keberpihakan Sulkycatz juga hadir dari identitasnya sebagai perempuan. Lewat ilustrasi, ia kerap menyuarakan gagasan tentang perempuan berdaya. Di saat yang sama, ia tidak menutup ruang untuk cerita-cerita ringan: kegemarannya mengoleksi trinket (perhiasan atau pernak-pernik kecil), kehidupan sebagai ilustrator, hingga keresahan-keresahan kecil yang dekat dengan banyak orang.
Kepekaan yang sama juga mendorong Sulkycatz untuk menggunakan karyanya sebagai medium untuk merespons isu sosial dan kemanusiaan, dari Palestina hingga proyek-proyek kolektif yang ia rancang. Ilustrasi menjadi cara baginya untuk tetap bersuara tanpa kehilangan kehangatan. Salah satu proyek terbarunya yakni saat bencana banjir melanda Sumatera bertajuk Doodle Donation yang digelar oleh platform milik Sulkycatz lainnya, dooodleeeng. Ia tak berhenti pada rasa sedih semata. Ia memilih mengubah empati itu menjadi tindakan kolektif lewat karya dan penggalangan dana.
Bahkan dalam konteks spiritual, Ida menjadikan karyanya sebagai medium refleksi. Ia kerap mengangkat pesan-pesan Islam yang ia terjemahkan ke bahasa visual dan bahasa yang lebih universal. Di tangannya, warna-warna cerah menjadi jembatan agar pesan yang berat bisa hadir dengan cara lebih ramah.
3. Perasaan dan emosi menjadi starting point Ida dalam berkarya

Bagi Sulkycatz, perasaan bukan sekadar bagian dari proses kreatif. Itu adalah titik awal dari hampir seluruh karyanya. Ia menyadari bahwa apa pun yang ia buat, kerap berangkat dari emosi yang sedang ia rasakan. Sebagai seseorang yang sangat mengandalkan feeling, Sulkycatz justru menemukan ruang aman ketika emosi itu tidak dipendam, melainkan dialirkan ke dalam ilustrasi.
"Menurut aku, feeling atau emotion itu penting banget. Kebetulan MBTI aku F, jadi feeling-nya cukup besar. Aku masih mengutamakan feeling, walaupun kadang aku bisa overwhelmed dengan perasaan yang lagi aku rasakan," katanya.
Perasaan yang hadir, baik sedih, gelisah, maupun empati, gak berhenti sebagai emosi semata. Sulkycatz memilih mengolahnya menjadi sesuatu yang bergerak. Saat melihat banjir di Sumatera, misalnya. Ia merasa tidak cukup hanya ikut larut dalam kesedihan. Ada dorongan untuk mengubah perasaan itu menjadi aksi, lalu menjelma pesan visual yang bisa dibagikan dan dirasakan bersama.
"Aku ngerasa gak bisa cuma sedih aja. Aku perlu membawa itu ke action. Jadi, perannya di karya itu dari feelings, lalu jadi pesan, dan dari pesan jadi karya visual," tambahnya.
4. Dari gerakan individu menjadi kolektif

Siapa sangka keresahan yang sangat personal justru menjadi awal dari sebuah gerakan kolektif? Sejak akhir tahun 2025, Sulkycatz tengah membangun platform baru, dooodleeeng. Dooodleeeng (Art x Language Club) lahir bukan dari ambisi besar untuk membangun komunitas, tapi dari kebutuhan Sulkycatz akan kehadiran manusia lain di sekitarnya. Sebagai freelance illustrator, hari-harinya banyak dihabiskan sendirian.
"Aku kan freelance, jadi sehari-hari gak ketemu banyak orang, paling ketemunya online meeting aja. Terus aku ngerasa kayak, 'Kayaknya aku butuh deh berinteraksi langsung sama manusia.'"
Awalnya, keinginan itu sangat sederhana. Sulkycatz hanya ingin punya teman untuk menggambar atau bekerja bersama. Ia bahkan tak membayangkan skalanya akan besar. Empat atau lima orang sudah terasa cukup. Namun, ketika gagasan itu dibagikan, respons yang datang justru melampaui ekspektasi.
"Dulu tuh niatnya cuma nyari empat sampai lima orang aja, mungkin dua minggu sekali atau sebulan sekali hangout bareng. Tapi ternyata setelah dirilis, responsnya gede banget," tuturnya.
Dari pertemuan kecil yang diniatkan sebagai ruang aman untuk saling terhubung, dooodleeeng perlahan tumbuh menjadi komunitas dengan ratusan anggota. Kini, ruang itu tidak hanya hidup secara luring, tetapi juga daring. Komunitas ini membuka kemungkinan baru bagi lebih banyak orang untuk bertemu, belajar, dan berbagi.
5. Seni sebagai aksi
Apa yang dilakukan Sulkycatz belakangan ini, menunjukkan bahwa baginya, seni tidak berhenti sebagai medium ekspresi. Seni bisa bergerak lebih jauh menjadi aksi. Dorongan untuk speak up selalu kembali ke titik yang sama, yakni perasaan. Ketika banjir melanda Sumatera, yang pertama hadir bukan strategi atau rencana besar, tapi empati yang penuh dan sulit diabaikan.
Kesadaran bahwa ia memiliki ruang dan audiens di media sosial, membuat Sulkycatz memilih untuk tidak diam. Baginya, platform bukan sekadar tempat berbagi karya, tapi juga tanggung jawab. Dari sana, Sulkycatz juga mulai membangun platform lainnya bernama Drawn Resistance.
"Aku juga bikin platform atau project baru bernama Drawn Resistance, yang ke depannya aku pengen pakai untuk speak up lagi dan mengangkat tema-tema positif," ujarnya.
Di tengah kondisi sosial dan politik yang tidak selalu ramah, Sulkycatz percaya ilustrator dan seniman punya posisi yang penting. Di era ketika hoaks dan propaganda mudah menyebar, karya justru bisa menjadi penyeimbang. Karya bisa menjadi medium untuk menyebarkan nilai baik dengan cara yang sama cepatnya. Baginya, suara kolektif yang disuarakan lewat visual memiliki daya yang tidak bisa diremehkan.
"Aku sangat berharap kita para seniman atau ilustrator bisa menyadari kalau kita punya power yang sangat besar akan kondisi sosial dan politik sekarang. Media sosial bisa dengan mudah diisi dengan berita-berita hoax atau propaganda dari siapa pun, begitupun dengan sebaliknya dengan ajakan-ajakan baik/awareness akan realita yang ada. Kita bisa meramaikan media sosial dengan karya kita yang kita gunakan untuk bersuara, selama kita masih diberikan kesempatan untuk itu," tambahnya.
Uniknya, ilustrator ini juga menyampaikan bahwa karya-karya yang ia hasilkan merupakan manifestasi diri. Sulkycatz mengatakan bahwa ia ingin menjadi pribadi yang lebih berwarna bak karya yang selama ini hasilkan. Dengan kata lain, bagi Sulkycatz, ilustrasi bukan hanya sekadar visual. Ilustrasi kian menjelma menjadi ruang pribadinya untuk merespons perkara-perkara di dunia hingga merawat perasaan dan manifestasi diri sendiri.



















