Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Realitas Menjadi Perempuan, Ladang Ekspektasi yang Tak Kunjung Usai
Ilustrasi perempuan self-love (pexels.com/Thirdman)
  • Perempuan menghadapi ekspektasi sosial berlapis, baik yang bekerja di luar rumah maupun yang fokus mengurus domestik, keduanya tetap dituntut membuktikan diri tanpa henti.
  • Pekerjaan domestik sering tak diakui sebagai kerja bernilai ekonomi, padahal kontribusinya besar terhadap keluarga dan perekonomian, menciptakan beban fisik serta mental yang jarang terlihat.
  • Artikel menyoroti pentingnya solidaritas antarperempuan untuk menghentikan saling penghakiman dan menuntut sistem yang lebih adil bagi semua pilihan hidup perempuan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi perempuan, dalam banyak hal, adalah hidup di tengah ekspektasi yang tidak pernah benar-benar selesai meminta. Barangkali terdengar hiperbola, namun begitulah adanya. Apa-apa saja yang dipilih perempuan selalu menyisakan ruang untuk dipertanyakan. Ia yang bekerja di luar rumah, dunia bertanya soal anak dan suaminya. Sementara ia yang memilih tinggal di rumah, dunia akan pertanyakan perilah produktivitasnya.

Dua jalan yang sama-sama dijalani dengan sepenuh tenaga, namun keduanya tetap tidak cukup luput dari penghakiman. Seolah menjadi perempuan adalah seni memenuhi standar sosial yang selalu bergeser. Barangkali itu yang membuatku, kita, dan semua perempuan di dunia kerap dihantui pertanyaan:

Berapa harga yang harus perempuan bayar untuk sekadar memperjuangkan hidupnya?

1. Dinamika ekspektasi terhadap perempuan yang bekerja

ilustrasi perempuan tersenyum (pexels.com/Jeff Vinluan)

Ada perempuan yang bangun pagi, menyiapkan sarapan, mengantar anak, lalu duduk di depan layar atau pergi ke kantor. Sedikit yang kita tahu: hari kerjanya baru saja dimulai. Beralih menengok kondisi di luar rumah, ia menanggung tekanan yang tidak kecil. Ada target yang harus dipenuhi, ekspektasi profesional, dan karier yang terus-menerus harus didayung. Di ruang-ruang sepi, pembuktian itu terasa dua kali lebih berat. Karena ia adalah perempuan, adalah seorang ibu, adalah seorang istri, ada yang mungkin mempertanyakan: apakah pekerjaannya tak mengganggu keluarganya?

Lalu sepulangnya ke rumah, pekerjaannya tentu belum selesai.

Masih ada makan malam yang harus disiapkan, anak yang perlu diperhatikan, dan rumah yang perlu diurus. Itu semua menerpa tubuh yang sama, barangkali itu juga yang kemudian kita sebut sebagai double burden, beban ganda yang sudah begitu lama dinormalisasi sampai hampir tidak terasa aneh lagi.

Sebagaimana yang dicatat dalam Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Universitas Indonesia bertajuk 'Peluang Wanita Bekerja Keluar dari Pasar Tenaga Kerja Setelah Menikah',

"Peluang wanita bekerja untuk berhenti bekerja setelah menikah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peluangnya untuk tetap bekerja. Temuan ini mengungkap permasalahan penting dalam upaya untuk meningkatkan TPAK wanita di Indonesia."

Bukan, bukan karena tidak mampu, apalagi tak mau. Tapi karena sistem yang ada tak cukup ramah untuk menampung keduanya sekaligus. Menjadi perempuan yang bekerja, namun juga harus menjadi ibu yang selalu hadir.

Tak jarang kemudian perempuan dipaksa untuk memilih, dipaksa untuk mengorbankan salah satunya.

2. Stigma sosial yang tak luput bagi perempuan yang mengurus domestik

Ilustrasi seorang ibu rumah tangga (pexels.com/Helena Lopes)

Di sisi lain, ada pekerjaan yang tidak punya jam mulai dan jam selesai. Tak juga punya slip gaji, review tahunan, bahkan hari libur resmi. Ia hanya ada dan hadir, setiap hari, berulang.

Itulah yang dijalani perempuan yang memilih, atau memang harus, mengurus rumah dan keluarga sepenuhnya.

Bangun pagi, menyiapkan sarapan, membereskan rumah yang akan berantakan lagi dalam hitungan jam. Lalu menyiapkan kebutuhan anak dan suami, memasak, mencuci, merapikan. Kemudian malam tiba dan semua dimulai lagi besok.

