Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tanda Awal KDRT yang Perlu Diperhatikan Menurut Ahli, Hati-hati!

5 Tanda Awal KDRT yang Perlu Diperhatikan Menurut Ahli, Hati-hati!
ilustrasi seseorang melakukan KDRT (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) mencerminkan ketimpangan gender dan struktur patriarki yang mendominasi.
  • Tanda-tanda awal KDRT termasuk perilaku mengendalikan pasangan, pelecehan verbal, isolasi, dan manipulasi emosional.
  • Korban seringkali tidak sadar atau takut melaporkan kekerasan yang mereka alami, sehingga perlu adanya dukungan dan pendidikan lebih lanjut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) sering dianggap sebagai persoalan personal. Padahal, secara mendasar kasus ini mencerminkan ketimpangan gender yang masih kuat di masyarakat. Kekerasan ini bukan hanya soal dinamika internal keluarga, tapi juga terkait dengan kekerasan sistemik yang berakar pada ketidakadilan gender dan struktur patriarki yang mendominasi.

Sebagaimana dijelaskan oleh Professor Sharyn Davies, Direktur Herb Feith Indonesia Engagement Centre, "Femisida sering kali disalahartikan sebagai kejahatan individu, dibingkai dalam konteks kekerasan dalam rumah tangga atau kecemburuan, yang mengaburkan akar sistemiknya dalam ketidaksetaraan gender dan struktur kekuasaan patriarki," terangnya dalam wawancara tertulis dengan IDN Times pada Selasa (15/10/2024).

Sharyn menekankan, bahwa KDRT adalah bentuk nyata dari femisida yang terjadi di ranah publik, bukan sekadar urusan privat. Namun, masalah KDRT sering kali terjadi bukan hanya karena pemahaman yang keliru mengenai di mana ranah masalah ini seharusnya diatasi, tetapi juga karena tanda-tanda awal yang kerap diabaikan.

Untuk itu, Professor Sharyn membagikan tanda-tanda awal KDRT yang perlu diketahui agar dapat menekan angka kasus femisida yang kian terjadi. Apa saja itu? Yuk, cari tahu!

1. Perilaku mengendalikan

Ilustrasi pasangan yang sedang berargumen (pexels.com/Timur Weber)
Ilustrasi pasangan yang sedang berargumen (pexels.com/Timur Weber)

Tanda pertama yang sering kali menjadi indikasi awal KDRT adalah perilaku mengendalikan yang ditunjukkan oleh pasangan. Perilaku ini bisa terlihat dalam berbagai bentuk, mulai dari pasangan yang mengatur cara berpakaian, memilih dengan siapa kamu boleh bergaul, hingga mencoba mengontrol setiap aspek kehidupan sehari-hari.

Pada awalnya, mungkin terlihat seperti perhatian atau kepedulian yang berlebihan, tetapi jika dibiarkan, hal ini dapat berkembang menjadi upaya untuk mengisolasi dan mengendalikan.

Menurut Sean Blackburn, peneliti dengan pengalaman di bidang sosiologi, penelitian lapangan, dan analisis data Queens College dikutip Very Well Mind, berikut adalah beberapa contoh kontrol berlebihan yang kerap menjadi tanda awal terjadinya KDRT:

  • Meminta izin untuk pergi ke mana pun atau untuk bertemu dan bersosialisasi dengan orang lain.
  • Panggilan, SMS, atau pelacakan terus-menerus oleh pasangan mereka yang ingin tahu di mana mereka berada, apa yang mereka lakukan, dan dengan siapa mereka bersama.
  • Hanya memiliki sedikit uang yang tersedia untuk mereka, tidak memiliki akses ke kartu kredit, atau harus mempertanggungjawabkan setiap uang yang dibelanjakan.
  • Tidak memiliki akses ke kendaraan.
  • Menyebut pasangannya sebagai “pencemburu” atau “posesif”, atau selalu menuduh mereka berselingkuh.

Dari tanda-tanda di atas, ia pun menegaskan bahwa tindakan ini adalah bentuk manipulasi yang bertujuan melemahkan kemandirian dan kepercayaan diri korban, sehingga korban merasa bergantung pada pelaku.

2. Manipulasi secara emosi

ilustrasi manipulasi terselubung (pexels.com/Alena Darmel)
ilustrasi manipulasi terselubung (pexels.com/Alena Darmel)

Kekerasan dalam rumah tangga tentu saja dapat menimbulkan dampak emosional yang serius, menciptakan rasa tidak berdaya, putus asa, atau depresi. Hal ini bahkan dapat menyebabkan orang percaya, bahwa mereka tidak akan pernah lepas dari kendali pelaku kekerasan. 

Di sisi lain, korban juga dapat dimanipulasi emosinya, membuat korban merasa bahwa dirinya merupakan pihak yang harus disalahkan. Siksaan ini juga melibatkan pengendalian orang lain dengan menggunakan emosi untuk mengkritik, mempermalukan, menyalahkan, atau memanipulasi mereka.

