Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Pria Juga Bisa Mengalami Baby Blues? Ini Faktanya!

4 min read
Apakah Pria Juga Bisa Mengalami Baby Blues? Ini Faktanya!
ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Pria juga dapat mengalami postpartum blues setelah kelahiran anak, dipicu perubahan rutinitas, kurang tidur, tekanan finansial, tanggung jawab baru, dan perubahan hubungan dengan pasangan.

  • Gejalanya dapat berupa mudah marah, cemas, menarik diri, kehilangan minat, sulit konsentrasi, serta perubahan tidur atau makan; pola tiap ayah bisa berbeda.

  • Baby blues yang singkat berbeda dari depresi pascapersalinan yang menetap atau mengganggu aktivitas; ayah perlu mencari dukungan dan bantuan profesional bila gejala memburuk.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Istilah baby blues biasanya lebih sering dikaitkan dengan ibu setelah melahirkan. Padahal, perubahan besar setelah kelahiran bayi juga dapat memengaruhi kondisi emosional seorang ayah. Penelitian menunjukkan bahwa pria juga dapat mengalami gejala postpartum blues, meskipun istilah dan kriteria yang digunakan dalam penelitian tentang ayah masih belum seragam.

Kondisi ini penting dibicarakan karena pria sering merasa harus selalu terlihat kuat setelah menjadi seorang ayah. Padahal, kurang tidur, perubahan rutinitas, tekanan finansial, serta tanggung jawab baru dapat menjadi sumber stres. Berikut beberapa fakta tentang baby blues pada pria yang masih jarang diketahui.

  1. 1. Pria juga bisa mengalami perubahan emosi setelah punya anak

    ilustrasi ayah dan anak
    ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/Yan Krukau)

    Kelahiran anak membawa perubahan besar dalam kehidupan seorang pria. Rutinitas tidur dapat berubah, waktu pribadi berkurang, dan tanggung jawab keluarga bertambah secara bersamaan. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian ayah merasa lelah, kewalahan, mudah tersinggung, cemas, atau mengalami perubahan suasana hati.

    Sebuah penelitian terhadap 303 ayah di Prancis menemukan bahwa 17,49 persen peserta menunjukkan gejala postpartum blues berdasarkan ambang skor tertentu yang digunakan peneliti. Namun, angka tersebut tidak bisa dianggap sebagai prevalensi universal karena belum ada satu batas diagnosis yang tervalidasi secara luas untuk postpartum blues pada ayah.

  2. 2. Penyebabnya tidak hanya karena kurang tidur

    ilustrasi pria memakai tisu
    ilustrasi pria memakai tisu (pexels.com/Gustavo Fring)

    Kurang tidur memang dapat menjadi salah satu tantangan terbesar setelah bayi lahir. Namun, tekanan menjadi orang tua baru juga dapat muncul dari persoalan lain seperti kondisi finansial, perubahan hubungan dengan pasangan, kurangnya dukungan sosial, serta rasa tidak percaya diri dalam menjalankan peran sebagai ayah. Beberapa penelitian pada depresi pascapersalinan ayah juga menemukan hubungan dengan stres orang tua dan kualitas hubungan pasangan.

    Perubahan kehidupan yang terjadi secara bersamaan dapat membuat seorang ayah merasa kehilangan kendali atas rutinitasnya. Apalagi jika ia merasa harus langsung mampu mengurus bayi, bekerja, dan tetap mendukung pasangan dalam waktu yang sama. Karena itu, kondisi emosional ayah juga perlu diperhatikan dalam masa transisi menjadi orang tua.

  3. 3. Gejalanya bisa terlihat berbeda pada setiap pria

    ilustrasi pria main sama anak
    ilustrasi pria main sama anak (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Tidak semua pria yang mengalami tekanan setelah kelahiran anak akan menunjukkannya dengan menangis atau terlihat sedih. Sebagian mungkin lebih banyak menunjukkan rasa mudah marah, menarik diri dari keluarga, kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, sulit berkonsentrasi, atau mengalami perubahan pola tidur dan makan. Penelitian tentang depresi pascapersalinan pada pria menunjukkan bahwa gejalanya dapat memiliki pola yang berbeda dibandingkan pada perempuan, meskipun bukti mengenai perbedaan tersebut masih terus berkembang.

    Karena itu, perubahan perilaku yang berlangsung terus-menerus sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai sifat buruk atau sekadar kelelahan. Jika seorang pria tiba-tiba menjadi sangat mudah marah, menarik diri, atau kehilangan minat dalam kehidupan sehari-hari setelah kelahiran anak, kondisi tersebut layak diperhatikan. Terlebih jika perubahan tersebut mulai mengganggu pekerjaan, hubungan dengan pasangan, atau kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.

  4. 4. Baby blues berbeda dengan depresi pascapersalinan

    ilustrasi pria bermain sama anak
    ilustrasi pria bermain sama anak (pexels.com/Josh Willink)

    Baby blues pada dasarnya mengacu pada perubahan suasana hati yang ringan dan berlangsung singkat setelah kelahiran. Pada ibu, kondisi ini umumnya muncul dalam beberapa hari pertama dan dapat membaik dalam waktu sekitar dua minggu. Sementara itu, gejala yang lebih berat atau berlangsung lebih lama dapat mengarah pada depresi pascapersalinan dan membutuhkan perhatian profesional.

    Pada pria, istilah paternal postpartum depression lebih sering digunakan ketika membahas depresi setelah menjadi ayah. Kondisi ini bukan sekadar merasa lelah atau bad mood selama beberapa hari. Jika gejala depresi menetap, semakin berat, atau mengganggu kehidupan sehari-hari, ayah sebaiknya mencari bantuan dari tenaga kesehatan mental atau dokter.

  5. 5. Jangan malu mencari bantuan

    ilustrasi ayah gendong anak
    ilustrasi ayah gendong anak (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Anggapan bahwa pria harus selalu kuat dapat membuat sebagian ayah memilih memendam masalah setelah kelahiran anak. Padahal, meminta bantuan ketika mengalami tekanan emosional bukan berarti gagal menjalankan peran sebagai ayah. Dukungan dari pasangan, keluarga, teman, maupun tenaga profesional dapat membantu seseorang menghadapi perubahan besar tersebut.

    Jika muncul perasaan sedih atau cemas yang menetap, menarik diri dari orang terdekat, kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain, bantuan profesional perlu dicari segera. Depresi pascapersalinan dapat ditangani melalui pendekatan seperti psikoterapi dan, bila diperlukan, pengobatan sesuai penilaian tenaga kesehatan.

    Menjadi ayah merupakan perubahan besar yang tidak hanya berdampak pada rutinitas, tetapi juga kondisi emosional seseorang. Pria memang dapat mengalami postpartum blues dan depresi pascapersalinan, meskipun penelitian mengenai kondisi tersebut pada ayah masih terus berkembang. Karena itu, perubahan emosi setelah kelahiran anak sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai tanda kelemahan.

    Menjaga kesehatan mental ayah juga penting bagi kehidupan keluarga secara keseluruhan. Mengenali perubahan sejak awal, berbicara dengan orang yang dipercaya, dan mencari bantuan ketika diperlukan dapat menjadi langkah yang lebih sehat daripada memendam semuanya sendiri. Dengan dukungan yang tepat, masa transisi menjadi seorang ayah dapat dijalani dengan lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team