Invisible labor, begitu para ahli menyebutnya. Kerja yang hampir tak terlihat, tak diakui, dan hampir tak pernah dihitung sebagai 'kerja' sama sekali. Padahal di balik rumah yang berjalan rapi, ada tenaga, waktu, dan keterampilan yang menopang bukan hanya keluarga, tapi juga perekonomian secara lebih luas.

Padahal menurut ILO dalam Unpaid Care and Domestic Work: Counting the Costs (2022),

"Kerja domestik dan perawatan tak berbayar, seperti memasak, membersihkan rumah, dan mengasuh anak, memiliki nilai ekonomi yang diperkirakan setara dengan 10 hingga 39 persen PDB suatu negara jika dihitung sebagai aktivitas kerja formal."

Namun yang kerap terjadi di permukaan justru sebaliknya, perempuan yang mengurus rumah dianggap tidak melakukan apa-apa. Santai saja di rumah. Enak, katanya, tidak perlu kerja.

Kalimat-kalimat itu bukan fiksi semata. Ia hidup di obrolan masyarakat, kolom komentar, bahkan kadang di meja makan keluarga sendiri. Tak habis sampai situ, di balik semua itu, ada mental load yang jarang dibicarakan. Sebut saja, beban kognitif yang tidak kasat mata. Misalnya, menjadi pusat dari seluruh logistik keluarga yang bergerak setiap hari, tanpa ada yang memintanya secara eksplisit, tapi entah sejak kapan sudah menjadi tugasnya.

Lelah yang tak punya nama dan jarang benar-benar diakui.

3. Berbeda peran dan jalan, namun terpaut kelelahan yang sama

ilustrasi ibu rumah tangga (freepik.com/senivpetro)

Dalam satu bingkai, ada perempuan yang bekerja di luar rumah dan pulang ke rumah untuk bekerja lagi. Di bingkai lain, ada perempuan yang bekerja di dalam rumah dan tidak pernah benar-benar pulang. Karena, mungkin, rumah itu sendiri adalah tempatnya bekerja.

Dua bingkai yang berbeda, tapi ada satu benang yang sama yang mereka pikul: keduanya sama-sama bekerja keras. Lalu keduanya, masih harus membuktikan apa yang mereka lakukan itu cukup.

Barangkali, di sinilah letak salah kaprahnya.

Selama ini, 'kerja' dimaknai terlalu sempit. Seolah hanya sah jika ada kontrak, ada gaji, kantor yang dituju setiap pagi. Padahal, kerja adalah segala sesuatu yang membutuhkan tenaga, waktu, dan pikiran. Dalam pengertian itu, tidak ada perempuan, baik yang bekerja di luar maupun di dalam rumah, yang tidak bekerja. Hal yang berbeda hanya bentuknya, bukan beratnya.

Ibu yang berangkat kerja setiap pagi sambil menyiapkan bekal anak dan ibu yang menghabiskan harinya memastikan rumah serta keluarga berjalan. Keduanya sedang menjalani sesuatu yang tidak mudah. Keduanya juga menanggung ekspektasi yang tidak pernah benar-benar selesai meminta. Lalu keduanya, pada titik tertentu, pasti pernah bertanya dalam diam: apa yang aku lakukan ini sudah cukup?

Jawabannya seharusnya selalu: sudah. Sudah lebih dari cukup. Bukan keraguan atau pertanyaan yang menyudutkan.

4. Sesama perempuan sudah seharusnya saling melihat, bukan menyikut

Ilustrasi perempuan di stasiun kereta (unsplash.com/Photo by Philipp Hubert)

Di antara semua beban yang sudah dipikul perempuan, ada satu yang seharusnya tidak perlu ada, penghakiman dari sesama perempuan. Ibu pekerja dianggap egois karena menitipkan anak. Ibu rumahan dianggap tidak produktif karena tidak menghasilkan uang. Dua narasi yang sama-sama melelahkan, tidak adil, dan tidak menyelesaikan apa pun.

Fenomena ini bukan baru. Mungkin sering kali disebut sebagai mommy wars, perdebatan panjang antara ibu yang bekerja dan ibu yang di rumah, sudah berlangsung lama, dan belakangan kembali memanas. Setiap kali ada kejadian yang melibatkan anak dan pengasuhan, selalu ada yang bergegas menggunakannya sebagai amunisi untuk menyerang pilihan ibu yang lain.

