Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Realita yang Membuat Perempuan Memilih Jadi PRT Demi Bertahan Hidup
ilustrasi seorang pekerja rumah tangga (pexels.com/Antonius Ferret)
  • Banyak perempuan memilih menjadi PRT karena keterbatasan pendidikan dan minimnya akses kerja, menjadikannya satu-satunya peluang realistis tanpa syarat akademik tinggi.
  • Tekanan ekonomi mendesak membuat pekerjaan sebagai PRT jadi solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan hidup, terutama bagi mereka yang harus segera memperoleh penghasilan.
  • Bagi sebagian perempuan, profesi PRT adalah bentuk tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga di tengah keterbatasan keterampilan dan sempitnya lapangan kerja di lingkungan sekitar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di balik peran pentingnya dalam menjaga rumah tangga tetap berjalan, profesi Pekerja Rumah Tangga (PRT) sering kali dipandang sebelah mata. Padahal, bagi banyak perempuan, menjadi PRT bukan sekadar pilihan pekerjaan melainkan jalan bertahan di tengah keterbatasan hidup.

Ada cerita panjang yang jarang terdengar. Ada perjuangan yang sering kali tak terlihat. Berikut lima realita yang membuat banyak perempuan memilih menjadi PRT demi melanjutkan hidup.

1. Keterbatasan pendidikan dan akses kerja

ilustrasi membersihkan tempat tidur (pexels.com/Liliana Drew)

Tidak semua perempuan memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Faktor ekonomi, budaya, atau kondisi keluarga sering membuat mereka harus berhenti sekolah lebih awal.

Akibatnya, pilihan pekerjaan menjadi sangat terbatas. Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, profesi PRT menjadi salah satu opsi yang paling memungkinkan untuk dimasuki tanpa syarat pendidikan formal yang tinggi. Bagi mereka, ini bukan tentang cita-cita, tapi tentang peluang yang masih terbuka.

2. Tekanan ekonomi yang mendesak

ilustrasi tidak memiliki pemasukkan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kebutuhan hidup tidak bisa menunggu. Biaya makan, tempat tinggal, pendidikan anak, hingga kebutuhan sehari-hari menuntut penghasilan yang stabil.

Dalam kondisi terdesak, menjadi PRT sering menjadi solusi tercepat karena tidak memerlukan proses rekrutmen yang rumit. Bahkan, beberapa bisa langsung bekerja dalam waktu singkat. Pilihan ini diambil bukan karena mudah, tapi karena harus segera menghasilkan.

3. Tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga

ilustrasi menghidupi keluarga (pexels.com/Анастасия Триббиани)

Banyak perempuan yang menjadi PRT adalah penopang utama keluarga. Entah karena pasangan tidak bekerja, telah meninggal, atau kondisi keluarga yang tidak memungkinkan.

Peran ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengurus keluarga membuat mereka harus memilih pekerjaan yang fleksibel dan bisa diandalkan. Meski berat, mereka tetap melangkah karena ada orang-orang yang bergantung pada mereka.

4. Minimnya keterampilan khusus

ilustrasi sedang menyetrika (pexels.com/Liliana Drew)

Di dunia kerja modern, keterampilan teknis sering menjadi syarat utama. Namun, tidak semua perempuan memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan atau kursus.

Pekerjaan sebagai PRT dinilai lebih “ramah masuk” karena keterampilan dasarnya adalah pekerjaan rumah tangga yang sudah akrab dilakukan sehari-hari. Meskipun begitu, pekerjaan ini tetap membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan ketahanan fisik yang tidak sedikit.

5. Keterbatasan pilihan di lingkungan sekitar

ilustrasi akan merantau (pexels.com/Vlada Karpovich)

Lingkungan tempat tinggal juga sangat memengaruhi pilihan pekerjaan. Di beberapa daerah, lapangan kerja formal sangat terbatas, terutama bagi perempuan.

Menjadi PRT, baik di dalam kota maupun merantau ke daerah lain, sering kali menjadi satu-satunya peluang realistis untuk mendapatkan penghasilan. Ini bukan tentang keinginan semata, tetapi tentang opsi yang paling memungkinkan untuk bertahan hidup.

Menjadi PRT adalah pekerjaan yang penuh tantangan, namun juga penuh keteguhan. Di balik setiap tugas yang dilakukan, ada cerita tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan kekuatan untuk terus berjalan.

Sudah saatnya kita melihat profesi ini dengan lebih adil bukan dengan stigma, tapi dengan empati dan penghargaan. Karena bagi banyak perempuan, menjadi PRT bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk perjuangan untuk hidup yang lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team