"Tujuan utama dari manipulasi emosional adalah untuk mengendalikan orang lain dengan mendiskreditkan, mengisolasi, dan membungkam mereka. Ini adalah salah satu bentuk kekerasan yang paling sulit dikenali karena dapat dilakukan secara halus dan berbahaya. Tetapi bisa juga secara terang-terangan dan manipulatif," tutur Sherri Gordon, CLC,  seorang penulis yang telah menerbitkan buku, pelatih kehidupan profesional bersertifikat, dan pakar pencegahan bullying dilansir Very Well Mind.  

3. Pelecehan verbal

ilustrasi pelecehan verbal  (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi pelecehan verbal (pexels.com/cottonbro studio)

Pelecehan verbal sering kali menjadi bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang diabaikan atau dianggap sepele. Banyak korban tidak menyadari bahwa hinaan, ejekan, atau kata-kata merendahkan yang mereka terima merupakan bagian dari kekerasan verbal yang bisa berdampak besar pada kesejahteraan mental mereka.

Menurut data dari Australian Bureau of Statistics, hanya 18,9 persen perempuan yang mengalami kekerasan oleh pasangan dalam setahun terakhir yang melaporkan insiden tersebut kepada polisi. Ini menunjukkan, bahwa sebagian besar korban memilih untuk tetap diam, mungkin karena ketergantungan emosional, rasa takut terhadap pelaku, atau kekhawatiran akan stigma sosial yang sering kali menyalahkan korban.

Hal tersebut juga menunjukkan, bahwa mayoritas korban masih enggan atau takut untuk melaporkan kekerasan yang mereka alami, baik karena ketergantungan emosional, tekanan dari pelaku, atau ketakutan akan stigma sosial.

Padahal, langkah pertama untuk keluar dari siklus kekerasan adalah dengan mengakui dan melaporkan adanya tindak kekerasan atau pelecehan, sehingga korban bisa mendapatkan dukungan yang diperlukan. 

“Kita perlu mengubah stigma seputar kekerasan dalam rumah tangga dan menaruh rasa malu pada pelaku, bukan pada korban,” ungkap Professor Sharyn Davies. 

4. Isolasi dari jaringan pendukung

ilustrasi manipulasi terselubung (pexels.com/Alena Darmel)
ilustrasi manipulasi terselubung (pexels.com/Alena Darmel)

Isolasi, di mana pelaku kekerasan perlahan-lahan memutuskan semua hubungan emosional kecuali hubungan dengan korban, adalah salah satu tanda awal kekerasan emosional dan/atau fisik. Sayangnya, hal ini sangat efektif, halus, dan sulit untuk dideteksi.

Salah satu cara yang kerap dilakukan oleh pelaku ialah bagaimana mereka membuatmu merasa bersalah karena kamu senang menghabiskan waktu dengan teman lain, misalnya, menyiratkan bahwa menghabiskan waktu dengan teman lain itu salah. 

Bukan hanya di lingkup teman, pelaku juga dapat menekan atau mengisolasi dirimu dari lingkup keluarga, menjauhkanmu dari support system yang dimanipulasi oleh pelaku seakan-akan keluargamu terlalu sering menghabiskan waktu denganmu.  

"Padahal, keluarga memainkan peran penting dalam mendukung korban kekerasan dalam rumah tangga dengan memberikan dukungan emosional, fisik, dan finansial, mendorong mereka untuk mencari bantuan, dan menciptakan lingkungan yang aman, yang dapat menjadi sangat penting dalam mencegah pembunuhan perempuan," ucap Professor Sharyn Davies.

5. Meningkatnya ancaman atau agresi fisik

Ilustrasi pasangan sedang bertengkar (pexels.com/Keira Burton)
Ilustrasi pasangan sedang bertengkar (pexels.com/Keira Burton)

Tanda terakhir ini sering kali menjadi sinyal yang paling jelas dari perilaku KDRT, namun justru sering terlambat disadari oleh korban atau orang-orang di sekitarnya. Ketika kekerasan sudah mencapai tahap ini, korban mungkin sudah mengalami trauma fisik atau psikologis yang mendalam, terutama bagi anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan.

Menghadapi hal ini, sangat penting bagi kita untuk meningkatkan kesadaran tentang tanda-tanda KDRT sebelum keadaan semakin parah. Salah satu cara yang efektif adalah dengan mendorong diskusi terbuka dalam keluarga dan komunitas, membahas secara jujur tentang konsekuensi jangka panjang dari kekerasan dalam rumah tangga.

"Kita dapat meningkatkan kesadaran dalam keluarga tentang dampak jangka panjang kekerasan dalam rumah tangga dengan mendorong diskusi terbuka, memberikan pendidikan tentang konsekuensi psikologis dan fisik, dan berbagi sumber daya yang menyoroti potensi meningkatnya bahaya, termasuk risiko pembunuhan perempuan, terutama bagi perempuan dan anak-anak," tutup Professor Sharyn.

Dengan memberikan pendidikan yang lebih mendalam, kita pun dapat membantu membuka mata keluarga dan masyarakat terhadap bahaya KDRT, serta mendorong lebih banyak orang untuk berperan aktif dalam mencegah kekerasan ini terjadi. Menyediakan ruang bagi korban untuk berbicara dan meminta bantuan juga merupakan langkah vital dalam melindungi mereka dari dampak jangka panjang kekerasan yang merusak.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
Hani Safanja
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us