Ilustrasi seorang ibu rumah tangga (pexels.com/Helena Lopes)
Di sisi lain, ada pekerjaan yang tidak punya jam mulai dan jam selesai. Tak juga punya slip gaji, review tahunan, bahkan hari libur resmi. Ia hanya ada dan hadir, setiap hari, berulang.
Itulah yang dijalani perempuan yang memilih, atau memang harus, mengurus rumah dan keluarga sepenuhnya.
Bangun pagi, menyiapkan sarapan, membereskan rumah yang akan berantakan lagi dalam hitungan jam. Lalu menyiapkan kebutuhan anak dan suami, memasak, mencuci, merapikan. Kemudian malam tiba dan semua dimulai lagi besok.
Invisible labor, begitu para ahli menyebutnya. Kerja yang hampir tak terlihat, tak diakui, dan hampir tak pernah dihitung sebagai 'kerja' sama sekali. Padahal di balik rumah yang berjalan rapi, ada tenaga, waktu, dan keterampilan yang menopang bukan hanya keluarga, tapi juga perekonomian secara lebih luas.
Padahal menurut ILO dalam Unpaid Care and Domestic Work: Counting the Costs (2022),
"Kerja domestik dan perawatan tak berbayar, seperti memasak, membersihkan rumah, dan mengasuh anak, memiliki nilai ekonomi yang diperkirakan setara dengan 10 hingga 39 persen PDB suatu negara jika dihitung sebagai aktivitas kerja formal."
Namun yang kerap terjadi di permukaan justru sebaliknya, perempuan yang mengurus rumah dianggap tidak melakukan apa-apa. Santai saja di rumah. Enak, katanya, tidak perlu kerja.
Kalimat-kalimat itu bukan fiksi semata. Ia hidup di obrolan masyarakat, kolom komentar, bahkan kadang di meja makan keluarga sendiri. Tak habis sampai situ, di balik semua itu, ada mental load yang jarang dibicarakan. Sebut saja, beban kognitif yang tidak kasat mata. Misalnya, menjadi pusat dari seluruh logistik keluarga yang bergerak setiap hari, tanpa ada yang memintanya secara eksplisit, tapi entah sejak kapan sudah menjadi tugasnya.
Lelah yang tak punya nama dan jarang benar-benar diakui.