Seolah ada satu cara yang benar untuk menjadi ibu atau menjadi perempuan, dan pilihan yang satu selalu lebih mulia dari yang lain. Padahal, tidak ada ibu yang bangun pagi dan memilih untuk tidak mencintai anaknya. Tidak ada ibu yang bekerja di luar rumah karena ingin meninggalkan anaknya. Tidak ada ibu yang di rumah karena malas menghadapi dunia. Setiap pilihan lahir dari kondisi, keterbatasan, dan pertimbangan yang tidak selalu bisa dilihat dari luar.

Dari situs resmi Kemnaker, disebutkan bahwa,

"Peran ganda perempuan merupakan masalah yang sering dihadapi perempuan karier. Perempuan sering kali harus memilih antara tidak menikah dan sukses berkarier, atau menikah dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Pada hakikatnya, permasalahan peran ganda perempuan bukan pada peran itu sendiri, melainkan adalah konflik pertentangan yang berakibat tekanan pada lingkungan keluarga dan pekerjaan."

Artinya, yang perlu dipertanyakan bukan semata-mata berporos pada pilihannya. Melainkan sistem yang membuat perempuan harus memilih dan kerap kali malah dihakimi atas pilihan itu. Ketika sesama perempuan saling menyikut, yang diuntungkan bukan salah satunya. Sejatinya, yang diuntungkan adalah sistem yang sejak awal memang tidak dirancang untuk memihak keduanya, tak pernah memihak perempuan.

5. Semua fenomena ini menjelma menjadi satu gerakan: satu ibu tersakiti, semua ibu merasakannya

ilustrasi ibu mertua (freepik.com/pressfoto)

Belakangan, percakapan soal 'menjadi perempuan' kembali ramai, pemantiknya adalah kasus kekerasan di daycare. Sebut saja untuk kasus daycare, banyak ibu dan orangtua yang merasa gentar. Wajar jika mereka marah, takut, bahkan berdua. Namun di tengah kemarahan itu, muncul suara-suara lain yang memilih untuk menyudutkan, 'Makanya jangan titip anak ke orang lain!'

Seolah tragedi itu adalah bukti bahwa pilihan si ibu salah. Seolah yang perlu dipertanyakan adalah ibunya, bukan sistemnya. Tentu saja, tidak ada orangtua yang mempertaruhkan keamanan anaknya dengan ringan hati. Mungkin yang seharusnya digugat bukan sang ibu, melainkan minimnya regulasi, terbatasnya akses, dan absennya peran negara untuk memastikan setiap anak yang dititipkan berada di tempat yang aman. Begitu juga dengan sistem yang tak cukup hadir untuk menopang perempuan yang bekerja, sekaligus tidak cukup menghargai perempuan yang di rumah.

Di sisi lain, peristiwa tersebut menghadirkan banyak cuitan yang juga saling mengirimkan warm hugs untuk para ibu. Karena di balik peristiwa itu, kita tahu, ada seorang ibu, ada seorang perempuan, yang tengah memperjuangkan hidupnya, keluarganya, anaknya, masa depannya.

Dan di sinilah letak kuatnya percakapan ini. Bukan hanya pada kemarahan, tapi pada pengakuan. Bahwa menjadi perempuan, menjadi ibu, bukan perkara sederhana yang bisa diselesaikan dengan satu pilihan yang 'benar.' Setiap ibu yang bekerja sedang berjuang. Setiap ibu yang memilih di rumah pun sedang berjuang. Dua jalan yang berbeda, tapi beban yang sama beratnya dan keduanya sama-sama layak untuk dihargai, bukan diberikan label atau stigma tertentu.

Maka ketika satu ibu tersakiti dan ribuan perempuan lain ikut merasakannya, itu bukan berlebihan. Pada akhirnya, itu adalah tanda bahwa selama ini mereka menanggung rasa yang sama dalam diam, rasa lelah yang tidak pernah benar-benar ditanya, rasa bersalah yang tidak seharusnya mereka pikul sendiri.

Sudah waktunya kita, sesama perempuan, sesama ibu, melontarkan banyak cinta dan kasih. Sudah waktunya percakapan yang saling menghakimi perempuan itu berhenti. Karena sejatinya, semua perempuan berhak memilih dan berjuang di jalannya masing-masing, tanpa perlu ada harga yang dibayar.

Editorial Team

Related Article