20 Tahun Wake the Dead: Ledakan Emosi Hardcore ala Comeback Kid

- Comeback Kid merayakan 20 tahun "Wake the Dead" dalam konser intim di Zoo SCBD, Jakarta.
- Sebanyak 500 penonton dari lintas generasi menikmati energi liar dan ledakan emosi hardcore dari Comeback Kid.
- Band asal Kanada itu membuktikan relevansi dengan eksperimentalisme musik dan tampil tanpa gimmick teatrikal.
Dua dekade setelah dirilis, "Wake the Dead" kembali menghentak pencinta musik di Jakarta. Album yang menandai era penting dalam sejarah hardcore modern itu dirayakan secara penuh oleh sang empunya, Comeback Kid, dalam sebuah konser intim namun intens di Zoo SCBD, Jakarta, Selasa (27/1/2026) yang dipromotori oleh Ageless Galaxy.
Saat petang menghampiri, Zoo perlahan bergetar dari dalam perutnya sendiri. Sekitar 500 lebih penonton sudah berdiri rapat menunggu idolanya mentas dalam perayaan dua dekade album "Wake the Dead." Sebagian mengobrol dan beberapa menghisap rokok guna mengusir penat sambil menantikan Comeback Kid unjuk gigi.
Wajah-wajah lintas generasi semringah menanti dengan memoar masing-masing dari album ikonik itu. Tidak ada jarak usia yang kentara. Semua berdiri setara, menunggu album yang telah menjadi semacam kompas emosional bagi banyak orang.
Bagi sebagian penonton, malam itu adalah pertemuan ulang dengan musik yang menemani masa muda. Tak sedikit yang mengaku sudah menyaksikan Comeback Kid beberapa kali di tanah air, yakni saat mentas di Stardust Cafe Sarinah pada 2008 silam dan saat Hammersonic 2022.

Namun, tak sedikit pula muka-muka belia yang hadir langsung, penikmat "Wake the Dead" yang tumbuh belakangan namun menganggap karya itu sebagai kitab wajib.
Sebelum unit hardcore asal Kanada itu tampil, penonton kompak menikmati sajian musik dari jagoan lokal yang turut naik panggung, mulai dari Outrage, Alone at Last, Modern Gun, hingga Final Attack.
Ketika pukul 21.30 WIB, seluruh venue memerah oleh efek lampu yang berpendar, diikuti raungan distorsi gitar Jeremy Hiebert dan Stu Ross, menandai intro lagu andalan “False Idols Fall.” Dalam hitungan detik, dentumannya memecah ruang, tubuh-tubuh bergerak spontan membentuk mosh pit tak beraturan.
Setelahnya, sang frontman Andrew Neufeld (vokal) tak berkata apa-apa. Comeback Kid langsung menyambar dengan “My Other Side.” Menggedor ritme, lagu ini membawa energi liar yang membuat Zoo terasa seperti medan perang.
Tanpa jeda, “The Trouble I Love” hadir sebagai peluru selanjutnya. Musik mengalun lebih intens, kepakan jantung massa berubah menjadi gelombang pekik. Penonton terus merangsek bak pasukan dalam moshing. Walau peluh bercucuran, sebagian bergerak melakukan crowd surfing.
Usai Comeback Kid menghentak dengan beberapa lagu, Andrew sempat menyapa penonton untuk mendinginkan suasana.
“Terima kasih,” katanya menggunakan bahasa Indonesia.
"Ketika kami tampil di Hammersonic, jarak kita sangat jauh. Tapi malam ini tidak ada jarak di antaran kita [di Zoo],” lanjut dia, yang menyiratkan preferensinya tampil di venue yang lebih intim.

Dari Nostalgia ke Ledakan Kolektif
Selain tampil intim dengan memainkan hits dari album "Wake the Dead" seperti “Talk Is Cheap,” “Partners in Crime,” “Falling Apart," hingga “Final Goodbye,” Comeback Kid juga menyelipkan beberapa nomor andalan dari album lainnya.
“G.M Vincent” menghadirkan agresi segar. Lagu ini menjadi ledakan daya paling liar malam itu, mengingatkan pada akar hardcore paling mentah. Sementara “Broadcasting” menghadirkan atmosfer yang lebih gelap dan padat, memicu circle pit yang nyaris tak terkendali.
Lagu-lagu tersebut memperlihatkan bagaimana band ini tak sekadar hidup dari nostalgia. Comeback Kid membuktikan enggan kehilangan relevansi, menegaskan sisi eksperimental yang terus berkembang pasca era "Wake the Dead."
Tentunya, hit andalan “Wake the Dead” diibaratkan sebagai sebuah happy ending dari pentas Comeback Kid yang tak terlupakan malam tadi. Hampir semua penonton mengepalkan tangan sambil komat-kamit melafalkan bait-bait lagu pamungkas tersebut.
Jika menilai aksinya kali ini, Comeback Kid tetap tampil seperti biasa, tak mengandalkan gimmick teatrikal, nihil monolog berlapis-lapis, dan tanpa gestur berlebih. Musik menjadi pusat perhatian, mengalir lewat permainan presisi, dibantu cahaya minimalis yang bergerak mengikuti denyut lagu, bukan sebaliknya.
Andrew Neufeld, sang ikon band, menunjukkan penampilan energik sepanjang repertoar. Pria yang juga dikenal juga sebagai pentolan band Sights and Sound itu menyuguhkan tata vokal emosional dan bertenaga sepanjang set; pekiknya terdengar rapi dan stabil.
Dengan karakter lirik tentang perlawanan, solidaritas, refleksi emosional, dan semangat bangkit dari keterpurukan, warna musik band asal Winnipeg, Manitoba, Kanada itu terasa sangat gahar saat dipadukan dengan aransemen personel lainnya.

Dua gitaris Comeback Kid, Jeremy Hiebert dan Stu Ross, merajut lanskap bunyi yang menjadi arsitek utama atmosfer. Riff-riff mereka tajam dan emosional, memadukan chord hardcore yang tegas dengan melodi yang lebih eksperimental.
Permainan gitar itu menghadirkan kilas balik ke era awal milenium, ketika hardcore mulai merangkul sensibilitas melodik tanpa kehilangan daya hantamnya, agresif, mentah, namun tetap terstruktur.
Denyut musik Comeback Kid mencapai intensitas penuh lewat permainan bass Chase Brenneman yang tebal, kering, dan menekan, berpadu dengan gebukan drum Terrance Pettitt yang cepat, lugas, dan bernapas hardcore punk klasik.
Keduanya membangun fondasi ritmis yang kasar namun presisi, menciptakan kekacauan terkontrol yang justru terasa emosional dan agresif.
Hampir belasan repertoar dilontarkan tanpa jeda berarti. Di titik akhir, Comeback Kid meninggalkan kesan mendalam: musik yang emosional, agresif, dan terus hidup, menjalar ke tubuh penonton jauh setelah nada terakhir menghilang.


















